Tetap Istiqomah Saat Kebenaran Dianggap Aneh
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Muhammad Hilman Mufidi
KHUTBAH I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْغُرَبَاءَ هُمُ الْفَائِزُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْغُرَبَاءِ وَإِمَامُ الْأَتْقِيَاءِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. ﴿رواه مسلم
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pernahkah kita merasa aneh menjadi orang baik hari ini?
Saat kita jujur dalam dagang, kita dibilang bodoh. Saat kita menolak korupsi, kita dibilang tidak pandai bersyukur. Saat anak muda kita menolak pacaran dan judi online, ia dibilang kuper dan tidak gaul. Saat seorang istri menutup aurat dengan sempurna, ia dibilang tidak modern.
Jika panjenengan merasakan itu, berbahagialah. Itu tandanya panjenengan sedang masuk dalam golongan yang Rasulullah sebut sebagai GHUROBA – Orang-orang asing yang beruntung.
Rasulullah SAW bersabda:
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Siapakah ghuroba itu? Dalam riwayat lain Rasulullah menjelaskan:
هُمُ الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ
“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki keadaan ketika manusia telah rusak.”
Hadirin rahimakumullah,
Inilah dekadensi moral yang kita hadapi hari ini. Kerusakan itu sekarang tidak sembunyi-sembunyi, tapi dirayakan:
Pertama, Dosa di Ujung Jari. Judi online dikemas dengan nama game online. Zina dikemas dengan istilah open BO dan check-in, diumbar di media sosial. Riba dikemas dengan paylater dan pinjaman online yang mencekik.
Kedua, Kebenaran yang Terbalik. Kejujuran dianggap aib. Kesetiaan dianggap beban. Rasa malu dianggap kuno. Yang viral justru yang pamer aurat, pamer harta hasil haram, dan pamer kemaksiatan. Inilah yang disebut Rasulullah sebagai zaman fitnah, dimana yang benar jadi salah, yang salah jadi benar.
Lalu, bagaimana agar kita bisa tetap istiqomah dan menjadi ghuroba yang beruntung itu?
Allah memberikan rumusnya dalam Al-Qur’an:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. ﴿فصلت: ٣٠
Mereka yang mengatakan “Tuhan kami Allah” lalu ISTIQOMAH, maka malaikat akan turun menenangkannya saat semua orang ketakutan di sakaratul maut.
Ada 3 kunci agar kita bisa istiqomah menjadi ghuroba di era ini:
1. Jadilah Orang Yang Memperbaiki, Bukan Yang Ikut Rusak.
Jangan hanya berkata “zaman memang sudah rusak”. Ghuroba adalah mushlih, bukan hanya shalih. Shalih itu baik untuk diri sendiri, tapi mushlih itu baiknya menular. Mulai dari rumah kita. Matikan judi online dari HP anak kita. Hidupkan kembali rasa malu di keluarga kita.
2. Pegang Bara Api, Jangan Lepaskan.
Rasulullah bersabda, orang yang berpegang pada agamanya di akhir zaman seperti memegang bara api. ﴿رواه الترمذي﴾. Panas, perih, ingin dilepas. Shalat subuh berjamaah itu panas. Menolak suap itu panas. Menutup aurat di tengah gempuran tren itu panas. Tapi barangsiapa sabar memegangnya, cahayanya akan menerangi hingga surga.
3. Cari Komunitas Orang Asing.
Ghuroba tidak bisa sendirian. Ia butuh jamaah ghuroba lainnya. Carilah masjid, carilah majelis, carilah teman yang ketika kita futur, dia menarik kita kembali ke jalan Allah. Karena istiqomah itu berat jika sendirian, tapi ringan jika berjamaah.
إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling istiqomah meski sedikit. (HR. Bukhari Muslim)
Jangan pernah bosan menjadi orang asing yang baik. Di saat orang lain bangga dengan dosanya, kita bangga dengan istiqomah kita. Karena di akhirat nanti, keanehan kita hari ini akan berbuah keberuntungan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْتَقِيْمُوْا كَمَا أُمِرْتُمْ
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الشُّبُهَاتِ وَالشَّهَوَاتِ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْغُرَبَاءِ الَّذِيْنَ طُوْبَى لَهُمْ، اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ
اَللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ فِتْنَةِ الْإِنْتَرْنَتِ وَالْقِمَارِ الْإِلِكْتُرُوْنِيِّ وَالزِّنَا وَالرِّبَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ
*) Muhammad Hilman Mufidi (Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB)
- Penulis: Muhammad Hilman Mufidi
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar