Breaking News
dark_mode
Trending

Menjinakkan Ego Pemuda Kekinian Lewat Manhaj Nabi Ismail

  • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo*

GEMA takbir dan tahmid kembali membelah langit Probolinggo. Idul Adha selalu datang membawa aroma kemegahan spiritual yang khas. Namun, jika kita mau menelisik lebih dalam di balik rutinitas penyembelihan hewan kurban, ada sebuah narasi besar tentang relasi orang tua dan anak yang kerap kali luput dari ruang refleksi kita, yakni dialog peradaban antara Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Selama ini, altar khotbah dan ruang publik kerap mengeksploitasi ketegaran Nabi Ibrahim. Padahal, jika kita membaca kembali lembaran sejarah dengan kacamata hari ini, episentrum kekaguman justru layak kita sematkan pada sang putra, Nabi Ismail AS. Beliau adalah representasi pemuda yang berhasil menembus batas logika ketaatan kontemporer.

Mari kita hadapkan potret keluhuran budi Nabi Ismail tersebut dengan realitas pemuda kekinian di sekitar kita. Di era di mana teknologi melesat tanpa rem, namun di sisi lain, terdapat pemandangan yang memprihatinkan tentang akhlak dan adab yang mulai luntur.

Ada semacam anomali psikologis pada sebagian generasi muda hari ini, di mana minimnya literasi digital yang sehat membuat ruang sabar mereka menyempit. Diingatkan sedikit langsung membantah, dikritik sedikit langsung emosi, dan dalarang sedikit langsung melawan.

Banyak anak muda kita yang mulai kehilangan pandhum atau kompas arah hidup. Mereka cenderung mengidentifikasi kemuliaan dan harga diri hanya dari tingginya sekolah, banyaknya harta, atau menterengnya jabatan di media sosial. Akibatnya, rasa hormat kepada orang tua kerap digadaikan demi ego kelompok atau tren pergaulan yang sering kali melenceng.

Di sinilah manhaj ketaatan Nabi Ismail AS menemukan relevansinya yang paling radikal bagi pemuda zaman now. Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah yang teramat berat melalui mimpinya, kalimat pertama yang keluar dari lisan Ismail bukanlah bantahan, bukan pula keluhan ego sentris.

Ia menjawab dengan bahasa yang teramat santun, penuh ketenangan dan kepasrahan total. Nabi Ismail mengajarkan bahwa kemuliaan seorang anak tidak diukur dari seberapa berani ia mendebat orang tuanya, melainkan dari seberapa tinggi takwa dan baktinya kepada Allah dan leluhurnya.

Ismail tidak lari dari kenyataan, tidak pula menyalahkan takdir. Iman yang kokoh membuat jiwanya stabil di tengah badai ujian yang tak masuk akal bagi nalar manusia biasa.

Bagi kita warga nahdlyinin, momentum Idul Adha tahun ini harus ditarik ke dalam wilayah kurban yang lebih substansial. Kurban hari ini bukan lagi sekadar urusan menyembelih kambing atau sapi, melainkan bagaimana cara pemuda menyembelih kesombongan, ego pribadi, meredam amarah, dan membuang jauh-jauh rasa gengsi yang tidak perlu.

Bagi para suami dan pemuda yang menjadi kepala rumah tangga, kurban berarti menyembelih ego pribadi demi menjaga keharmonisan keluarga agar tidak miskin dzikir dan kehilangan kehangatan.

Sementara bagi para remaja, kurban adalah keberanian untuk meninggalkan pergaulan tak sehat atau lingkungan beracun demi menjaga benteng keimanan serta masa depan mereka.

Nabi Ismail AS telah memberikan cetak biru nyata bahwa menjadi modern tidak harus membuat kita kehilangan adab, dan menjadi keren tidak harus membuat kita menjadi anak yang durhaka.

Sudah saatnya pemuda Probolinggo, khususnya para jajaran muda Nahdliyin, merefleksikan kembali ke dalam diri masing-masing. Sudahkah kita memiliki fragmen jiwa Ismail dalam keseharian kita? Wallahu a’lam. (*)

*Naskah disarikan dari khutbah Idul Adha

  • Penulis: adminnuprob

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMG 20260427 WA0014

    Pimpin IPNU-IPPNU Wonomerto, Sulaiman-Ayyunin Ditantang Jaga Tradisi di Era Digital

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Agus Budi Cahyono
    • 0Komentar

    WONOMERTO- Estafet kepemimpinan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, resmi berpindah tangan, Ahad (26/04/2026) Melalui Konferensi Anak Cabang (Konferancab) VII yang digelar di MTs Ainul Yaqin Sumberkare, pasangan Rekan Sulaiman dan Rekanita Ayyunin terpilih untuk menakhodai organisasi pelajar NU tersebut. Namun, di balik prosesi pelantikan yang khidmat, tantangan besar telah menanti di depan […]

  • IMG 20260513 WA0014

    Sinergi Dakwah LD PCNU-MUI di Lapas Kraksaan: Menebar Syiar di Balik Jeruji

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 0Komentar

    KRAKSAAN – Suasana khidmat menyelimuti Masjid At-Taubah Rutan Kelas IIA Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (13/5/2026) pagi. Sebanyak 300 warga binaan tampak larut dalam lantunan sholawat nabi yang dibawakan oleh grup hadroh DKM setempat, mengawali kegiatan syiar dakwah. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU) Kabupaten Probolinggo bersama […]

  • 618c6417 8f94 4181 9971 f8f15b1a8f56

    Fatayat NU Probolinggo Jadi Mitra Strategis Pemerintah, Fokus Tingkatkan IPM 2026

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Probolinggo – Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo, Sofia, menegaskan komitmen organisasi untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2026. Rabu (14/01/2026) Fatayat NU hadir tidak hanya sebagai organisasi sosial-keagamaan, tetapi juga sebagai pelaksana program pemberdayaan masyarakat secara nyata, khususnya perempuan, anak, dan keluarga. Dalam berbagai kegiatan, Fatayat NU […]

  • IMG 20260220 WA0059

    Dakwah Binnidzom

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 0Komentar

    SELASA lalu saya mengadiri peluncuran Sentra Syiar Ramadan NU sekaligus Pelepasan Dai Muda Ramadhan oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama atau LDNU di Pondok Pesantren Nahdlatul Muta’allimin. Sentra Syiar Ramadan dipusatkan di masjid dan musala. Korps Dai Muda atau KODAMA NU yang digembleng dalam Diklat Dai Milenial pada akhir 2025, ada di sentra itu. Mereka dibekali […]

  • 17d58f23 e8ed 4575 ba11 117f3547559c

    Kasus Santri Dibanting dan Bayi Diikat di Daycare, Sofia: Ini Alarm Darurat Perlindungan Anak

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Probolinggo, 28 April 2026 – Kasus kekerasan terhadap anak kembali menjadi perhatian publik nasional setelah insiden santri yang dibanting oleh guru ngaji di Kota Probolinggo serta viralnya praktik pengikatan balita di sebuah daycare di Yogyakarta. Dua peristiwa ini menunjukkan bahwa anak-anak masih rentan mengalami kekerasan, bahkan di ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi […]

  • 2

    3 Ranting di Probolinggo Jadi Pilot Project KOIN NU LAZISNU Jatim

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 0Komentar

    WONOMERTO– Sebagai bentuk komitmen nyata dalam menindaklanjuti hasil Rapat Koordinasi Korwil 1 Jawa Timur di Malang beberapa waktu lalu, LAZISNU PCNU Kabupaten Probolinggo menetapkan tiga Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) sebagai pilot project (wilayah dampingan) Gerakan KOIN NU. Ketiga wilayah dampingan tersebut meliputi PRNU Kropak (Kecamatan Bantaran), PRNU Pohsangit Kidul (Kecamatan Wonomerto), dan PRNU Jorongan […]

expand_less