PCNU Probolinggo Pacu Musyawarah Ranting dan Kemandirian Ekonomi Umat
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WONOMERTO– Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo, Kiai Teguh Mahameru Zainul Hasan, menginstruksikan seluruh jajaran pengurus untuk menuntaskan pelaksanaan Musyawarah Ranting (Musran) hingga tingkat Anak Ranting sebelum Juli 2026.
Penegasan tersebut disampaikan Kiai Teguh ini saat menghadiri kegiatan rutin Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama atau MWCNU Wonomerto, di Desa Kedungsupit, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, Ahad (17/5/2026).
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian krusial dari penguatan roda organisasi serta konsolidasi gerakan NU di akar rumput secara masif.
“Sebelum Juli 2026, seluruh ranting harus melaksanakan musyawarah ranting hingga tingkat anak ranting. Ini adalah komitmen kita bersama dalam memperkuat struktural dan merapatkan barisan gerakan NU,” tegas Kiai Teguh di hadapan ratusan jemaah yang hadir.
Pendampingan 6 Bulan PWNU untuk NU Care
Agenda penguatan di akar rumput ini kian matang dengan adanya program strategis dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Melalui jaringan filantropinya, PWNU Jatim dijadwalkan turun langsung melakukan pendampingan intensif program NU Care-LAZISNU ke tingkat ranting selama enam bulan ke depan.
Untuk wilayah Wonomerto, Ranting NU Pohsangit Ngisor telah ditunjuk dan dipersiapkan sebagai salah satu ranting prioritas yang menjadi proyek percontohan (pilot project) penguatan program kemandirian umat tersebut.
Gayung bersambut, Ketua MWCNU Wonomerto, M. Muhsin, menyatakan kesiapan jajarannya untuk mengawal ketat program pendampingan dari wilayah sekaligus instruksi konsolidasi dari cabang. Ia menegaskan bahwa forum rutinan seperti ini adalah momentum strategis untuk mengeksekusi program kerja nyata.
“Kegiatan rutin ini adalah laboratorium kita. Di sinilah forum penguatan spiritual, ukhuwah Nahdliyah, sekaligus media efektif untuk menyukseskan program organisasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Muhsin.
Sinergi LAZISNU dan Kemandirian Jamaah
Ketua LAZISNU PCNU Kabupaten Probolinggo, Dewi Puspa Ernawati, memaparkan bahwa model pendampingan tersebut akan diintegrasikan dengan program “NU Care Berdaya”.
Program ini mencakup pemberdayaan ekonomi umat, layanan kesehatan, pendidikan, hingga aksi sosial berbasis Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS).
Dewi menekankan bahwa gerakan Koin NU yang selama ini berjalan terbukti menjadi instrumen gotong royong yang ampuh bagi warga Nahdliyin.
“Gerakan Koin NU bukan sekadar mengumpulkan uang, tapi merupakan instrumen kemandirian masyarakat dan penguatan ekonomi yang berbasis langsung pada jamaah,” terang Dewi.
“Melalui pendampingan enam bulan dari PWNU Jatim nanti, Ranting Pohsangit Ngisor akan kita maksimalkan sebagai percontohan tata kelola NU Care yang akuntabel dan berdampak luas,” tambah Dewi.
Apresiasi Pemerintah dan Tradisi Kitab Kuning
Di sisi lain, konsistensi MWCNU Wonomerto dalam merawat tradisi keilmuan mendapat apresiasi tinggi dari jajaran Pemerintah Kecamatan. Camat Wonomerto, Rosyidi, yang hadir bersama Danramil dan Kepala KUA Wonomerto, Wawan Ali Suhudi, mengaku kagum dengan istiqamahnya kajian kitab kuning di wilayahnya.
“Tradisi mengkaji kitab kuning ini harus terus diistiqamahkan untuk mengimbangi derasnya arus informasi dan berbagai kajian di media sosial atau YouTube. Ini adalah benteng dan ciri khas Jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” puji Rosyidi.
Sebagai bentuk dukungan, Camat Rosyidi menyatakan bahwa Pemcam Wonomerto siap memfasilitasi berbagai kegiatan NU ke depan, termasuk mempersilakan penggunaan pendopo kecamatan jika dibutuhkan.
Acara rutinan yang berlangsung khidmat di rumah Ibu Endang tersebut diawali dengan pembacaan istighosah yang dipimpin oleh Rois Syuriyah MWCNU Wonomerto, KH Andil Malik Damanhuri, dan dilanjutkan dengan kajian tauhid kitab kuning oleh Ustadz Syamsuli Akbar. (*)
- Penulis: Ansori
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar