Breaking News
dark_mode
Trending

Madinah dan Tangis yang Tak Pernah Usai: Sebuah Catatan Perpisahan

  • calendar_month 10 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: H. Ahmad Zaini

MADINAH – Setelah menjalani rangkaian Ibadah Arbain, langkah kaki jemaah haji kloter awal asal Probolinggo kini telah meninggalkan pelataran Masjid Nabawi, Jumat lalu. Rombongan bergeser dari Madinah menuju Makkah untuk menunaikan tahapan ibadah haji selanjutnya.

Namun, meski fisik telah bergerak menjauh, ada getaran batin yang masih tertinggal di sudut-sudut kota Nabi.

Sebagai jemaah gelombang pertama di tahun 2026 ini, ingatan saya kembali pada tugas saya sebagai ketua rombongan.

Sebelum momen Ziarah Wada (perpisahan), saya sebenarnya sudah mencoba memprediksi skenarionya. Sebagai pemimpin, kewajiban saya adalah membimbing doa dan memberikan arahan agar suasana batin jemaah tetap terjaga.

Saya tahu betul titik emosionalnya. Yaitu saat harus meninggalkan Madinah Al-Munawwarah dan makam Rasulullah SAW.

Di sanalah awal dari kerinduan yang mendalam akan bermula. Saya sudah berniat mengatur suasana (setting) hati para jemaah agar mereka bisa merasakan kembali syahdunya suasana seolah masih di Raudah.

Namun, saat saya berdiri di depan mereka untuk menyampaikan hal tersebut, rencana itu gagal total. Engko dibi’ tak kuat (saya sendiri tidak kuat). Air mata saya keluar tak terbendung hingga tersedu-sedu (celeghen).

Kata demi kata yang ingin saya ucapkan hanya bisa keluar perlahan, mungkin satu kata setiap lima menit karena saking beratnya menahan gejolak emosi di dada. Bahkan saat ini, setiap kali bercerita tentang Madinah, saya tetap tidak sanggup menahannya.

Wakaf Pertama Rasulullah

Berziarah ke sana mengingatkan betapa luar biasanya perjuangan Rasulullah SAW untuk umatnya, termasuk Masjid Nabawi yang merupakan wakaf dari beliau sendiri.

Jauh sebelum kemegahannya saat ini, sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW menunggangi unta dalam perjalanan menuju Kota Madinah.

Ketika mendengar beliau hendak berkunjung, seluruh umat muslim di kota tersebut berkumpul menyambut dengan antusias. Masyarakat Madinah satu per satu menarik tali kekang pada unta Rasulullah, memohon agar beliau berhenti dan berkenan tinggal di rumah mereka.

Namun, unta tersebut akhirnya berhenti di depan bangunan milik dua anak yatim dari Bani Nijjar, yakni Suhail dan Sahl, yang merupakan tempat menjemur kurma.

Rasulullah SAW memanggil kedua anak yatim tersebut dan menawarkan untuk membeli tanah mereka. Meski kedua anak yatim itu dengan mulia berkata, “Justru kami akan memberikannya kepada Anda wahai Rasulullah SAW,” beliau tidak langsung menerima pemberian tersebut.

Melalui diskusi yang hangat, akhirnya didapati harga yang pantas sebagai kesepakatan untuk menebus tanah yang kini menjadi situs suci tersebut.

Kisah Muadzin Rasulullah

Saya teringat kisah Bilal bin Rabah yang mengalami duka mendalam setelah wafatnya Rasulullah SAW. Kepergian sang Nabi meninggalkan luka yang sulit diobati, terutama bagi Bilal yang setiap hari mengumandangkan azan untuk beliau.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa sejak saat itu, Bilal tidak lagi sanggup mengumandangkan azan di Madinah. Setiap kali sampai pada lafaz “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, ia akan tersungkur dan tak kuasa menahan tangis.

Kesedihan itu membawa Bilal memutuskan pindah ke Syam. Hingga suatu ketika, saat ia kembali mengunjungi Madinah karena kerinduan, cucu Rasulullah SAW memintanya untuk mengumandangkan azan kembali.

Saat suaranya menggema mencapai kalimat syahadat, seluruh penduduk Madinah menangis tersedu-sedu karena teringat sosok Baginda Nabi. Azan itu menjadi perpisahan terakhir bagi Bilal sebelum ia jatuh sakit dan wafat.

Di titik itulah saya merasa bahwa mengatur hati di hadapan Rasulullah tidaklah semudah mengatur kata-kata dalam berita. Tak keluar sowara, tak kellar (tidak keluar suara, tidak kuat).

Sebuah Keheningan Massal

Suasana batin yang saya alami ternyata diperkuat oleh kesaksian jemaah lain, termasuk mereka yang menjalani ibadah haji gelombang kedua—pergi ke Makkah terlebih dahulu baru kemudian ke Madinah.

Meski tahun dan gelombangnya berbeda, rasa kehilangan itu tetap sama tajamnya.

Bagi jemaah gelombang kedua, Madinah menjadi pelabuhan terakhir yang memberikan ketenangan luar biasa. Di Madinah, mereka hanya perlu fokus menjaga waktu shalat jemaah di Masjid Nabawi.

“Saya belum pernah tidak menangis (saat meninggalkan Madinah), meski sudah tiga kali ziarah ke sana,” ujar salah satu jemaah.

Suasana batin ini berlanjut hingga saat bus mulai bergerak menuju bandara. Jika biasanya perjalanan pulang disambut keceriaan karena akan bertemu keluarga, di Madinah justru sebaliknya.

“Satu bus terdiam seribu bahasa. Tidak ada yang ceria. Suasana begitu sunyi karena semua merasa sedang meninggalkan Rasulullah SAW. Bahkan, ada jemaah yang sampai pingsan karena tak kuasa menahan beratnya perpisahan,” kenang jemaah asal Madura tersebut.

Setiap jemaah membawa pulang luka rindu yang sama. Madinah bukan sekadar kota singgah, ia adalah tempat di mana hati kami tertinggal, tepat di sisi Baginda Nabi. (*)

  • Penulis: H. Ahmad Zaini
  • Editor: Muhammad Iqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMG 20260209

    Ziarah Muassis, Cara IPNU-IPPNU Wonomerto Jemput Berkah Jelang Konferancab VII

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 0Komentar

    WONOMERTO– Pimpinan Anak Cabang atau PAC IPNU dan IPPNU Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, memulai rangkaian menuju Konferensi Anak Cabang (Konferancab) VII dengan cara yang khidmat. Alih-alih sekadar seremoni, mereka memilih melakukan ziarah ke makam para muassis (pendiri) NU serta pendiri IPNU IPPNU sebagai upaya “mengetuk pintu langit” sekaligus refleksi ideologis bagi para kader, Jumat–Ahad (6–8/2/2026). Kegiatan […]

  • IMG 20250626 WA0047

    Sekolah Jurnalistik Jadi Sarana Peningkatan Literasi Pelajar NU Probolinggo

    • calendar_month Jumat, 27 Jun 2025
    • account_circle M Iqbal
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO — Upaya meningkatkan budaya literasi di kalangan pelajar NU terus digencarkan. Salah satunya melalui kegiatan Sekolah Jurnalistik dengan tema “Peningkatan Literasi Pelajar melalui Sekolah Jurnalistik” yang diselenggarakan di SMK NU Bantaran, Rabu (26/6/2025). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara KKN berbasis OBE Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo dengan PC IPNU Kabupaten Probolinggo, yang diikuti […]

  • WhatsApp Image 2026 05 01 at 16.15.38

    Hari Buruh 2026: Sarbumusi Probolinggo Desak Perusahaan Rekrut 80 Persen Warga Lokal

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle adminnuprob
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO– Momentum Peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di Kabupaten Probolinggo menjadi panggung bagi DPC Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) untuk menyuarakan hak-hak pekerja. Dalam tasyakuran di Alun-alun Kraksaan, Ahad (01/05/2026), banom NU ini melayangkan delapan tuntutan strategis kepada pemerintah dan pengusaha. Ketua DPC K-Sarbumusi Kabupaten Probolinggo, Babul Arifandhie, menekankan bahwa salah satu poin paling […]

  • 8410606d 6e93 4d25 9631 3b290a181dfc

    Calista, Putri Sahabat Fatayat Dengan Segudang Prestasi di Bidang Seni

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Probolinggo, SumberasihNaura Calista Ramadhani namanya. Ia adalah anak usia 7 tahun yang merupakan siswi dari MI NU Hidayatul Ula, Probolinggo. Calista adalah anak kecil yang suka akan seni. Tepatnya mewarnai dan bernyanyi, maka tak heran dalam usia 7 tahun Calista sudah banyak mendapatkan penghargaan. Salah satunya adalah juara 1 menyanyi tingkat sekolah (RA Hidayatul Ma’arif), […]

  • 1000439898

    ASWAJA NU Center Probolinggo Jaga Ruh Kebersamaan

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle M Iqbal
    • 0Komentar
  • Images

    Catatan Perjalanan Haji: ‘Drama’ Aplikasi Nusuk dan Tangis di Madinah

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle H. Ahmad Zaini
    • 0Komentar

    Oleh: H. Ahmad Zaini MADINAH – Menjadi pelayan tamu Allah (Dhuyufurrahman) memang penuh warna. Bukan hanya soal membimbing ibadah, tapi juga harus siap menjadi teknisi dadakan hingga penengah urusan rumah tangga jemaah. Pengalaman unik ini saya alami sendiri saat mendampingi rombongan jemaah haji asal Kabupaten Probolinggo di bawah payung Masjid Nabawi, Kota Madinah, yang megah. […]

expand_less