Dai Muda dan Tantangannya
- calendar_month 19 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
REFLEKSI SUMPAH PEMUDA 2026
Oleh: LDNU – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kabupaten Probolinggo
SETIAP 28 Oktober, kita tidak hanya memperingati ikrar, tapi memperbarui janji. Jika 98 tahun lalu (1928) para pemuda bersumpah dengan darah dan air mata untuk satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, maka hari ini, Dai Muda harus bersumpah untuk satu perjuangan yang sama beratnya: menjaga persatuan umat di tengah badai perpecahan zaman.
Jika dulu musuh kita adalah penjajah yang terlihat, hari ini musuh kita adalah penjajah yang tidak terlihat: penjajah pikiran, penjajah akhlak, penjajah identitas.
Inilah 5 tantangan terbesar Dai Muda di era digital ini:
1. Tantangan Pertama: Dakwah di Tengah Algoritma, Bukan di Atas Mimbar.
Dulu Kiai cukup naik mimbar, jamaah datang. Hari ini, mimbar kita telah pindah ke HP. Jamaah kita scroll TikTok 7 jam sehari.
Tantangannya: Algoritma lebih suka joget-joget daripada ngaji. Lebih suka ghibah daripada hikmah.
Dai muda tidak boleh hanya jago kitab kuning, tapi harus melek digital. Jika dakwah kita tidak masuk ke TikTok, Instagram, dan WhatsApp, maka ruang itu akan diisi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kita harus merebut kembali medan dakwah digital.
Dai muda harus menjadi influencer kebaikan, bukan follower keburukan.
2. Tantangan Kedua: Antara Viral dan Ikhlas.
Ini penyakit paling berbahaya. Dai muda mudah tergoda untuk mengejar viral daripada mengejar ridho Allah. Membuat judul yang bombastis, membuat konten yang kontroversial demi views.
Padahal, pesan Imam Al-Qurthubi sangat jelas: Dunia itu seperti air, jika berlebihan akan menenggelamkan. Popularitas adalah dunia. Jika berlebihan, ia akan menenggelamkan keikhlasan.
Tantangan kita adalah bagaimana tetap istiqomah berdakwah meski yang nonton hanya 10 orang. Karena Allah tidak menilai berapa banyak viewer, tapi seberapa tulus niat kita.
3. Tantangan Ketiga: Menjawab Keraguan, Bukan Menambah Kebencian.
Anak muda hari ini bukan butuh dai yang suka marah-marah, membid’ahkan, mengkafirkan. Mereka butuh dai yang merangkul, yang mendengarkan.
Mereka bertanya: “Kenapa harus ikut NU? Kenapa harus tahlilan? Kenapa Islam melarang ini dan itu?” Jika dai muda menjawabnya dengan emosi dan dalil yang kaku, mereka akan lari.
Dai muda harus seperti yang dipesankan Sayyidina Ibnu Mas’ud: عَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ – Bersamalah dengan Jamaah. Rangkul mereka, jangan pukul. Dekati mereka, jangan jauhi. Jadilah sahabat, bukan hakim.
4. Tantangan Keempat: Krisis Keteladanan.
Pemuda Sumpah Pemuda 1928 mengorbankan segalanya. Pemuda hari ini banyak yang mengorbankan segalanya demi konten.
Dai muda harus menjadi contoh bahwa menjadi santri itu keren, menjadi pejuang jamaah itu membanggakan.
Bagaimana kita mau mengajak jamaah Tahajjud dan Subuh berjamaah sebagai kunci kesuksesan, jika kita sendiri subuhnya kesiangan? Bagaimana mau mengajak hidup sederhana, jika di media sosial kita pamer kemewahan?
Keteladanan adalah dakwah paling mahal dan paling didengar.
5. Tantangan Kelima: Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan.
Inilah ruh Sumpah Pemuda. Di saat banyak pihak ingin memecah belah Indonesia dengan isu SARA, politik identitas, dan hoaks, Dai Muda NU harus berdiri di garda terdepan sebagai perekat.
Jangan mau diadu domba. Jangan mau memisahkan diri dari jamaah besar bangsa ini. Ingat dawuh: يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ – Pertolongan Allah bersama Jamaah. Jika kita bersatu, Indonesia kuat. Jika kita pecah, kita akan tenggelam seperti air yang meluap.
Khatimah: Sumpah Dai Muda 2026
Maka di Hari Sumpah Pemuda ini, mari kita para Dai Muda LDNU bersumpah kembali:
Kami Dai Muda Nahdlatul Ulama, bersumpah:
Bertanah Air Satu, Tanah Air Dakwah Digital yang Ramah,
Berbangsa Satu, Bangsa yang Ber-Akhlakul Karimah,
Berbahasa Satu, Bahasa Persatuan dan Cinta Kasih.
Semoga dari mimbar-mimbar kecil di Probolinggo, dari status-status dakwah di HP kita, lahir kembali persatuan Indonesia yang kokoh.
Hidup Pemuda Indonesia! Hidup Dai Muda NU!
Wallahu A’lam.
Oleh: Panglima Dai Muda NU Kabupaten Probolinggo
- Penulis: LDNU Kabupaten Probolinggo
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar