Breaking News
dark_mode
Trending

Madinah dan Tangis yang Tak Pernah Usai: Sebuah Catatan Perpisahan

  • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: H. Ahmad Zaini

MADINAH – Setelah menjalani rangkaian Ibadah Arbain, langkah kaki jemaah haji kloter awal asal Probolinggo kini telah meninggalkan pelataran Masjid Nabawi, Jumat lalu. Rombongan bergeser dari Madinah menuju Makkah untuk menunaikan tahapan ibadah haji selanjutnya.

Namun, meski fisik telah bergerak menjauh, ada getaran batin yang masih tertinggal di sudut-sudut kota Nabi.

Sebagai jemaah gelombang pertama di tahun 2026 ini, ingatan saya kembali pada tugas saya sebagai ketua rombongan.

Sebelum momen Ziarah Wada (perpisahan), saya sebenarnya sudah mencoba memprediksi skenarionya. Sebagai pemimpin, kewajiban saya adalah membimbing doa dan memberikan arahan agar suasana batin jemaah tetap terjaga.

Saya tahu betul titik emosionalnya. Yaitu saat harus meninggalkan Madinah Al-Munawwarah dan makam Rasulullah SAW.

Di sanalah awal dari kerinduan yang mendalam akan bermula. Saya sudah berniat mengatur suasana (setting) hati para jemaah agar mereka bisa merasakan kembali syahdunya suasana seolah masih di Raudah.

Namun, saat saya berdiri di depan mereka untuk menyampaikan hal tersebut, rencana itu gagal total. Engko dibi’ tak kuat (saya sendiri tidak kuat). Air mata saya keluar tak terbendung hingga tersedu-sedu (celeghen).

Kata demi kata yang ingin saya ucapkan hanya bisa keluar perlahan, mungkin satu kata setiap lima menit karena saking beratnya menahan gejolak emosi di dada. Bahkan saat ini, setiap kali bercerita tentang Madinah, saya tetap tidak sanggup menahannya.

Wakaf Pertama Rasulullah

Berziarah ke sana mengingatkan betapa luar biasanya perjuangan Rasulullah SAW untuk umatnya, termasuk Masjid Nabawi yang merupakan wakaf dari beliau sendiri.

Jauh sebelum kemegahannya saat ini, sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW menunggangi unta dalam perjalanan menuju Kota Madinah.

Ketika mendengar beliau hendak berkunjung, seluruh umat muslim di kota tersebut berkumpul menyambut dengan antusias. Masyarakat Madinah satu per satu menarik tali kekang pada unta Rasulullah, memohon agar beliau berhenti dan berkenan tinggal di rumah mereka.

Namun, unta tersebut akhirnya berhenti di depan bangunan milik dua anak yatim dari Bani Nijjar, yakni Suhail dan Sahl, yang merupakan tempat menjemur kurma.

Rasulullah SAW memanggil kedua anak yatim tersebut dan menawarkan untuk membeli tanah mereka. Meski kedua anak yatim itu dengan mulia berkata, “Justru kami akan memberikannya kepada Anda wahai Rasulullah SAW,” beliau tidak langsung menerima pemberian tersebut.

Melalui diskusi yang hangat, akhirnya didapati harga yang pantas sebagai kesepakatan untuk menebus tanah yang kini menjadi situs suci tersebut.

Kisah Muadzin Rasulullah

Saya teringat kisah Bilal bin Rabah yang mengalami duka mendalam setelah wafatnya Rasulullah SAW. Kepergian sang Nabi meninggalkan luka yang sulit diobati, terutama bagi Bilal yang setiap hari mengumandangkan azan untuk beliau.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa sejak saat itu, Bilal tidak lagi sanggup mengumandangkan azan di Madinah. Setiap kali sampai pada lafaz “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, ia akan tersungkur dan tak kuasa menahan tangis.

Kesedihan itu membawa Bilal memutuskan pindah ke Syam. Hingga suatu ketika, saat ia kembali mengunjungi Madinah karena kerinduan, cucu Rasulullah SAW memintanya untuk mengumandangkan azan kembali.

Saat suaranya menggema mencapai kalimat syahadat, seluruh penduduk Madinah menangis tersedu-sedu karena teringat sosok Baginda Nabi. Azan itu menjadi perpisahan terakhir bagi Bilal sebelum ia jatuh sakit dan wafat.

Di titik itulah saya merasa bahwa mengatur hati di hadapan Rasulullah tidaklah semudah mengatur kata-kata dalam berita. Tak keluar sowara, tak kellar (tidak keluar suara, tidak kuat).

Sebuah Keheningan Massal

Suasana batin yang saya alami ternyata diperkuat oleh kesaksian jemaah lain, termasuk mereka yang menjalani ibadah haji gelombang kedua—pergi ke Makkah terlebih dahulu baru kemudian ke Madinah.

Meski tahun dan gelombangnya berbeda, rasa kehilangan itu tetap sama tajamnya.

Bagi jemaah gelombang kedua, Madinah menjadi pelabuhan terakhir yang memberikan ketenangan luar biasa. Di Madinah, mereka hanya perlu fokus menjaga waktu shalat jemaah di Masjid Nabawi.

“Saya belum pernah tidak menangis (saat meninggalkan Madinah), meski sudah tiga kali ziarah ke sana,” ujar salah satu jemaah.

Suasana batin ini berlanjut hingga saat bus mulai bergerak menuju bandara. Jika biasanya perjalanan pulang disambut keceriaan karena akan bertemu keluarga, di Madinah justru sebaliknya.

“Satu bus terdiam seribu bahasa. Tidak ada yang ceria. Suasana begitu sunyi karena semua merasa sedang meninggalkan Rasulullah SAW. Bahkan, ada jemaah yang sampai pingsan karena tak kuasa menahan beratnya perpisahan,” kenang jemaah asal Madura tersebut.

Setiap jemaah membawa pulang luka rindu yang sama. Madinah bukan sekadar kota singgah, ia adalah tempat di mana hati kami tertinggal, tepat di sisi Baginda Nabi. (*)

  • Penulis: H. Ahmad Zaini
  • Editor: Muhammad Iqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMG 20261028

    Rawat Makam Keramat, MWCNU Bantaran Bersama Warga Percantik Lingkungan

    • calendar_month Rabu, 28 Okt 2026
    • account_circle Muhammad Malik
    • 0Komentar

    BANTARAN – Upaya menjaga kebersihan, keindahan, dan kelestarian lingkungan terus dilakukan oleh jajaran Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bantaran bersama pengurus ranting dan swadaya masyarakat melalui kegiatan rehabilitasi makam umum di Desa Bantaran, Senin (26/10/2026). Kegiatan yang berlokasi di Kuburan Keramat Desa Bantaran tersebut difokuskan pada pengecatan pagar makam sebagai bagian dari upaya memperbaiki […]

  • 1a832fe0 db27 4c4b 879c 808896cd5c38

    Sofia Dorong Pemberdayaan Perempuan melalui Kaderisasi PC Fatayat NU Probolinggo

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Probolinggo, Sofia, menegaskan pentingnya kaderisasi sebagai instrumen utama dalam mendorong pemberdayaan perempuan dan penguatan peran sosial di masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Latihan Kader Dasar (LKD) PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo yang digelar selama dua hari, Sabtu–Minggu (10–11/01/2026), di Aula Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten […]

  • 73e17027 a2aa 4724 b8e9 d7d14dc5851c

    PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo Matangkan Persiapan Pengukuhan serta Latihan Dasar Hukum dan Advokasi

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Probolinggo– Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Probolinggo terus bergerak memperkuat basis organisasi, khususnya di bidang hukum dan politik. Bertempat di kawasan Alun-alun Kota Probolinggo, jajaran panitia menggelar rapat koordinasi intensif pada Senin (16/03/2026) sore. Rapat ini difokuskan pada pemantapan teknis dua agenda besar yang akan segera dilaksanakan, yakni Pengukuhan LKP3A Tingkat Kecamatan serta Latihan […]

  • IMG 20261003 WA0031

    Kirab hingga Ziarah, Ini Rangkaian Kegiatan HSN 2026 MWCNU Sumberasih

    • calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
    • account_circle Aswandi
    • 0Komentar

    SUMBERASIH– Menyemarakkan Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sumberasih menyajikan serangkaian kegiatan edukatif, spiritual, dan kebudayaan. Rangkaian agenda tersebut dipaparkan dalam rapat koordinasi lintas lembaga dan badan otonom (Banom) di Kantor NU Sumberasih, Sabtu (3/10/2026). Rangkaian acara akan dibuka dengan aksi syiar Kirab Santri pada Sabtu, 17 Oktober […]

  • WhatsApp Image 2026 04 25 at 16.34.04

    Harlah Fatayat NU Ke-76, Sofia Dorong Peran Perempuan Berdaya dan Berdampak Nyata di Masyarakat

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Dalam momentum peringatan Harlah Fatayat NU, Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo, Sofia, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus menghadirkan gerakan perempuan yang tidak hanya berdaya, tetapi juga berdampak nyata di tengah masyarakat. Semangat “Fatayat NU Berdaya dan Berdampak” diwujudkan melalui berbagai program konkret yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya kelompok rentan. Salah satu program unggulan […]

  • IMG 20260517 WA0029

    PBNU Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh pada Rabu 27 Mei 2026

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle M Iqbal
    • 0Komentar

    JAKARTA– Pengurus Besar Nahdlatul Ulama secara resmi mengikhbarkan bahwa awal bulan Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026 M. Dengan ketetapan tersebut, maka Hari Raya Idul Adha atau 10 Dzulhijjah 1447 H dipastikan bertepatan dengan Rabu Wage, 27 Mei 2026 M. Keputusan strategis ini tertuang dalam surat edaran resmi PBNU dengan nomor […]

expand_less