Breaking News
dark_mode
Trending

Khidmah Abadi Pak M: Dari Meja TU hingga Mimbar Akademik UNUJA

  • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SIANG itu, Jum’at Legi, 13 Februari 2026, aspal jalan raya Probolinggo tampak memantulkan panas yang samar. Saya memacu kendaraan meninggalkan Dringu dengan Karimun, bergerak ke arah timur menyisir jalur Pantura. Perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa.

Di kursi samping, seolah ada tumpukan kenangan tahun 2006/2007 yang ikut serta. Tujuan saya satu: Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton. Sebuah tempat di mana duka sedang menyelimuti sebuah rumah, namun harum pengabdian sedang merekah ke langit.

Delapan hari sudah Almarhum M. Syafi’ih, atau yang lebih akrab kami sapa sebagai Pak M, berpulang ke Rahmatullah. Kami, para mahasiswa alumni yang tergabung dalam PAMEX (Paguyuban Mahasiswa Ekstensi) Teknik Informatika angkatan 2006/2007, merasa memiliki hutang batin yang takkan pernah lunas.

Takziah ini adalah upaya kami menyambung kembali sanad kasih sayang kepada sosok yang dulu menjadi “penyambung nyawa” masa depan kami di bangku kuliah.

Gerbang Administrasi dan Senyum di Balik Debu Kertas

Mengingat Pak M adalah mengingat masa-masa awal Sekolah Tinggi Teknologi Nurul Jadid (STTNJ). Kala itu, kampus yang kini bernama UNUJA masih berupa embrio yang sedang diperjuangkan dengan peluh.

Bagi kami mahasiswa kelas Ekstensi, Lora Najib (Direktur) Pak M (Multi fungsi) dan Pak Sulis (Kaprodi TI) adalah wajah pertama yang kami temui saat mendaftar membawa 22 orang.

Penulis teringat medio 2007, saat membawa rombongan rekan untuk kembali ‘nyantri’ lewat jalur akademik di Teknik Informatika. Di ruang Tata Usaha (TU) yang sederhana itulah, Lora Najib bersama Pak M berada. Beliau bukan birokrat kaku yang hanya bicara soal stempel. Beliau adalah pintu gerbang yang memudahkan.

Awalnya kami yang sudah menyandang S1 bukan TI mau belajar lagi agar punya kompetensi/kewenangan mengajar. Ada dua pilihan melalui suvey langsung, yakni di Universitas Pancamarga (Dringu) dan STT Nurul Jadid.

Setelah melalui diskusi panjang, sebagai ketua delegasi waktu itu saya putuskan ke STT-NJ yang sekarang jadi UNUJA, dengan pertimbangan agar kita mendapat berkah dari pendiri ponpes Nurul Jadid. Barakhallah rekan-rekan semua menyetujui, walau jaraknya jauh dibanding Dringu.

Sebagai mahasiswa ekstensi, kami adalah para pejuang nafkah. Siang kami bekerja di SMP Negeri, MTs, rumah sakit, pabrik, kantor, ladang, juga menyusul ada yang di PT PJB UP Paiton. Kemudian Jum’at, Sabtu dan Minggu sore, kami berjibaku dengan algoritma.

Seringkali kami datang ke kampus dengan sisa-sisa tenaga dan tumpukan masalah administrasi. Di sinilah Pak M hadir. Beliau paham lelahnya kami. Beliau tidak pernah mempersulit, selama ada kemauan untuk belajar, Pak M akan mencarikan jalan agar administrasi kami tetap tegak lurus tanpa memberatkan langkah.

Tiga Pilar Sanad Keilmuan: Lora Najib, Pak Sulis, dan Pak M

Dalam sejarah perjuangan kami di STTNJ, ada tiga sosok yang tak mungkin terhapus dari memori kolektif angkatan 2006/2007. Pertama, Lora Najib, sosok kharismatik yang memberikan sentuhan spiritual pada setiap baris kode yang kami tulis. Sejak 2009, saya belum berkesempatan mencium tangan beliau lagi—sebuah kerinduan yang terus saya langitkan dalam doa.

Kedua, Bapak Sulis sebagai Kaprodi, sang nahkoda akademik yang memastikan logika kami tetap sinkron dengan kebutuhan diskusi akademik. Dan ketiga, tentu saja Pak M.

Jika Lora Najib adalah ruhnya, dan Pak Sulis adalah otaknya, maka Pak M adalah jantungnya. Beliau yang memastikan aliran darah administrasi tetap mengalir, memastikan kami yang sudah “lelah kerja” ini tetap bisa duduk di ruang kelas dengan tenang.

Transformasi Sang Murabbi: Dari TU Menjadi Pelita di Mimbar

Satu hal yang paling mengagumkan dari Pak M adalah spirit long-life education-nya. Beliau tidak puas hanya melayani di balik meja administrasi. Di tengah kesibukannya, beliau terus mengasah diri, belajar, dan akhirnya bertransformasi menjadi seorang dosen.

Transformasi ini adalah tamparan halus sekaligus motivasi besar bagi kami mahasiswa ekstensi. Beliau seolah ingin berkata. “Jika saya yang sibuk mengurus ribuan mahasiswa setiap hari bisa naik kelas menjadi pendidik, kalian pun harus bisa lebih dari itu.”

Saat mengajar di kelas, gaya beliau sangat khas. Beliau tidak bicara teori yang melangit, melainkan aplikasi yang membumi. Wawasan administrasinya membuat beliau sangat rapi dalam menyusun materi. Beliau adalah tipe pendidik yang sangat mengayomi; beliau tahu kapan harus tegas dan kapan harus merangkul mahasiswa yang sedang ‘mentok’ logikanya.

Haru di Tanjung: Saat Doa Bertemu dengan Kesetiaan

Sesampainya di rumah duka di Desa Karanganyar, Paiton, suasana begitu khidmat. Saat kami, perwakilan PAMEX, duduk bersimpuh di hadapan istri almarhum, suasana berubah menjadi sangat emosional.

Istri Pak M tampak tak kuasa membendung air mata haru. Beliau terkejut sekaligus bangga, melihat kenyataan bahwa mahasiswa yang sudah lulus belasan tahun yang lalu, yang kini mungkin sudah memiliki kehidupan mapan, masih meluangkan waktu dari jauh untuk datang mendoakan suaminya.

“Beliau sangat terharu, karena sudah lama lulus tapi anak-anak didik beliau masih mengingatnya dengan begitu baik,” ungkap salah satu rekan alumni yang hadir.

Di momen itulah kami menyadari, bahwa apa yang dilakukan Pak M selama puluhan tahun di STTNJ hingga UNUJA bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah khidmah. Dan dalam tradisi Nahdliyin, khidmah kepada ilmu dan pesantren tidak akan pernah putus meski raga telah dikubur tanah.

Legacy untuk UNUJA dan Generasi Mendatang

Jum’at Legi 13 Februari 2026, STTNJ telah menjelma menjadi UNUJA yang megah. Gedung-gedungnya menjulang, fasilitasnya canggih, dan namanya harum di tingkat nasional. Namun, bagi kami angkatan 2006/2007, di setiap sudut bangunan UNUJA, ada bayang-bayang ketulusan Pak M.

Beliau adalah pilar tersembunyi. Beliau adalah orang yang memastikan sistem berjalan saat yang lain tertidur. Dedikasi beliau dari staf TU hingga menjadi dosen adalah cermin bagi generasi milenial dan Gen Z di UNUJA saat ini. Bahwa kesuksesan sebuah institusi besar dibangun dari ketulusan orang-orang di balik layar.

Penutup: Selamat Jalan Sang Pembimbing

Matahari mulai condong ke barat saat saya meninggalkan Tanjung, Paiton, untuk kembali ke Dringu. Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Ada rasa lega karena telah menunaikan kewajiban moral kepada sang guru.

Selamat jalan, Pak M. Terima kasih telah menjadi bagian dari sejarah hidup kami. Terima kasih telah membantu kami menjadi sarjana-sarjana TI yang tidak hanya paham coding, tapi juga paham adab. Amal jariyahmu kini mengalir lewat setiap keberhasilan yang kami raih.

Saya tulis ini karena termotivasi oleh pesan legendaris dari Imam Al-Ghazali (nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali), seorang filsuf dan teolog muslim terkemuka.

“Jika engkau bukan anak seorang raja dan bukan pula anak ulama besar, maka menulislah.”

Kepada redaksi nuprobolinggo.or.id dan segenap pembaca, mari kita kirimkan kado terindah untuk Almaghfurlah Bapak M. Syafi’i. Semoga beliau berkumpul dengan para Masyayikh Nurul Jadid di tempat terbaik di sisi-Nya. Lahumul Fatihah. (*)

Oleh Bambang Sutedjo, Kepala Suku PAMEX

  • Penulis: adminnuprob

Komentar (3)

  • Ya toYa to

    Semoga beliau khusnulqotimah

    Balas15 Februari 2026 09:27
  • AbdullahAbdullah

    Dengan kemampuan bahasa saya yg minim, ini adalah tulisan yg bagus, dengan bahasa yg tertata rapi, dan indah….. Luar biasa. Yg menunjukkan sangat menghargai gurunya.

    Balas15 Februari 2026 00:27
  • ArikArik

    Mantap ketua, semoga silaturahim tetap terjaga dan pengabdian alm. Pak M semoga selalu menjadi inspirasi.

    Balas14 Februari 2026 20:12

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMG 20260217 WA0019

    LDNU Probolinggo Luncurkan Sentra Syiar Ramadan, Sasar Daerah Blank Spot

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 1Komentar

    BANTARAN– Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama atau LDNU Kabupaten Probolinggo meluncurkan Sentra Syiar Ramadan NU sekaligus melepas Dai Muda Ramadhan di Pondok Pesantren Nahdlatul Muta’allimin, Desa Kropak, Bantaran, Selasa (17/2/2025). Program ini dicanangkan untuk memperkuat dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di wilayah-wilayah pelosok yang minim kegiatan keagamaan. Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo, Kiai Teguh Mahameru Zainul Hasan, yang […]

  • IMG 20260611 WA0021

    Haflah PP Miftahul Khoir Probolinggo: Stop Nikah Dini dan Stunting

    • calendar_month 8 jam yang lalu
    • account_circle Agus Budi Cahyono
    • 0Komentar

    KURIPAN– Momentum kelulusan santri tidak boleh menjadi akhir dari perjalanan menuntut ilmu. Sebaliknya, pesantren harus menjadi garda terdepan dalam memutus mata rantai pernikahan anak di bawah umur yang memicu tingginya angka stunting di tengah masyarakat. Pesan kuat inilah yang menggema dalam acara Haflatul Imtihan madrasah formal di bawah naungan Pondok Pesantren Miftahul Khoir, Desa Menyono, […]

  • 981c15ff 63e2 4dc9 95a9 6e908be45a01

    Sofia Pimpin Penguatan Kapasitas Pengurus Ranting Fatayat NU Kareng Kidul sebagai Basis Pemberdayaan Perempuan Desa

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Penguatan kapasitas pengurus ranting dinilai menjadi faktor kunci dalam menentukan kuat atau tidaknya peran Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) di tingkat desa. Atas dasar kesadaran tersebut, Pimpinan Ranting Fatayat NU Desa Kareng Kidul, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo menggelar kegiatan penguatan kapasitas pengurus dan anggota yang diikuti sekitar 80 peserta, sekaligus menjadi pertemuan perdana rutinan Majelis Shalawat […]

  • IMG

    Harlah PMII Ke-66, Gus Haris Ajak Kader Berkolaborasi Wujudkan Probolinggo SAE

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Agus Sholeh
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO — Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Probolinggo menjadi momentum konsolidasi kader dan alumni untuk memperkuat peran organisasi dalam pembangunan daerah. Puncak peringatan digelar di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Senin (27/4/2026), mengusung tema “Merawat Gerakan, Menguatkan Peradaban.” Bupati Probolinggo Mohammad Haris atau Gus Haris menegaskan pentingnya sinergi antara kader PMII dan pemerintah […]

  • Db2adff1 09e1 43c0 859a 2c9c1b1dab9d

    Jelang Ramadhan, Lazisnu Probolinggo Mulai Distribusikan Wakaf Al Qur’an

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2025
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Nahdhatul Ulama (Lazisnu) Kabupaten Probolinggo mulai distribusikan wakaf Al Qur’an. Kegiatan ini rutin dilaksanakan tiap menjelang Ramadhan di Bulan Sya’ban, hingga pada bulan ramadhan. Adapun Lazisnu Kabupaten Probolinggo bermitra dengan Rumah Syamil Qur’an Probolinggo, King Salman, Yayasan Rumah Tahfidz Probolinggo, Rohis Al Madina dan Yapin Probolinggo. […]

  • E48d3abb 2a52 4d73 b93b b7edd5d370ea

    PC Fatayat NU Probolinggo Audiensi ke DP3AP2KB, Dorong Kolaborasi Pendampingan Perempuan dan Anak

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Probolinggo menerima audiensi Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Probolinggo bersama Lembaga Konsultasi dan Perlindungan Perempuan dan Anak (LKP3A), Rabu (7/1/2026). Audiensi tersebut menjadi langkah awal penguatan sinergi dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Kabupaten Probolinggo. Rombongan PC Fatayat NU […]

expand_less