Menjaga Akidah: Kajian Sullam At-Taufiq di MWCNU Wonomerto
- calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WONOMERTO – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama atau MWCNU Wonomerto, Kabupaten Probolinggo mengisi kegiatan rutin bulanan dengan kajian Kitab Sullam At-Taufiq, Ahad (28/6/2026).
Berlangsung di Desa Jrebeng, kecamatan setempat, kajian kitab karya Habib Abdullah bin Husayn bin Thahir itu,dipimpin oleh KH Abdul Malik Damanhuri. Diikuti jajaran pengurus Syuriyah, Tanfidziyah, Badan Otonom, dan PRNU se-Kecamatan Wonomerto.
Dalam kajian itu, KH Abdul Malik Damanhuri mengupas mengenai bahaya murtad sebagai salah satu perkara yang dapat membatalkan keimanan seseorang.
Berdasarkan penjelasan kitab, murtad dapat terjadi melalui tiga aspek, yaitu keyakinan (i’tiqad), perkataan (aqwal), dan perbuatan (af’al).
KH. Abdul Malik Damanhuri menjelaskan bahwa di antara bentuk murtad dalam aspek keyakinan adalah meragukan keberadaan Allah SWT, meragukan kebenaran para rasul, meragukan adanya surga dan neraka, serta pahala dan dosa yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Oleh karena itu, umat Islam wajib menjaga kemurnian akidah dengan terus memperdalam ilmu agama melalui bimbingan para ulama.
Dalam kesempatan tersebut, KH Abdul Malik Damanhuri juga mengulas Aqidah Lima Puluh sebagai fondasi akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Meliputi 20 sifat wajib bagi Allah SWT, 20 sifat mustahil bagi Allah SWT, satu sifat jaiz bagi Allah SWT.
Kemudian empat sifat wajib bagi para rasul, empat sifat mustahil bagi para rasul, dan satu sifat jaiz bagi para rasul.
Pemahaman terhadap aqidah ini dinilai penting sebagai benteng dalam menghadapi berbagai pemikiran yang dapat mengikis keimanan.
Mengakhiri pengajiannya, KH Abdul Malik Damanhuri menerangkan salah satu sifat wajib Allah SWT, yaitu Al-‘Ilmu (Maha Mengetahui). Beliau menegaskan bahwa ilmu pengetahuan manusia hanyalah setetes dibandingkan dengan keluasan ilmu Allah SWT yang meliputi segala sesuatu.
Karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa tawadlu’, terus menuntut ilmu, serta menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak.
Sebelum kajian dimulai, kegiatan dibuka dengan istigasah yang dipimpin oleh KH Ali Wafa. Doa dipanjatkan sebagai ikhtiar spiritual agar warga Nahdliyin Wonomerto senantiasa diberikan kekuatan dalam menjaga persatuan jam’iyah dan umat.
Kegiatan rutin ini menjadi cerminan komitmen MWCNU Wonomerto dalam merawat tradisi keilmuan pesantren. Diharapkan, melalui pengajian kitab turats, lahir generasi Nahdliyin yang kokoh secara akidah, moderat dalam beragama, dan konsisten menebarkan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin. (*)
- Penulis: Ansori
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar