Darul Mukhlashin: Napak Tilas Perjuangan, Saksi Khidmat PCNU Probolinggo
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TEGALSIWALAN– Pelantikan pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo masa khidmat 2026-2031, Ahad (7/6/2026), di Pondok Pesantren atau Ponpes Darul Mukhlashin, Tegalsiwalan, bukan sekadar agenda rutin organisasi.
Pemilihan lokasi ini merupakan napak tilas perjuangan salah satu pendiri NU di tanah Probolinggo.
Berdiri pada tahun 2003, Ponpes Darul Mukhlashin merupakan cermin dari silsilah perjuangan yang panjang. Pesantren ini melibatkan sejumlah sosok penting Nahdlatul Ulama dan Tarekat Tijaniyah, mulai dari KH Mahfudz Basya, KH Mukhlas Ahmad Ghozi, hingga KH Fathullah Umar.
Pesan di Balik Lahan Tegalsiwalan
Cikal bakal pesantren ini bermula ketika KH Mukhlas Ahmad Ghozi bersama putra beliau, KH Mahfudz Basya, pulang dari suatu pengajian dan melewati daerah Tegalsiwalan. Melihat hamparan tanah di sana, Kiai Mukhlas menyarankan kepada putranya untuk menukarkan tanah sawah dengan tanah kering tersebut.
Kiai Mukhlas kemudian memberikan amanah khusus kepada Kiai Mahfudz untuk membangun rumah dan masjid di atas lahan itu.
Kisah itu disampaikan Pengasuh Ponpes Darul Mukhlashin, KH Khusnu Milad, putra pertama dari KH Mahfudz Basya. “Jadi kalau mau bangun rumah harus ada masjidnya,” ujar Gus Milad, menirukan pesan kakeknya.
Berpegang pada pesan tersebut, Kiai Mahfudz merampungkan pembangunan masjid dan rumah pada 2003 dan mulai menetap di sana, sebelum akhirnya perlahan mendirikan fasilitas pendidikan mulai dari MTs, SDI, MA, SMK, hingga SMA.
Jejak Spiritualitas dan Perjuangan
Spirit perjuangan yang menghidupi pesantren ini mengalir dari akar yang sangat dalam, yakni KH Fathullah Umar, seorang ulama besar sekaligus salah satu pelopor berdirinya Nahdlatul Ulama di tanah Probolinggo.
KH Fathullah Umar merupakan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau dikenal sebagai sosok visioner, yang menggagas pembangunan tujuh masjid sebagai pusat syiar Islam di wilayah tersebut.
Semangat juang dan pengabdian KH Fathullah Umar kemudian diteruskan oleh putra beliau, KH Mukhlas Ahmad Ghozi. Sosok KH Mukhlas sendiri dikenal luas sebagai muqoddam Tarekat Tijaniyah yang karismatik.
Menurut sejumlah literatur, pada masanya, Tarekat Tijaniyah tersebar luas ke berbagai daerah seperti Besuki, Bondowoso, Situbondo, Bangkalan Madura, hingga ke beberapa kota lainnya di Jawa Timur, berkat peran sentral beliau dalam berdakwah.
Estafet Khidmah yang Tak Pernah Putus
Bagi keluarga besar Darul Mukhlashin, berada di jalur perjuangan NU adalah harga mati. Semasa hidupnya, KH Mahfudz Basya tak henti-hentinya menanamkan kecintaan kepada jam’iyah. Hingga wafat pada Januari 2021, pendiri pesantren ini tercatat sebagai Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo.
“Jangan lupa untuk berkhidmat kepada NU, karena di NU banyak barokahnya,” ujar Gus Milad menirukan pesan sang ayah.
Pesan ini pula yang selalu ditekankan oleh Gus Milad kepada para santri dan alumni: sebagai generasi penerus, mereka wajib mencintai NU karena guru-guru yang membimbing mereka adalah tokoh-tokoh yang teguh memegang prinsip Aswaja.
Besok, halaman Pondok Pesantren Darul Mukhlashin akan dipenuhi oleh para pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo, yang siap mengemban amanah periode 2026-2031. Kehadiran mereka di tempat ini bukan kebetulan.
Mereka akan dilantik di atas tanah yang dibangun dengan spirit perjuangan pendiri NU Probolinggo, di tempat yang dibangun dengan napas perjuangan kemerdekaan, dan di bawah naungan keberkahan sanad para waliyullah. Semoga pelantikan ini menjadi momentum bagi pengurus baru untuk menyerap energi perjuangan KH Fathullah Umar, KH Mukhlas Ahmad Ghozi, dan KH Mahfudz Basya, demi membawa NU Probolinggo semakin kuat, mandiri, dan bermanfaat bagi umat. (*)
- Penulis: M Iqbal

Saat ini belum ada komentar