Ketika Bumi Sudah Tidak ‘Ramah’
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AKHIR-akhir ini kita merasakan sesuatu yang aneh.
Dulu, hujan turun sesuai musimnya. Sekarang, kemarau panjang melanda hingga sumur-sumur kering, tapi ketika hujan datang, ia datang dengan amarah: banjir bandang, longsor, dan angin kencang.
Bumi seolah sudah tidak ramah lagi kepada kita.
Padahal, dalam poster Kalam Hikmah kita kemarin, Imam Al-Qurthubi mengingatkan: Dunia itu seperti air. Jika diambil secukupnya, ia menghidupkan. Jika berlebihan, ia membinasakan.
Lalu, apa yang membuat bumi tidak ramah? Jawabannya bukan pada buminya, tapi pada kita penghuninya.
Allah SWT sudah mengingatkan dengan sangat keras 14 abad yang lalu:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Perhatikan kalimat بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ – karena ulah tangan manusia sendiri.
1. Kita Menebang Tanpa Menanam.
Kita bangga menebang pohon besar untuk bangunan mewah, tapi lupa menanam kembali bibit kecil untuk anak cucu. Padahal Rasulullah bersabda, jika kiamat datang dan di tanganmu ada bibit kurma, maka tanamlah.
Hutan gundul, maka air tidak lagi diserap. Ia langsung mengalir menjadi banjir. Bumi tidak salah, kitalah yang membuatnya tidak ramah.
2. Kita Membuang Sampah Sembarangan, Lalu Menyalahkan Hujan.
Kita buang sampah plastik ke sungai. Kita buang limbah ke selokan. Ketika sungai meluap dan selokan mampet, kita berkata, “Ini musibah dari Allah.”
Padahal Allah sudah menitipkan bumi ini sebagai amanah. Dan amanah itu akan ditanya.
Seperti air yang tidak bisa digenggam erat (hikmah no 2 kemarin), alam ini tidak bisa kita kuasai dengan keserakahan. Semakin kita serakah menguasainya, semakin ia hilang dari kita.
3. Doa Kita Kering, Karena Hati Kita Kering.
Kita baru berdoa “Allahumma Ya Karim, Anzil alaina ma’an midroro” ketika sumur sudah kering. Kita baru ingat Allah ketika bumi sudah tidak memberi.
Padahal dakwah lingkungan adalah bagian dari dakwah iman. Menjaga kebersihan adalah iman. Menanam pohon adalah sedekah jariyah. Menghemat air adalah bentuk syukur.
Dakwah kita tidak boleh hanya mengurusi fikih wudhu, tapi lupa mengurusi dari mana air wudhu itu berasal. Jika sumber airnya rusak karena kita, maka wudhu kita pun terancam.
Lalu Apa Solusi Dai Muda?
Di Hari Sumpah Pemuda ini, Dai Muda LDNU harus menjadi garda terdepan Gerakan “Santri Cinta Bumi”.
Mulai dari 3 hal kecil:
Pertama: Gerakan Satu Santri Satu Pohon. Ajak setiap jamaah dan santri menanam minimal satu pohon di halamannya. Itu adalah sedekah oksigen.
Kedua: Gerakan Masjid Bebas Sampah Plastik. Ganti botol plastik sekali pakai dengan tumbler. Ajak jamaah bawa wadah sendiri.
Ketiga: Hidupkan Kembali Doa dan Ikhtiar. Jangan hanya berdoa minta hujan. Tapi juga berikhtiar menjaga hutan agar hujan mau turun. Doa tanpa ikhtiar adalah hampa. Ikhtiar tanpa doa adalah sombong.
Ingat, bumi ini bukan warisan dari nenek moyang kita. Bumi ini adalah pinjaman dari anak cucu kita.
Jika hari ini kita kembalikan dalam keadaan rusak, apa yang akan kita jawab di hadapan mereka dan di hadapan Allah?
Mari kita buat bumi kembali ramah. Karena jika bumi sudah ramah, insyaAllah langit pun akan menurunkan “ma’an midroro” – hujan yang lebat dan penuh berkah itu.
Wallahu A’lam. (*)
- Penulis: LDNU Kabupaten Probolinggo
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar