
Probolinggo, Jawa Timur – Di pelosok Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, seorang anak perempuan bernama Dzahin Alaisa tumbuh menjadi inspirasi bagi banyak orang. Lahir pada 26 Agustus 2016, Dzahin kini berusia 7 tahun dan telah menghafal Juz 30 Al-Qur’an, serta bercita-cita menjadi seorang Hafidzoh.
Dzahin adalah siswi aktif di MI Tarbiyatul Ula Desa Sumberkare, Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Sejak duduk di kelas 1, ia telah menunjukkan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an. Kini, saat duduk di kelas 3, semangatnya semakin kuat—bahkan ia sudah memulai hafalan ke juz berikutnya.
Yang luar biasa, Dzahin menjalani semua itu setelah kehilangan sang ayah di usia 5 tahun, saat ia masih duduk di TK kecil. Adik laki-lakinya kala itu bahkan baru berusia 21 hari. Namun, status yatim tak membuatnya terpuruk. Ia justru menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai bentuk baktinya kepada orang tua, terutama kepada ayahnya yang telah tiada.
“Aku ingin menjadi Hafidzoh, supaya bisa hadiahkan mahkota untuk Ayah di surga,” ucap Dzahin dengan penuh keyakinan.
Semangat Dzahin tak lepas dari peran besar sang ibunda, Chofidatur Rodiyah, seorang ibu yang tak hanya tegar membesarkan anak-anaknya, tetapi juga aktif sebagai anggota komunitas Hafidzoh Fatayat NU Kabupaten Probolinggo. Di tengah kesibukannya sebagai ibu, Rodiyah terus memberi teladan bahwa hidup harus dijalani dengan syukur, tekad, dan nilai-nilai Qur’ani.
“Saya hanya berusaha mendampingi dan mendoakan. Dzahin punya tekad kuat sendiri. Sejak kecil sudah senang mendengar murotal dan ikut menghafal sendiri di rumah. Saya bersyukur Allah titipkan anak seperti dia,” ungkap Rodiyah.
Kisah Dzahin adalah pengingat bahwa kekuatan sejati datang dari iman dan ilmu. Di tengah keterbatasan, Al-Qur’an menjadi sumber kekuatan yang membentuk akhlak, mental, dan cita-cita.
Dzahin menjadi bukti bahwa dari desa kecil seperti Sumberkare pun bisa lahir bintang yang bersinar terang. Ia menginspirasi banyak anak seusianya bahwa menjadi penghafal Qur’an bukan hanya mungkin, tapi mulia. Dan bahwa setiap anak Indonesia, dari kota hingga desa, punya peluang besar untuk meraih kemuliaan dengan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup.