Haflah PP Miftahul Khoir Probolinggo: Stop Nikah Dini dan Stunting
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KURIPAN– Momentum kelulusan santri tidak boleh menjadi akhir dari perjalanan menuntut ilmu. Sebaliknya, pesantren harus menjadi garda terdepan dalam memutus mata rantai pernikahan anak di bawah umur yang memicu tingginya angka stunting di tengah masyarakat.
Pesan kuat inilah yang menggema dalam acara Haflatul Imtihan madrasah formal di bawah naungan Pondok Pesantren Miftahul Khoir, Desa Menyono, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (10/6/2026). Acara pelepasan santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) tahun ajaran 2025/2026 tersebut berlangsung khidmat dan dipadati ratusan wali santri serta masyarakat umum.
Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Forkopimcam Kuripan, Kapolsek, Danramil, tokoh agama, pengurus struktural MWCNU Kuripan, serta anggota DPRD Kabupaten Probolinggo. Puncak acara kian berkah dengan hadirnya Nun Hassan Ahsan Malik, S.Sy, M.Pd (Nun Alex), pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, yang memberikan ceramah agama (mauidzah hasanah).
Jihad Melawan Stunting Lewat Jalur Pendidikan
Ketua Komite MTs/MA Miftahul Khoir, Wawan Ali Zuhudi, dalam sambutannya mengingatkan tantangan berat yang dihadapi wilayah geografis Kecamatan Kuripan. Pasalnya, wilayah ini tercatat memiliki angka kasus stunting tertinggi di Kabupaten Probolinggo.
Oleh karena itu, pria yang akrab disapa Pak Wawan ini mengimbau dengan tegas agar para alumnus MTs dan MA Miftahul Khoir tidak buru-buru menikah, melainkan terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Kami menghimbau siswa-siswi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan menghindari pernikahan dini. Pernikahan dini menjadi salah satu faktor utama tingginya angka stunting di daerah kita,” tegas Wawan.
Senada dengan Komite, Camat Kuripan, Oon Hartono, memberikan apresiasi penuh terhadap komitmen pesantren dalam mengedukasi masyarakat. Ia meminta kerja sama yang konkret dari para orang tua santri untuk berani menolak lamaran pernikahan anak yang belum cukup umur.
“Tolong para wali murid, jika ada yang ingin melamar putrinya yang masih usia sekolah, mohon untuk ditolak. Menikah dini berisiko tinggi menyebabkan stunting pada keturunan nanti. Kita harus bekerja sama mencetak generasi yang sehat dan berpendidikan,” ujar Oon Hartono.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada para asatidz/asatidzah yang telah berdedikasi mengamalkan ilmunya membimbing para santri selama tiga tahun terakhir.
Dukungan Legislatif dan Nuansa Khidmah Pesantren
Kepedulian terhadap masa depan pendidikan santri Kuripan juga datang dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Muchlis, S.Pd., yang turut hadir, mengaku bangga dengan gelaran haflah ini. Ia menyebut, Kyai Sholehuddin (pengasuh Ponpes Miftahul Khoir) sebagai guru ideologisnya.
“Kyai Sholehudin yang merupakan guru ideologis saya. Semangat beliau dalam memperjuangkan pendidikan harus kita lanjutkan,” sebut Muchlis.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Muchlis menyatakan kesiapannya untuk mengawal kemajuan sarana prasarana lembaga melalui pengajuan proposal kegiatan pendidikan. Tak hanya itu, ia juga berjanji akan memberikan bantuan berupa pembelian seragam bagi para siswa baru pada tahun ajaran mendatang sebagai wujud kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan di Miftahul Khoir.
Semarak Seni Santri dan Info Penerimaan Murid Baru
Suasana haflah kian semarak dengan unjuk bakat para santri yang menampilkan beragam seni islami dan kebudayaan. Mulai dari harmoni suara tim paduan suara “Harmoni Santri”, keindahan Tari Nusantara dan Tari Maraghab, nasyid syahdu dari grup Nasyidatus Sholeha, hingga atraksi pencak silat Pagar Nusa yang memukau penonton dengan jurus-jurus andalannya.
Di penghujung acara, Kepala MTs Miftahul Khoir, Hj. Zakiyatul Imam, S.Pd.I, mengingatkan masyarakat bahwa proses kaderisasi generasi muda Nahdliyin yang berakhlakul karimah harus terus berjalan. Ia mengumumkan bahwa pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) gelombang terakhir untuk tahun ajaran baru akan ditutup pada 13 Juli 2026.
“Kami berharap seluruh siswa-siswi lulusan MTs/MA untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi demi masa depan yang lebih baik,” pungkas Hj. Zakiyatul Imam.
Tampak hadir menyaksikan jalannya acara hingga selesai, Rois Syuriah MWC NU Kuripan, Ketua Tanfidziah MWC NU Kuripan, serta para tokoh masyarakat yang kompak mengawal masa depan generasi muda NU yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. (*)
- Penulis: Agus Budi Cahyono
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar