Debat yang Tepat
- calendar_month 18 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BERDEBAT untuk mencari kebenaran, bukan kemenangan
Debat dalam Islam bukan dilarang, tapi ada adabnya. Al-Qur’an menyebutnya Mujadalah. Allah berfirman:
“Dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik (Ahsan).” (QS. An-Nahl: 125)
Debat yang tepat tujuannya bukan untuk menjatuhkan lawan, mempermalukan, atau pamer pintar. Tapi untuk mencari kebenaran dan menjelaskan kebatilan.
Imam Syafi’i berkata: “Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang dan aku ingin dia salah. Aku hanya ingin kebenaran itu muncul, entah dari lisanku atau lisannya.“
APA ITU DEBAT YANG TEPAT?
Di era medsos ini semua orang jadi pendebat. Di warung kopi, di grup WA, di TikTok, semua debat. Tapi banyak debat yang tidak tepat, akhirnya jadi ghibah, caci-maki, dan putus silaturahmi.
Dalam kitab Adabul Bahts wal Munadhoroh, LDNU mengajarkan 5 Ciri Debat yang Tepat:
Pertana, Niatnya Lurus (Tashihun Niyyah). Bukan karena ingin viral, ingin terlihat paling NU, paling benar. Niatnya Izhaharul Haq – menjelaskan kebenaran. Kalau niatnya menang-menangan, itu bukan debat, itu adu gengsi.
Kedua, Ilmunya Cukup. Jangan debat masalah agama kalau ilmunya cuma dari potongan video 30 detik. Debat itu butuh dalil, bukan dalih. Kata Kiai: “Orang bodoh yang diam itu lebih mulia dari orang bodoh yang berdebat.”
Ketiga, dilakukan dengan cara terbaik (Ahsan).
QS. An-Nahl 125: “…wa jadilhum billati hiya ahsan”.
Tidak memotong pembicaraan
Tidak mencaci, memaki, mengkafirkan
Menggunakan bahasa yang santun
Tetap tersenyum, tidak emosi
Keempat, Tahu Kapan Berhenti. Debat yang tepat tahu kapan harus berhenti. Jika lawan sudah ngeyel, sudah keluar dari topik, sudah mulai menyerang pribadi, maka tinggalkan. Rasulullah bersabda: “Aku jamin rumah di surga bagi orang yang meninggalkan debat meski dia benar.” (HR. Abu Dawud).
Kelima, Hasilnya Menambah Saudara, Bukan Musuh. Setelah debat, seharusnya kita semakin dekat, bukan semakin benci. Kalau setelah debat malah blokir-blokiran, berarti debatnya tidak tepat.
Zaman sekarang semua orang bisa debat. Tapi tidak semua debat itu tepat.
JENIS DEBAT YANG DILARANG
Debat Kusir: Debat tanpa ilmu, hanya adu mulut.
Debat untuk Riya’: Debat biar dibilang paling pintar.
Debat di Depan Orang Awam: Membahas masalah khilafiyah berat di depan orang awam, akhirnya membingungkan umat. Ini yang sering terjadi. (*)
- Penulis: LDNU Kabupaten Probolinggo
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar