Menjaga Turats Pesantren, Disperpusip Jatim Data Naskah Kuno di Probolinggo
- calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PROBOLINGGO – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur melakukan pendataan naskah kuno di Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimien, Jalan Mastrip Nomor 118, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Kamis (17/9/2026).
Pendataan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga turats atau khazanah keilmuan yang diwariskan para ulama terdahulu. Tim Disperpusip mencatat keberadaan, kepemilikan, kondisi fisik, serta kebutuhan preservasi setiap naskah yang tersimpan di lingkungan pesantren.
Penelaah Teknis Kebijakan Disperpusip Jawa Timur, Lulus Swandayani, S.E., mengatakan program pendataan naskah kuno telah berjalan sejak 2021. Hingga kini, tim telah mendatangi sekitar 30 pondok pesantren di sejumlah daerah di Jawa Timur.
“Tujuan kegiatan kali ini adalah mendata kepemilikan naskah kuno yang berada di pondok pesantren di seluruh Jawa Timur. Salah satunya di Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimien, Wonoasih, Kota Probolinggo,” kata Lulus.
Menurut Lulus, sekitar 200 naskah kuno telah ditemukan dalam rangkaian kegiatan tersebut dan mendapatkan penanganan preservasi. Langkah itu dilakukan untuk menjaga kondisi fisik sekaligus memperpanjang usia naskah agar kandungan ilmu di dalamnya tetap dapat dipelajari.
“Untuk saat ini, dari seluruh Jawa Timur terdapat sekitar 30 pesantren yang telah kami kunjungi. Naskah kuno yang sudah kami dapatkan juga sekitar 200 dan telah kami preservasi,” ujarnya.
Tim yang bertugas dalam kegiatan tersebut terdiri atas Penelaah Teknis Kebijakan Lulus Swandayani, S.E.; Fasilitator Pemerintah Saifuddin Alfa Firdaus, S.E.; Pustakawan Terampil Nindita Islahnia Rucitra; serta Penata Layanan Operasional Aci Nur Aisyah.
Sementara itu, Fasilitator Pemerintah Disperpusip Jawa Timur, Saifuddin Alfa Firdaus, S.E., mendorong terbangunnya kolaborasi berkelanjutan dengan pengelola pesantren. Sinergi tersebut diperlukan agar naskah-naskah lama yang belum terawat dapat memperoleh penanganan secara tepat.
“Ke depan, kami berharap bisa saling berkolaborasi dan bersinergi. Naskah-naskah kuno yang belum terawat dapat kami bantu perawatannya agar tetap bisa dilihat dan dipelajari oleh anak cucu kita,” tuturnya.
Saifuddin menegaskan bahwa naskah kuno bukan sekadar benda lama. Di dalamnya tersimpan jejak pemikiran, tradisi keilmuan, dan perjalanan peradaban yang perlu dirawat serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Naskah itu merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Hal tersebut menjadi latar belakang kegiatan ini,” imbuhnya.
Kedatangan tim Disperpusip Jawa Timur disambut perwakilan pengurus Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimien, Ustadz Rohim, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih atas pelaksanaan pendataan sekaligus memaparkan profil dan perjalanan pesantren.
Melalui pendataan dan preservasi secara berkelanjutan, naskah-naskah kuno di lingkungan pesantren diharapkan terlindungi dari kerusakan maupun kehilangan. Dengan demikian, turats dan khazanah keilmuan para ulama terdahulu tetap terjaga serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (*)
- Penulis: Moch. Sulaiman
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar