Breaking News
dark_mode
Trending

Disrupsi Digital dan Reaktualisasi Moral Pesantren

  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

RIUH rendah jagat digital hari ini tidak sekadar mengubah cara manusia berkomunikasi, melainkan telah meredefinisikan ruang hidup dan interaksi sosial kita. Di tengah pusaran disrupsi dan derasnya arus informasi media sosial, lembaga pendidikan Islam tradisional seperti pesantren kini dihadapkan pada tantangan eksistensial yang kompleks.

Sosiolog Ali Shariati (1971) jauh-jauh hari telah mengkhawatirkan konsekuensi dari modernitas yang tuna-moral, yang menurutnya hanya akan melahirkan manusia-manusia mekanis tanpa arah spiritual.

Pesantren, dengan akar historis dan tradisinya, sesungguhnya memegang modal moral yang kokoh untuk membendung kecenderungan tersebut. Namun, urgensi hari ini bukan lagi sekadar merawat tradisi, melainkan bagaimana mengintegrasikan modal moral tersebut dengan kompetensi digital yang relevan dengan gerak zaman.

Untuk menjawab tantangan zaman tersebut, pesantren di era digital harus memiliki keberanian untuk melakukan autokritik dan transformasi kelembagaan. Langkah mendasar yang paling krusial dimulai dari pembenahan tata kelola internal, khususnya dalam membangun sistem perlindungan santri yang profesional.

Realitas pahit mengenai mencuatnya kasus kekerasan maupun pelecehan seksual di lingkungan pendidikan yang belakangan kerap viral di media sosial, tidak boleh lagi direspons dengan sikap penyangkalan demi dalih menjaga nama baik korps.

Pesantren perlu mengadopsi sistem manajemen modern dengan membentuk unit perlindungan santri yang independen, menyediakan kanal pengaduan yang akuntabel, serta membuka diri untuk bekerja sama dengan lembaga profesional eksternal.

Keterbukaan dalam penegakan keadilan kelembagaan ini justru akan menjadi legitimasi moral yang memperkuat marwah pesantren di mata publik.

Selanjutnya, transformasi ini harus menyentuh wilayah epistemik melalui reaktualisasi kurikulum. Pendalaman terhadap khazanah kitab kuning klasik perlu diintegrasikan secara organik dengan literasi digital, komunikasi publik, dan etika bermedia (cyber ethics).

Para santri harus ditanamkan kesadaran bahwa setiap aktivitas di ruang siber meninggalkan jejak digital yang permanen. Meminjam tesis Yuval Noah Harari (2015) dalam dunia yang “tidak mengenal lupa”, data telah menjelma sebagai bentuk kekuasaan dan hegemoni baru.

Oleh karena itu, institusi pesantren memikul tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi tafaqquh fiddin yang sekaligus mampu memosisikan diri sebagai warga digital (digital citizen) yang cerdas, kritis, dan beretika.Lebih jauh lagi, perubahan paradigma juga harus dilakukan dalam cara pesantren membangun komunikasi publik.

Selama ini, institusi pesantren cenderung mengambil posisi defensif dan baru merespons ketika diterpa isu-isu miring di ruang publik.
Pola komunikasi yang reaktif ini harus digeser menuju strategi yang lebih aktif dan produktif dalam memproduksi narasi-narasi kebaikan di ruang digital. Akun-akun resmi, situs web interaktif, kanal dakwah visual, hingga produk industri kreatif santri harus didorong untuk menguasai ruang siber. Pesantren harus menjadi aktor utama yang memimpin orkestrasi wacana keagamaan yang inklusif, bukan sekadar menjadi pemadam kebakaran di tengah krisis kepercayaan digital.

Pada akhirnya, adaptasi pesantren terhadap gelombang modernitas digital bukanlah sebuah bentuk penyerahan diri yang menghilangkan jati diri orisinalnya. Sebaliknya, di tengah pendangkalan makna dan polarisasi yang akut di media sosial, pesantren justru berkesempatan menampilkan keunggulan spiritualnya yang mendalam.

Keterbukaan digital yang diimbangi dengan kebijaksanaan spiritual akan mengubah dunia maya yang bising menjadi ladang dakwah yang transformatif. Dengan tata kelola yang profesional, literasi yang matang, dan niat yang lurus, santri masa kini tidak hanya akan bertahan dari gempuran zaman, melainkan tampil memimpin peradaban dengan membawa wajah Islam yang meneduhkan dan mencerahkan. (*)

  • Penulis: Imamuddin Nur Fajri, Warga NU, Alumni Pesantren di Probolinggo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMG 20260523 WA0026

    Konsisten! GP Ansor Kuripan Rawat Tradisi Lewat Rijalul Ansor

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Agus Budi Cahyono
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO- Konsistensi merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah terus ditunjukkan oleh PAC GP Ansor Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo. Melalui MDS Rijalul Ansor yang digelar rutin di Kantor MWCNU setempat, mereka menyatukan visi para tokoh agama dan pemerintah demi membangun daerah yang maslahat. “Kami ingin menyatukan visi untuk Kuripan yang ‘Adem’ (aman, damai, tenteram) dan sejahtera. Kolaborasi […]

  • WhatsApp Image 2025 06 16 at 17.04.24 f6bf6799

    Jalan Sehat 1000 Sahabat Fatayat NU Probolinggo: Aksi Nyata untuk Kesehatan dan Pemberdayaan Perempuan

    • calendar_month Senin, 16 Jun 2025
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    = Probolinggo, nuprobolinggo.or.id Sebagai wujud komitmen dalam mendukung program pemerintah di bidang kesehatan, PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo menggelar acara Jalan Sehat 1000 Sahabat Fatayat NU yang sukses diikuti oleh lebih dari 1200 peserta. Acara yang diadakan pada 15 Juni 2025 ini merupakan hasil kerja sama antara PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo, PW Fatayat NU […]

  • FB IMG

    PCNU Kabupaten Probolinggo Tegas Tolak Kebijakan Lima Hari Sekolah

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 1Komentar

    PROBOLINGGO– Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama atau PCNU Kabupaten Probolinggo secara resmi menyatakan penolakan terhadap rencana penerapan kebijakan lima hari sekolah bagi jenjang Sekolah Dasar (SD) di wilayah setempat. Langkah ini diambil sebagai ikhtiar menjaga eksistensi Madrasah Diniyah (Madin) dan TPQ yang menjadi benteng pertahanan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah bagi generasi muda. Luka Lama yang […]

  • Merto

    Dari SWOT ke Program Kerja, MWCNU Wonomerto Matangkan Renstra 2026–2031

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
    • account_circle Syamsuli Akbar
    • 0Komentar

    WONOMERTO— Musyawarah Kerja (Musker) MWCNU Wonomerto, tak sekadar menjadi forum penyusunan program kerja. Ia menjadi tahap penting untuk menerjemahkan hasil refleksi, analisis, dan perencanaan strategis organisasi ke dalam agenda kerja yang lebih konkret, terukur, dan memiliki penanggung jawab yang jelas. Bertempat di Kantor MWC NU Wonomerto, Musker berlangsung Jumat (25/9/2026) mulai pukul 20.00 hingga 23.00 […]

  • WhatsApp Image 2026 01 26 at 10.04.31

    Menyatukan Frekuensi di Rumah Besar: Catatan dari Rakor dan Upgrading Kaderisasi IPNU IPPNU Probolinggo

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Suasana di Sekretariat PC NU Kabupaten Probolinggo tampak lebih dinamis pada Minggu pagi, 25 Januari 2026. Puluhan penggerak Departemen Kaderisasi berkumpul untuk satu tujuan besar: menyatukan langkah lewat agenda Rapat Koordinasi dan Upgrading. Mengusung tema besar “Sinkronisasi Gerak Kaderisasi”, acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat barisan di tengah tantangan zaman yang semakin […]

  • 230a27e5 d605 4ffa a7cb 493d9e875ec7

    Mencetak Pemimpin Nahdliyin Visioner, PAC IPNU IPPNU Leces Sukses Gelar LAKMUD III

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 0Komentar

    LECES – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Leces kembali meneguhkan komitmennya dalam merawat keberlanjutan organisasi. Melalui Latihan Kader Muda (LAKMUD) III yang digelar pada 14–17 Mei 2026, badan otonom NU ini sukses menggembleng para kader pilihan guna melahirkan generasi penerus yang progresif dan […]

expand_less