Kisah Jenaka Jemaah Haji Probolinggo: Mengira Madu Hitam, Sekalinya Petis Madura!
- calendar_month 22 jam yang lalu
- print Cetak

Pasar dadakan di depan hotel jemaah haji. Menjual antara lain sayur-sayuran
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: H. Ahmad Zaini dari Makkah
MAKKAH– Menjalankan ibadah haji selama kurang lebih 40 hari di Arab Saudi ternyata bukan hanya perihal ketahanan fisik dan spiritual. Bagi sebagian besar jemaah asal Indonesia, ada satu ujian senyap yang kerap kali menguji ketangguhan mereka: ujian lidah.
Setelah tinggal hampir 30 hari di tanah suci, setelah melewati fase Madinah dan kini menetap di Makkah, kerinduan akut (homesick) terhadap rumah mulai melanda.
Makanan katering haji yang cenderung “bermain aman” sering kali membuat lidah jemaah merindukan hantaman rasa yang tegas, pedas, dan gurih khas tanah air.
Di sini, rasa memang bisa menjadi sangat relatif. Berdasarkan pengamatan di lapangan, masakan sepopuler bakso atau nasi goreng sekalipun, jika diolah di Arab Saudi, rasanya akan tetap ke-Arab-araban.
Ada rasa sosiologis dan sentuhan bumbu tanah air yang hilang dan tak bisa digantikan oleh dapur maktab.
Namun, bagi jemaah asal kawasan Tapal Kuda atau wilayah Pendalungan (akulturasi Jawa-Madura) seperti Kabupaten Probolinggo, mereka punya “jurus spiritual” tersendiri saat menghadapi makanan yang terasa asing di lidah. Sebuah tips unik yang sempat dibagikan oleh petugas haji saat jemaah masih berada di Embarkasi Sukolilo, Surabaya.
Jurus yang paling ampuh itu ternyata bukan logistik fisik, melainkan kekuatan doa. Doanya sederhana namun bermakna pasrah: “Bismillahirrahmanirrahim, nyaman (enak)!” Sebuah mantra penerimaan hati agar apa pun makanan yang tersaji bisa bersahabat dengan lidah demi menjaga stamina ibadah.
Solidaritas Berbasis ‘Ulekan’ dan Sambal
Di tengah keterbatasan rasa itu, muncullah kearifan lokal dalam bentuk solidaritas komunal antar-jemaah. Kamar-kamar hotel di Makkah seketika berubah menjadi ruang berbagi logistik tersembunyi.
Fenomena di hotel memperlihatkan jemaah yang berusia di atas 50 tahun sering kali kedapatan hanya memakan nasi putihnya saja karena tidak cocok dengan lauk katering.
Penyelamatnya? Tentu saja bekal yang ‘diselundupkan’ dari kampung halaman. Mulai dari jemudin (marning jagung khas Probolinggo), serundeng kelapa, ikan teri goreng, sambal pabrikan, hingga kecap.
Bahkan, ada jemaah yang nekat membawa cobek batu dari rumah demi bisa merasakan kesegaran sambal ulek di kamar hotel.
Keriuhan kecil biasanya pecah saat aroma sambal atau petis bawaan mulai menyeruak di sudut kamar, disusul celotehan puas khas bahasa daerah: “Ye nyaman sara!” (Ya enak sekali!).
Mengira Madu Hitam, Sekalinya Petis Madura
Namun, puncak dari segala romantika kuliner di tanah suci ini melahirkan sebuah anekdot jenaka yang mengguncang satu maktab.
Kisah bermula dari kebaikan Nyai Hj. Zulfa Badri. Pengasuh Ponpes Al-Masduqiyah itu berniat membagikan sisa bekal logistik bawaannya kepada para jemaah melalui ketua rombongan. Ada mi instan, Pop Mie, hingga lauk-pauk kering.
Di dasar sebuah kantong plastik, ditemukan sebuah botol bekas air mineral yang berisi cairan kental berwarna hitam pekat.
Melihat penampakannya, botol itu langsung diumumkan kepada jemaah lain yang sedang mengeluhkan kondisi fisik dan bibir pecah-pecah akibat cuaca panas kota Makkah.
“Wah, ini ada Madu Hitam! Bagus ini untuk kesehatan, bisa dioleskan ke bibir biar tidak sariawan dan bibir kering cepat sembuh!” seru ketua rombongan penuh yakin saat membagikannya.
Mendengar kata “Madu Hitam” yang berkhasiat, para jemaah seketika riuh. Dengan penuh semangat dan harapan akan kesembuhan, mereka mengantre dengan tertib. Masing-masing memegang gelas plastik kecil—gelas bekas air Zam-zam—berharap mendapatkan setetes berkah madu hitam tersebut.
Pembagian pun dilakukan dengan adil: setetes demi setetes ke wadah masing-masing. Botol mineral itu pun ludes bersih.
Lalu, apa yang terjadi kemudian?
Jemaah pertama yang menenggak cairan hitam itu langsung membelalakkan mata. Alih-alih mengecap rasa manis-pahit khas madu hutan yang menghangatkan tenggorokan, lidahnya justru dihantam oleh rasa asin, gurih yang pekat, dan aroma udang kupang yang menyengat tajam.
“Benni madduh, benni (Bukan madu, bukan)!” teriak jemaah pertama itu syok.
“Napa (Apa)?” jemaah lain menyahut heran.
“PETTIS!”
Seketika tawa pecah bergemuruh di dalam kamar hotel, mengalahkan rasa lelah setelah aktivitas seharian. Jemaah yang awalnya bersemangat tinggi mengira akan meminum madu obat, mendadak lemas sekaligus terpingkal-pingkal karena menyadari mereka baru saja menenggak petis matang murni tanpa nasi ataupun tahu goreng.
Secara gastronomi dan sosiologis, petis Madura yang matang memang memiliki tekstur pekat dan kilau visual yang sangat mirip dengan madu hitam. Kesalahan pandangan (visual illusion) ini berujung pada kejutan sensorik lidah yang tak terlupakan.
Bagi jemaah haji Indonesia, petis barangkali memang tidak semanis madu. Namun, di tengah gersangnya kota Makkah dan kerinduan pada kampung halaman, kehadiran petis—meski berujung salah sangka yang jenaka—tetap menjadi obat paling mujarab bagi berkumpulnya kebahagiaan dan kehangatan persaudaraan sesama jemaah. (*)
- Penulis: H. Ahmad Zaini
- Editor: Muhamamd Iqbal

Saat ini belum ada komentar