Musran NU Resongo, PCNU Minta Lailatul Ijtima’ Diperkuat Kajian Kitab
- calendar_month 19 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KURIPAN- Wakil Rais Syuriah PCNU Kabupaten Probolinggo, KH Sholehuddin, meminta Lailatul Ijtima’ di tingkat ranting diperkaya dengan kajian kitab-kitab Aswaja dan Fikih klasik. Langkah ini dinilai krusial agar kebermanfaatan organisasi semakin terasa sekaligus memperkokoh basis ideologi warga Nahdliyyin di akar rumput.
Arahan itu disampaikan KH. Sholehuddin saat menghadiri Musyawarah Ranting (Musran) Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Resongo, Kecamatan Kuripan, Sabtu (20/06/2026).
Bertempat di Masjid Nurul Hidayah, Dusun Cindil, forum tertinggi tingkat desa ini mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Organisasi, Meneguhkan Khidmah Nahdlatul Ulama.”
Selain penguatan program Lailatul Ijtima’, Kiai Sholehuddin mengingatkan bahwa Musran lima tahunan ini merupakan agenda krusial untuk meneruskan estafet kepemimpinan demi menghadapi tantangan zaman.
“Menjadi pengurus NU adalah bentuk pengabdian. Syarat utamanya adalah siap mengabdi, memiliki pengalaman dalam organisasi, serta tidak tersangkut masalah hukum. Kita harus senantiasa berhati-hati namun tetap semangat dalam berkhidmah,” tegas Kiai Sholehuddin.
Selain penajaman materi keagamaan, Kiai Sholehuddin juga meminta panitia dan tim formatur untuk segera merampungkan administrasi pengajuan Surat Keputusan (SK) kepengurusan baru ke tingkat cabang. Hal ini penting agar gerak roda organisasi di Desa Resongo semakin solid, legal, dan terorganisir dengan baik.
Resongo sebagai Garda Terdepan
Di sisi lain, keaktifan PRNU Desa Resongo selama ini mendapat apresiasi tinggi dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kuripan. Ketua Tanfidziah MWCNU Kuripan, KH. Zainullah, M.Pd, menyebut Resongo sebagai salah satu ranting paling progresif yang menjadi garda terdepan dalam menjalankan program-program MWCNU.
“Ranting ini sangat aktif, mulai dari Lailatul Ijtima’, pembangunan tugu NU, hingga pengajian umum dan program Koin Sigap NU selalu berjalan konsisten,” ungkap Kiai Zainullah.
Kiai Zainullah juga mengilas balik sejarah dengan menceritakan perjuangan panjang Kyai Tasrip dalam membabat alas dan membesarkan panji-panji NU di Desa Resongo sejak era 1980-an.
Kyai Tasrip Terpilih Kembali Secara Aklamasi
Dalam proses persidangan yang berlangsung kondusif, Musyawarah Ranting secara aklamasi kembali memilih Kyai Tasrip sebagai Ketua Tanfidziah dan menetapkan Kyai Edi Siarso sebagai Rois Syuriah PRNU Desa Resongo untuk masa khidmah berikutnya.
Kyai Tasrip dalam sambutan penutupnya menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama menjabat pada periode sebelumnya dan berharap kepengurusan baru dapat terus mengemban amanah. Secara khusus, ia menitipkan pesan agar napas perjuangan program Lailatul Ijtima’ yang telah berjalan istiqamah tetap dipertahankan.
Acara Musran ini berlangsung khidmat dengan dihadiri jajaran pengurus MWCNU Kuripan, pengurus Ranting NU Desa Resongo, serta unsur badan otonom (Banom) seperti PAC GP Ansor dan Satkoryon Banser Kuripan.
Kemeriahan acara juga didukung oleh penampilan Jam’iyyah Hadrah Al-Hidayah wal Barokah, dan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus memajukan NU di tingkat ranting berlandaskan empat dasar hukum Islam: Al-Qur’an, Hadist, Ijma’, dan Qiyas. (*)
- Penulis: Agus Budi Cahyono
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar