Breaking News
dark_mode
Trending

Mawar Thaif dan Getaran Batin Jemaah Probolinggo di Jalur Miqat

  • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: H. Ahmad Zaini

MEKKAH – Sepekan sudah jemaah haji kloter awal asal Kabupaten Probolinggo menghirup udara Makkah Al-Mukarramah. Setelah menuntaskan rangkaian ibadah di Madinah, kini fokus jemaah beralih pada penggalian makna spiritual melalui safari umrah dan napak tilas sejarah di berbagai titik miqat yang mengelilingi Kota Suci.

Miqat bukan sekadar garis batas geografis untuk memulai ihram. Bagi jemaah, ia adalah pintu gerbang batin.

Jika jemaah gelombang pertama umumnya mengambil miqat di Dzulhulaifah (Bir Ali) saat bertolak dari Madinah, kini kami mencoba menyelami keutamaan miqat-miqat lain yang menjadi saksi bisu perjuangan Rasulullah SAW.

Thaif, Dari Luka Menjadi Cinta

Perjalanan kami bermula menuju Qarnul Manazil (atau dikenal sebagai As-Sailul Kabir), titik miqat bagi penduduk Najd dan mereka yang datang dari arah Thaif.

Di kota pegunungan yang sejuk ini, mata kami dimanjakan oleh hamparan pertanian brokoli dan kubis yang subur. Sebuah pemandangan yang kontras dengan gurun pasir di sekitarnya.

Thaif juga merupakan “Kota Mawar”. Kami menyaksikan langsung bagaimana mawar-mawar indah dibudidayakan dan disuling menjadi minyak wangi berharga tinggi.

Namun, di balik keharuman mawarnya, kota yang berada pada ketinggian 1.700-1.879 di lereng Pegunungan Sarawat/Asir ini menyimpan sejarah pilu.

Dalam literatur Ar-Rahiq Al-Makhtum, dikisahkan bagaimana Rasulullah SAW dahulu dilempari batu dan diusir dari kota yang juga disebut sebagai “Puncaknya Saudi” ini.

Di tengah luka itu, seorang budak Nasrani bernama Addas datang memberi perlindungan dan menyuguhkan anggur.

Kini, ribuan tahun kemudian, jalur yang penuh peluh itu menjadi saksi jutaan umat Islam yang datang dengan penuh cinta untuk mengambil niat umrah.

Ji’ronah dan Keadilan Sang Kekasih

Setelah menyisir Thaif, perjalanan berlanjut menuju Ji’ronah. Bagi para ulama, miqat ini memiliki keistimewaan tersendiri. Di sinilah Rasulullah SAW mengambil miqat untuk umrahnya setelah memenangkan Perang Hunain, perang yang terjadi setelah Fathu Mekkah.

Ada jejak sejarah yang menarik di Ji’ronah, yakni keberadaan sebuah sumur yang airnya dipercaya muncul setelah Rasulullah menancapkan tongkatnya saat jemaah kehabisan air.

Meski kini sumur tersebut telah ditutup oleh otoritas Saudi demi menjaga kemurnian tauhid (prinsip Sadd adz-Dzari’ah), esensi Ji’ronah sebagai tempat pembagian keadilan harta rampasan perang Hunain tetap melekat di hati jemaah.

Mengambil miqat di sini bukan sekadar ritual, melainkan upaya merasakan kembali momen kemenangan Islam.

Ketertiban di Tengah Pengetatan

Perjalanan safari umrah ini juga menjadi pembuktian ketatnya keamanan di Tanah Suci menjelang puncak haji (Armuzna). Dari Thaif menuju Makkah, bus kami melewati empat kali pemeriksaan (check point) yang sangat ketat.

Petugas masuk ke dalam bus, memeriksa dokumen satu per satu, hingga memastikan tidak ada ruang di bus yang luput dari pantauan. Hal ini dilakukan demi menjamin seluruh jemaah adalah legal dan sah secara administratif.

Pemerintah Saudi terlihat berusaha memastikan, jemaah yang hadir di Masjidil Haram merupakan jemaah yang sah. Dengan melihat sendiri ketatnya pemeriksaan, bisa dikatakan  jemaah digaransi free ilegal.

Meluruskan Kabar Terpelintir

Di tengah perjalanan ini, kami merasa perlu mengklarifikasi informasi yang sempat simpang siur terkait musibah kecelakaan (laka) di Jabal Magnet beberapa waktu lalu. Ada narasi yang menyebut jemaah melanggar aturan ziarah.

Kenyataannya, peristiwa tersebut terjadi lebih dulu, barulah setelah itu pemerintah mengeluarkan Surat Edaran pembatasan aktivitas safari sebelum Armuzna. Aktivitas yang dilakukan jemaah saat itu adalah hal yang lumrah dan belum ada larangan resmi.

Jadi, bukan jemaah yang melanggar, melainkan regulasi yang hadir sebagai langkah antisipasi pasca-kejadian.

Hati yang Tertambat

Setiap miqat—baik itu Tan’im yang paling dekat, Hudaibiyah yang bersejarah, maupun Ji’ronah yang utama—menawarkan getaran batin yang berbeda.

Miqat mengajarkan kita tentang batas, bahwa untuk memasuki wilayah yang suci, seseorang harus menanggalkan pakaian duniawinya dan mengenakan niat yang murni.

Bagi jemaah Probolinggo, perjalanan ini adalah bekal batin sebelum kami benar-benar “berwukuf” di Arafah nanti. Di antara wangi mawar Thaif dan keheningan Ji’ronah, kami menitipkan doa: semoga setiap langkah ini menjadi umrah yang makbul. (*)

  • Penulis: H. Ahmad Zaini
  • Editor: Muhammad Iqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • WhatsApp Image 2026 04 25 at 16.34.04

    Harlah Fatayat NU Ke-76, Sofia Dorong Peran Perempuan Berdaya dan Berdampak Nyata di Masyarakat

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Dalam momentum peringatan Harlah Fatayat NU, Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo, Sofia, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus menghadirkan gerakan perempuan yang tidak hanya berdaya, tetapi juga berdampak nyata di tengah masyarakat. Semangat “Fatayat NU Berdaya dan Berdampak” diwujudkan melalui berbagai program konkret yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya kelompok rentan. Salah satu program unggulan […]

  • KOIN NU

    Intensifikasi Koin NU, LAZISNU Kabupaten Probolinggo Siap Perkuat Kemandirian Umat

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 0Komentar

    MALANG- Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama atau LAZISNU PWNU Jawa Timur terus memacu akselerasi kemandirian ekonomi organisasi melalui Gerakan Koin NU. Langkah strategis ini dimatangkan dalam Rapat Koordinasi Intensifikasi Gerakan Koin NU Korwil 1 Jawa Timur yang digelar di Lawang, Kabupaten Malang, Ahad (26/04/2026). Hadir dalam pertemuan penting tersebut, Ketua LAZISNU PCNU […]

  • IMG 20260723 WA0042

    Usung Kemandirian, PCNU Probolinggo Gelar Muskercab Akhir Pekan Ini

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO — Pasca suksesnya prosesi pelantikan pengurus pada 7 Juni 2026 lalu, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo langsung bergerak cepat mematangkan konsolidasi organisasi. Langkah strategis tersebut akan diwujudkan melalui perhelatan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 11 Safar 1448 H / 26 Juli 2026 M. Forum musyawarah penting ini […]

  • Aac1eaa2 0888 441e ae22 4806eadfbf20

    KUA Wonomerto Edukasi Masyarakat Ukur Arah Kiblat Lewat Rasydul Qiblat

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Wonomerto mengedukasi masyarakat mengenai cara sederhana dan akurat untuk memastikan arah kiblat melalui fenomena Rasydul Qiblat. Edukasi tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Rasydul Qiblat yang digelar di Balai Nikah dan Manasik Haji KUA Wonomerto, Senin (13/7/2026). Kegiatan dipimpin oleh Kepala KUA Kecamatan Wonomerto, H. Wawan Ali Suhudi, S.Ag., M.H., […]

  • IMG 20260427 WA0014

    Pimpin IPNU-IPPNU Wonomerto, Sulaiman-Ayyunin Ditantang Jaga Tradisi di Era Digital

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Agus Budi Cahyono
    • 0Komentar

    WONOMERTO- Estafet kepemimpinan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, resmi berpindah tangan, Ahad (26/04/2026) Melalui Konferensi Anak Cabang (Konferancab) VII yang digelar di MTs Ainul Yaqin Sumberkare, pasangan Rekan Sulaiman dan Rekanita Ayyunin terpilih untuk menakhodai organisasi pelajar NU tersebut. Namun, di balik prosesi pelantikan yang khidmat, tantangan besar telah menanti di depan […]

  • Images

    Catatan Perjalanan Haji: ‘Drama’ Aplikasi Nusuk dan Tangis di Madinah

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle H. Ahmad Zaini
    • 0Komentar

    Oleh: H. Ahmad Zaini MADINAH – Menjadi pelayan tamu Allah (Dhuyufurrahman) memang penuh warna. Bukan hanya soal membimbing ibadah, tapi juga harus siap menjadi teknisi dadakan hingga penengah urusan rumah tangga jemaah. Pengalaman unik ini saya alami sendiri saat mendampingi rombongan jemaah haji asal Kabupaten Probolinggo di bawah payung Masjid Nabawi, Kota Madinah, yang megah. […]

expand_less