Kalam Ulama: Sikap Terbaik Muslim di Kala Sempit dan Lapang
- calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:
كُلَّمَا ضَاقَ الأَمْرُ اتَّسَعَ، وَكُلَّمَا اتَّسَعَ الأَمْرُ ضَاقَ
Setiap kali urusan terasa sempit maka akan diberi kelapangan. Dan setiap kali urusan diberi kelapangan maka akan terasa sempit.
[Syarah Riyadhus Shalihin]
Jemaah Jum’at Rahimakumullah,
Hidup ini berputar. Tidak ada kesempitan yang abadi, dan tidak ada kelapangan yang kekal. Inilah sunnatullah yang diingatkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin.
1. DI BALIK SEMPIT PASTI ADA LAPANG
Ketika seorang hamba merasa semua pintu tertutup, usaha sudah maksimal, doa sudah dipanjatkan, namun hasil belum terlihat. Saat itulah Allah sedang menyiapkan kelapangan.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Para ulama tafsir menjelaskan, satu kesulitan (العسر) tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan (يسرا). Artinya, saat Allah memberi satu kesempitan, Dia telah menyiapkan dua kelapangan.
Maka jangan berputus asa. Tugas kita adalah sabar dan ikhtiar.
2. DI BALIK LAPANG JUSTRU BISA SEMPIT
Sebaliknya, ketika Allah beri kelapangan rezeki, kesehatan, jabatan, popularitas, disitulah ujian yang lebih berat. Banyak orang lulus saat diuji sempit, tapi gagal saat diuji lapang.
Karena saat lapang, manusia mudah lupa, sombong, dan merasa hebat karena dirinya sendiri. Saat itulah hati menjadi sempit dari hidayah.
Allah mengingatkan:
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى
“Sekali-kali tidak! Sungguh manusia itu benar-benar melampaui batas apabila melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)
KESIMPULAN DAN AMALIYAH:
Kalam Syaikh Utsaimin ini mengajarkan kita dua kunci hidup:
Pertama: Saat Sempit, Kuatkan Sabar. Yakinlah pertolongan Allah sangat dekat. Perbanyak istighfar dan doa. Jangan mengeluh kepada manusia.
Kedua: Saat Lapang, Perbanyak Syukur. Jangan sampai nikmat membuat kita jauh dari masjid, jauh dari ulama, dan jauh dari Allah. Semakin lapang, semakin tawadhu’.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang sabar di kala sempit dan syukur di kala lapang. Amin. (*)
- Penulis: LDNU Kabupaten Probolinggo
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar