Dari Sidogiri Menembus Sains Modern: Khidmah Lintas Disiplin Dr. Moch. Mahsun
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PROBOLINGGO, nuprobolinggo.or.id — Sanad keilmuan pesantren salaf yang kokoh kerap kali menjadi pondasi paling tangguh untuk mengarungi derasnya perkembangan sains modern.
Di tengah pesatnya tuntutan era industri dan ekonomi digital, sosok Dr. Ir. Moch. Mahsun, S.Kom., M.T. hadir memberi teladan nyata tentang bagaimana spirit seorang santri mampu bertransformasi melintasi batas-batas disiplin keilmuan, sekaligus mengabdi secara aktif di struktur organisasi ke-NU-an.
Lahir di Probolinggo pada 23 Agustus 1985, pria yang kini Associate Professor di Universitas Islam Syarifuddin, Kabupaten Lumajang ini menyimpan rekam jejak yang unik: memadukan tempaan pesantren salaf, penguasaan teknologi informasi, teknik industri, hingga kepakaran doktor di bidang Ekonomi Syariah.
Gemblengan Enam Tahun di Rahim Sidogiri
Akar spiritual dan kedisiplinan hidup Moch. Mahsun ditanam secara mendalam di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Selama enam tahun berturut-turut, sejak tahun 2000 hingga 2006, ia menimba ilmu agama, mengasah pemahaman fiqih, serta menyerap tradisi kemandirian yang menjadi kekhasan pesantren legendaris tersebut.
Bagi Mahsun, pesantren bukanlah tempat yang mengurung minat pada kemajuan zaman. Didikan dari para kyai Sidogiri justru menumbuhkan kesadaran bahwa ilmu agama dan sains modern tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus dipadukan untuk menghadirkan maslahat bagi masyarakat luas.
Selepas menyelesaikan pendidikannya di pesantren, ia melangkah mantap menembus batas baru. Niatnya satu: membuktikan bahwa santri tidak gagap menghadapi arus teknologi.
Petualangan Lintas Disiplin: Dari Barisan Kode hingga Ekonomi Syariah
Langkah akademis yang ditempuh Dr. Mahsun terbilang sangat progresif. Ia mengawali perjalanan pendidikan tingginya di bidang Teknik Informatika hingga merampungkan S1 pada tahun 2013.
Tak puas hanya menguasai dunia pemrograman dan sistem komputer, ia melanjutkan studi S2 di bidang Teknik Industri di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya dan lulus pada tahun 2017.
Kombinasi antara logika sistem informasi dan ketajaman analisis teknik industri melahirkan perspektif ilmiah yang langka. Terlebih ketika ia memutuskan untuk mengaitkan keahlian teknologinya dengan riset-riset keislaman.
Puncak kualifikasi akademiknya diraih tatkala ia menyelesaikan program Doktoral (S3) di bidang Ekonomi Syariah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun 2024. Di sinilah seluruh mosaik keilmuannya menyatu: penguasaan arsitektur teknologi informasi, analisis tata kelola industri, dan pemahaman hukum ekonomi Islam yang berbasis maqashid syariah.
Penggerak Literasi NU dan Editor Jurnal Internasional
Di tengah kesibukannya sebagai akademisi dan peneliti, kecintaan Dr. Mahsun pada dunia dakwah literasi dan media di lingkungan Nahdlatul Ulama tidak pernah surut.
Di struktur organisasi PCNU Kabupaten Probolinggo, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Kabupaten Probolinggo untuk dua periode khidmah berturut-turut: 2020–2025 dan 2026–2031.
Tidak hanya di tingkat struktural cabang, ia juga memimpin langsung dapur redaksi jurnal ilmiah yang dikelola oleh LTN NU Probolinggo. Di tangannya, tradisi tulis-menulis dan diseminasi pemikiran Islam Ahlussunnah wal Jamaah dikawal secara profesional berbasis standar akademik global.
Kiprahnya dalam penguatan publikasi ilmiah juga merambah kancah nasional dan internasional. Pernah dipercaya sebagai Kepala LPPM Universitas Islam Syarifuddin, Mahsun aktif mendampingi tata kelola jurnal di berbagai perguruan tinggi di tanah air.
Pengakuan atas kapasitasnya terbukti dari kepercayaannya sebagai Reviewer jurnal internasional bereputasi seperti Taylor & Francis, serta undangan narasumber di luar negeri termasuk di Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.
Menjangkau Anak-Anak Pekerja Migran di Kuala Lumpur
Di balik tumpukan riset dan kepemimpinan di lembaga media, sisi kepedulian sosial khas santri tampak nyata dari dedikasinya dalam pengabdian masyarakat internasional. Mahsun terjun membimbing dan mendampingi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kuala Lumpur, Malaysia.
Melalui kerja sama dengan PKBM PNF KBRI Kuala Lumpur, ia mendampingi anak-anak PMI dalam melatih literasi penulisan karya tulis serta memperkuat wawasan kebangsaan dan keislaman.
Bagi Mahsun, memastikan anak-anak pahlawan devisa mendapatkan akses pendidikan literasi yang layak adalah bagian dari jihad kultural yang mulia.
Refleksi Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Intelektual Santri
Momentum Hari Santri dan Hari Sumpah Pemuda membawa Dr. Mahsun pada perenungan mendalam tentang arah gerak generasi muda hari ini. Menurutnya, warisan besar para ulama dan pahlawan harus dijawab dengan karya nyata dan ketajaman pena.
“Setiap memperingati Sumpah Pemuda, saya selalu merenung: jika pemuda 1928 mampu menyatukan bangsa melalui keberanian dan gagasan, apa yang sedang diperjuangkan santri hari ini?” ungkap Dr. Mahsun penuh kontemplasi.
Ia merefleksikan keteladanan KH. Sa’doellah Nawawie dari Sidogiri yang menginspirasi pentingnya menjaga tradisi keilmuan sekaligus menanggung jawab masa depan generasi.
“Namun, menjaga warisan pesantren tidak cukup hanya dengan mengenang kebesaran para pendahulu. Kita perlu bertanya, sudahkah ilmu yang kita pelajari melahirkan karya yang bermanfaat bagi bangsa? Jangan sampai santri begitu tekun membaca pemikiran ulama terdahulu, tetapi kehilangan keberanian untuk menuliskan pemikirannya sendiri.”
“Jika pemuda 1928 mengikrarkan persatuan Indonesia, mari santri hari ini mengikrarkan kebangkitan intelektual melalui pena. Jangan hanya bangga mewarisi sejarah pesantren, tetapi beranilah menulis sejarah baru bagi bangsa!” tegasnya.
Menerjemahkan Spirit Kesantrian Hari Ini
Bagi masyarakat di wilayah PCNU Kabupaten Probolinggo—khususnya di kawasan Bantaran tempat ia berpijak—perjalanan hidup Dr. Ir. Moch. Mahsun, S.Kom., M.T. membuktikan bahwa tempaan pesantren salaf mampu melahirkan ilmuwan dan organisator yang visioner.
Jika Resolusi Jihad 1945 menggerakkan fisik dan mental santri untuk mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini perjuangan tersebut dilanjutkan melalui ketajaman pena, pengawalan literasi digital di LTN NU, serta karya ilmiah yang mencerahkan peradaban bangsa.
Perjalanan Dr. Moch. Mahsun menegaskan pesan terang bagi segenap generasi muda: bahwa berakar pada tradisi pesantren adalah modal utama untuk menguasai sains modern sekaligus merawat khidmah di jalan umat. (*)
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar