Muhayar: Santri Bantaran yang Dobrak Keterbatasan Lewat Servis HP
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANTARAN, nuprobolinggo.or.id – Keterbatasan fisik bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru, bagi sebagian orang, ujian kehidupan menjadi titik awal untuk menemukan kekuatan, kreativitas, dan semangat baru dalam menjalani hidup.
Kisah inspiratif itu tercermin dari sosok Muhayar, alumni Pondok Pesantren Nahdlatul Muta’allimin, Kropak, Bantaran, Probolinggo. Berbekal ketekunan dan semangat pantang menyerah, ia kini menekuni usaha mandiri di bidang servis telepon seluler (HP).
Perjalanan hidup Muhayar tidak selalu berjalan mudah. Pada awal tahun 2000-an, ketika masih menjadi santri, sebuah kecelakaan menimpanya saat melaksanakan tugas pondok. Peristiwa tersebut menjadi ujian berat yang harus dihadapi dan mengubah perjalanan hidupnya.
Namun, Muhayar tidak ingin larut dalam keterbatasan. Ia memilih bangkit dan terus berusaha membangun masa depan. Langkah awalnya dimulai dengan bekerja menjaga konter HP.
Dari aktivitas sederhana tersebut, ia belajar mengenal dunia telepon seluler, memahami berbagai kerusakan, serta mengasah keterampilan memperbaiki perangkat komunikasi.
Waktu demi waktu, pengalaman dan keterampilan itu menjadi modal berharga. Dengan tekad dan keberanian, Muhayar mulai merintis usaha sendiri di bidang servis HP. Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya, melainkan tantangan untuk membuktikan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk mandiri dan produktif.
Kepedulian yang Menguatkan Harapan
Semangat Muhayar untuk terus berkembang mendapatkan perhatian dari keluarga besar Pondok Pesantren Nahdlatul Muta’allimin. Kepedulian pengasuh pesantren terhadap perjuangan alumninya diwujudkan melalui kerja sama dengan BAZNAS Kabupaten Probolinggo.
Momentum Hari Santri menjadi semakin bermakna dengan hadirnya sebuah kado istimewa berupa bantuan peralatan servis HP untuk mendukung pengembangan usaha Muhayar.
Bantuan tersebut bukan sekadar pemberian alat kerja, tetapi juga bentuk nyata kepedulian, persaudaraan, dan komitmen pemberdayaan alumni pesantren. Harapannya, fasilitas tersebut dapat meningkatkan kemampuan pelayanan, produktivitas, serta kemandirian ekonomi Muhayar.
Santri Harus Terus Berdaya
Kisah Muhayar memberikan pelajaran bahwa menjadi santri tidak berhenti setelah meninggalkan pesantren. Nilai-nilai perjuangan, kesabaran, keikhlasan, dan kemandirian yang diperoleh selama mondok dapat menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Disabilitas bukan penghalang untuk berkreativitas. Keterbatasan fisik tidak boleh membatasi mimpi, apalagi mematikan semangat untuk berkarya.
Dari Kramatagung, Kecamatan Bantaran, Muhayar mengajarkan sebuah pesan sederhana namun penuh makna: jangan menyerah pada keadaan, sebab selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha.
Semoga bantuan ini menjadi wasilah keberkahan, semakin berkembangnya usaha, serta terbukanya jalan kemandirian ekonomi bagi Muhayar.
Karena santri tidak hanya dituntut untuk mengaji, tetapi juga harus mampu berkarya, mandiri, dan memberikan manfaat bagi sesama. (*)
- Penulis: Jamaluddin
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar