Puncak Tadarus MWCNU Sumberasih, Jemput Lailatul Qadar, Perkuat Barisan
- calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMBERASIH – Memanfaatkan momentum mustajab malam ke-27 Ramadhan 1447 H, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, menggelar “Malam Puncak Tadarus Bersama Ranting dan Banom” pada Senin (16/03/2026).
Bertempat di Kantor MWCNU setempat, agenda ini bukan sekadar khataman Al-Qur’an, melainkan menjadi panggung konsolidasi akbar untuk menyatukan visi harakah (gerakan) dan amaliyah (praktik ibadah) di seluruh tingkatan kepengurusan.
Acara ini mempertemukan jajaran Syuriyah, Tanfidziyah, pengurus Ranting, hingga seluruh Badan Otonom (Banom) dan Lembaga di bawah naungan NU Sumberasih dalam satu barisan khidmat.
Menjemput Berkah di Malam Ganjil
Kegiatan dimulai sejak bakda tarawih dengan pembacaan khatmil Qur’an yang diikuti khidmat oleh para kader. Suasana kantor MWCNU tampak hangat dengan kehadiran para kiai, santri, dan penggerak organisasi yang membaur tanpa sekat.
Dalam sambutannya, Ketua MWCNU Sumberasih, Kiai Fauzan Adziman menekankan, kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian tadarus yang telah berjalan selama bulan suci.
Menurutnya, memilih malam ke-27 sebagai malam puncak adalah bagian dari ikhtiar batiniah atau tabarrukan (mencari berkah) di hari-hari terakhir Ramadhan.
“Malam ini kita berkumpul bukan hanya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an secara lisan, tapi juga mengkhatamkan ego sektoral antar lembaga. Kita satukan niat untuk berkhidmah kepada para muassis (pendiri) NU melalui gerakan bersama antara Ranting, Ansor, IPNU, hingga LAZISNU,” ujarnya di hadapan jamaah.
Sinergi Banom dan Lembaga
Tampak hadir dalam acara tersebut, kader GP Ansor dan Banser yang sigap mengawal jalannya acara, serta rekan-rekan IPNU yang merepresentasikan regenerasi NU di masa depan. Tak ketinggalan, jajaran NU Care-LAZISNU Sumberasih juga turut hadir, memperkuat pesan bahwa NU hadir di tengah masyarakat baik secara spiritual maupun sosial.
Sinergi ini dinilai penting untuk memastikan program-program keumatan di tingkat kecamatan tetap berjalan selaras dengan garis perjuangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Konsolidasi di tingkat akar rumput (Ranting) menjadi kunci utama agar dakwah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah tetap kokoh di tengah tantangan zaman.
Pesan Kedamaian dan Doa Bangsa
Selain tadarus, acara diisi dengan mauidzah hasanah singkat oleh Rais MWCNU Sumberasih, Kiai Ahmad Syair. Beliau berpesan agar warga Nahdliyin selalu menjaga lisan dan hati, terutama dalam menghadapi dinamika sosial pasca-Ramadhan nanti.
“Inti dari Al-Qur’an adalah rahmat. Maka, kader NU di Sumberasih harus menjadi rahmat bagi lingkungannya. Jangan sampai semangat tadarusnya tinggi, tapi semangat silaturahminya rendah. Malam puncak ini adalah simbol bahwa NU adalah rumah besar bagi kita semua,” tuturnya menyejukkan.
Acara diakhiri dengan doa bersama yang dikhususkan untuk para masyayikh, keselamatan bangsa Indonesia, serta kemajuan jam’iyah Nahdlatul Ulama. Setelah doa, para pengurus menikmati ramah tamah sederhana sebagai wujud syukur atas kelancaran ibadah di bulan Ramadhan tahun ini. (*)
- Penulis: Aswandi
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar