Dari Masjid untuk Kemakmuran Bumi: Kita Khalifah, Bukan Perusak
- calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Muhammad Hilman Mufidi
KHUTBAH I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Alhamdulillah, kita masih diberi nikmat yang paling mahal, yaitu nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan sehingga kita bisa berkumpul di rumah Allah yang mulia ini.
Hari ini, khutbah kita akan membahas sebuah ayat yang sering kita baca, tapi sering kita lupakan maknanya yang sangat dalam. Sebuah ayat yang menjadi alasan kenapa kita diciptakan di dunia ini.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, dan ini akan menjadi rukun khutbah kita:
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
“Dialah Allah yang menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya, maka mohon ampunlah kepada-Nya kemudian bertaubatlah kepada-Nya.” (QS. Hud: 61).
Perhatikan kalimat `وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا`. Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan, artinya: Allah MEWAJIBKAN kalian untuk memakmurkan bumi. Ini bukan anjuran, ini adalah perintah, ini adalah tugas jabatan.
Jabatan kita apa? Di ayat lain Allah jelaskan:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku akan menjadikan di bumi ini seorang khalifah.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Kita adalah Khalifatullah fil Ardh (di bumi), wakil Allah untuk mengelola bumi. Seorang wakil yang baik pasti akan menjaga dan memakmurkan apa yang dititipkan kepadanya, bukan merusaknya.
Lalu Allah tutup ayat di Surat Hud tadi dengan `فَاسْتَغْفِرُوهُ` – maka beristighfarlah. Kenapa setelah perintah memakmurkan bumi kita disuruh istighfar? Kata ulama: Karena pasti banyak dari kita yang lalai dari tugas ini, banyak yang justru menjadi perusak. Maka kita perlu istighfar.
Jamaah Rahimakumullah, ada 2 Pertanyaan Besar untuk kita hari ini:
PERTAMA: KENAPA BUMI HARI INI RUSAK?
Jawabannya sudah Allah berikan 14 abad lalu:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sendiri.” (QS. Ar-Rum: 41)
Kerusakan ini bukan takdir Allah, tapi ulah kita. Mari kita lihat di sekeliling kita, di Probolinggo yang kita cintai ini
1. Kerusakan Ekologis: Gunung Bromo kita yang indah, hutannya banyak yang gundul karena penebangan liar. Sumber mata air di desa-desa mulai mengecil. Sungai-sungai kita menjadi tempat sampah plastik. Laut kita tercemar limbah. Padahal Rasulullah SAW sangat marah kepada orang yang menebang pohon Sidrah tanpa hak, dan melarang keras kencing atau buang hajat di sumber air.
2. Kerusakan Ekonomis: Bumi tidak makmur ketika manusianya malas. Rasulullah SAW bersabda: “Allah mencintai mukmin yang profesional dalam pekerjaannya.” Tapi hari ini banyak pemuda kita yang lebih memilih menganggur, main judi online dengan harapan kaya instan, terjerat pinjaman online riba, daripada bekerja keras mengolah tanah pertanian Probolinggo yang sangat subur ini, yang mangga dan anggurnya terkenal se-Indonesia.
3. Kerusakan Sosial: Bumi rusak ketika keadilan hilang. Ketika orang kaya menindas orang miskin, ketika timbangan pedagang dicurangi, ketika amanah jabatan dikhianati untuk korupsi.
Allah sudah peringatkan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
KEDUA: LALU BAGAIMANA CARA MEMAKMURKAN BUMI YANG BENAR MENURUT ISLAM?
Para ulama merangkum ada 5 Pilar Memakmurkan Bumi:
Pilar 1: Memakmurkan dengan Ilmu (At-Ta’mir bil Ilmi)
Bumi tidak bisa makmur dengan kebodohan. Khalifah Umar bin Khattab tidak akan memberikan jabatan kepada orang bodoh. Hari ini, memakmurkan bumi artinya kita wajib belajar. Petani harus belajar pertanian modern yang organik. Pedagang harus belajar ekonomi syariah. Anak-anak kita harus kita sekolahkan setinggi-tingginya. Karena dengan ilmu, tanah yang tandus bisa menjadi subur.
Pilar 2: Memakmurkan dengan Kerja Keras (At-Ta’mir bil Amal)
Islam sangat membenci pengangguran. Nabi Daud AS, seorang raja, tetap bekerja membuat baju besi. Nabi Muhammad SAW adalah pedagang. Dalam hadits dikatakan, bahkan jika kiamat besok terjadi dan di tanganmu ada bibit kurma, maka tanamlah hari ini! Ini adalah etos kerja yang luar biasa. Tidak ada alasan untuk bermalas-malasan.
Pilar 3: Memakmurkan dengan Keadilan dan Kejujuran (At-Ta’mir bil Adli)
Seorang pedagang yang jujur, kata Nabi, akan bersama para Nabi dan Syuhada di surga. Memakmurkan pasar artinya tidak mengurangi timbangan. Memakmurkan kantor artinya tidak korupsi waktu dan uang. Memakmurkan sawah artinya membayar upah buruh tani dengan layak.
Pilar 4: Memakmurkan dengan Menjaga Keseimbangan (At-Ta’mir bil Mizan)
Allah ciptakan alam ini dengan keseimbangan. Jangan serakah. Ambil secukupnya, tanam kembali. Allah benci orang yang berlebih-lebihan (israf).
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Ambil ikan di laut, tapi jangan dengan bom yang merusak terumbu karang. Tebang pohon untuk rumah, tapi tanam kembali 10 pohon.
Pilar 5: Memakmurkan dengan Iman (At-Ta’mir bil Iman)
Ini puncaknya. Bumi yang paling makmur adalah bumi yang di atasnya banyak orang bersujud. Masjidnya makmur, mushollanya ramai, anak-anaknya hafal Qur’an. Karena jika hati manusia sudah makmur dengan iman, maka tangannya tidak akan tega merusak bumi.
Allah berjanji dalam surat Al-Qashash ayat 77, sebuah rumus lengkap:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Carilah akhirat, jangan lupakan bagianmu di dunia, berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik padamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
Inilah 4 rumus memakmurkan bumi dalam satu ayat!
Semoga kita termasuk hamba yang sadar akan jabatan kita sebagai khalifah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلْقِ وَالْبَشَرِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sebelum kita tutup, mari kita renungkan sebuah kisah. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau memerintahkan untuk menabur biji-bijian gandum di atas puncak-puncak gunung. Ketika ditanya kenapa, beliau menjawab: “Taburkanlah, agar burung-burung di langit tidak kelaparan di negeri kaum muslimin.”
Lihatlah, seorang khalifah memikirkan perut burung di atas gunung! Itulah puncak dari memakmurkan bumi. Tidak hanya memikirkan perut manusia, tapi semua makhluk Allah.
Maka mulai hari Jum’at ini, mari kita mulai dari yang kecil. Bersihkan selokan di depan rumah kita. Buang sampah pada tempatnya. Tanam satu pohon mangga di halaman kita. Bekerja dengan jujur. Itu semua adalah ibadah memakmurkan bumi yang pahalanya lebih besar dari sekadar dzikir di atas sajadah.
Marilah kita berdoa dengan khusyuk.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُعَمِّرُوْنَ الْأَرْضَ وَلَا يُفْسِدُوْنَ، يَنْفَعُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَضُرُّوْنَ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَرْضِنَا، فِيْ زُرُوْعِنَا، فِيْ ثِمَارِنَا، فِيْ مِيَاهِنَا. اَللَّهُمَّ احْفَظْ عَلَيْنَا جِبَالَ تَنْجَرِ وَسِمِيْرُوْ وَبْرُوْمُوْ مِنْ كُلِّ كَارِثَةٍ وَفَسَادٍ
اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَخُصُوْصًا مَدِيْنَتَنَا بُرْبَالِنْجَا، وَاجْعَلْهَا بَلْدَةً طَيِّبَةً، مَعْمُوْرَةً بِالْإِيْمَانِ وَالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالْفَسَادَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
*) Muhammad Hilman Mufidi (Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB)
- Penulis: Muhammad Hilman Mufidi
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar