Breaking News
dark_mode
Trending

Kisah Jenaka Jemaah Haji Probolinggo: Mengira Madu Hitam, Sekalinya Petis Madura!

  • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: H. Ahmad Zaini dari Makkah

MAKKAH– Menjalankan ibadah haji selama kurang lebih 40 hari di Arab Saudi ternyata bukan hanya perihal ketahanan fisik dan spiritual. Bagi sebagian besar jemaah asal Indonesia, ada satu ujian senyap yang kerap kali menguji ketangguhan mereka: ujian lidah.

Setelah tinggal hampir 30 hari di tanah suci, setelah melewati fase Madinah dan kini menetap di Makkah, kerinduan akut (homesick) terhadap rumah mulai melanda.

Makanan katering haji yang cenderung “bermain aman” sering kali membuat lidah jemaah merindukan hantaman rasa yang tegas, pedas, dan gurih khas tanah air.

Di sini, rasa memang bisa menjadi sangat relatif. Berdasarkan pengamatan di lapangan, masakan sepopuler bakso atau nasi goreng sekalipun, jika diolah di Arab Saudi, rasanya akan tetap ke-Arab-araban.

Ada rasa sosiologis dan sentuhan bumbu tanah air yang hilang dan tak bisa digantikan oleh dapur maktab.

Namun, bagi jemaah asal kawasan Tapal Kuda atau wilayah Pendalungan (akulturasi Jawa-Madura) seperti Kabupaten Probolinggo, mereka punya “jurus spiritual” tersendiri saat menghadapi makanan yang terasa asing di lidah. Sebuah tips unik yang sempat dibagikan oleh petugas haji saat jemaah masih berada di Embarkasi Sukolilo, Surabaya.

Jurus yang paling ampuh itu ternyata bukan logistik fisik, melainkan kekuatan doa. Doanya sederhana namun bermakna pasrah: “Bismillahirrahmanirrahim, nyaman (enak)!” Sebuah mantra penerimaan hati agar apa pun makanan yang tersaji bisa bersahabat dengan lidah demi menjaga stamina ibadah.

Solidaritas Berbasis ‘Ulekan’ dan Sambal

Di tengah keterbatasan rasa itu, muncullah kearifan lokal dalam bentuk solidaritas komunal antar-jemaah. Kamar-kamar hotel di Makkah seketika berubah menjadi ruang berbagi logistik tersembunyi.

Fenomena di hotel memperlihatkan jemaah yang berusia di atas 50 tahun sering kali kedapatan hanya memakan nasi putihnya saja karena tidak cocok dengan lauk katering.

Penyelamatnya? Tentu saja bekal yang ‘diselundupkan’ dari kampung halaman. Mulai dari jemudin (marning jagung khas Probolinggo), serundeng kelapa, ikan teri goreng, sambal pabrikan, hingga kecap.

Bahkan, ada jemaah yang nekat membawa cobek batu dari rumah demi bisa merasakan kesegaran sambal ulek di kamar hotel.

Keriuhan kecil biasanya pecah saat aroma sambal atau petis bawaan mulai menyeruak di sudut kamar, disusul celotehan puas khas bahasa daerah: “Ye nyaman sara!” (Ya enak sekali!).

Mengira Madu Hitam, Sekalinya Petis Madura

Namun, puncak dari segala romantika kuliner di tanah suci ini melahirkan sebuah anekdot jenaka yang mengguncang satu maktab.

Kisah bermula dari kebaikan Nyai Hj. Zulfa Badri. Pengasuh Ponpes Al-Masduqiyah itu berniat membagikan sisa bekal logistik bawaannya kepada para jemaah melalui ketua rombongan. Ada mi instan, Pop Mie, hingga lauk-pauk kering.

Di dasar sebuah kantong plastik, ditemukan sebuah botol bekas air mineral yang berisi cairan kental berwarna hitam pekat.

Melihat penampakannya, botol itu langsung diumumkan kepada jemaah lain yang sedang mengeluhkan kondisi fisik dan bibir pecah-pecah akibat cuaca panas kota Makkah.

“Wah, ini ada Madu Hitam! Bagus ini untuk kesehatan, bisa dioleskan ke bibir biar tidak sariawan dan bibir kering cepat sembuh!” seru ketua rombongan penuh yakin saat membagikannya.

Mendengar kata “Madu Hitam” yang berkhasiat, para jemaah seketika riuh. Dengan penuh semangat dan harapan akan kesembuhan, mereka mengantre dengan tertib. Masing-masing memegang gelas plastik kecil—gelas bekas air Zam-zam—berharap mendapatkan setetes berkah madu hitam tersebut.

Pembagian pun dilakukan dengan adil: setetes demi setetes ke wadah masing-masing. Botol mineral itu pun ludes bersih.

Lalu, apa yang terjadi kemudian?

Jemaah pertama yang menenggak cairan hitam itu langsung membelalakkan mata. Alih-alih mengecap rasa manis-pahit khas madu hutan yang menghangatkan tenggorokan, lidahnya justru dihantam oleh rasa asin, gurih yang pekat, dan aroma udang kupang yang menyengat tajam.

“Benni madduh, benni (Bukan madu, bukan)!” teriak jemaah pertama itu syok.

“Napa (Apa)?” jemaah lain menyahut heran.

“PETTIS!”

Seketika tawa pecah bergemuruh di dalam kamar hotel, mengalahkan rasa lelah setelah aktivitas seharian. Jemaah yang awalnya bersemangat tinggi mengira akan meminum madu obat, mendadak lemas sekaligus terpingkal-pingkal karena menyadari mereka baru saja menenggak petis matang murni tanpa nasi ataupun tahu goreng.

Secara gastronomi dan sosiologis, petis Madura yang matang memang memiliki tekstur pekat dan kilau visual yang sangat mirip dengan madu hitam. Kesalahan pandangan (visual illusion) ini berujung pada kejutan sensorik lidah yang tak terlupakan.

Bagi jemaah haji Indonesia, petis barangkali memang tidak semanis madu. Namun, di tengah gersangnya kota Makkah dan kerinduan pada kampung halaman, kehadiran petis—meski berujung salah sangka yang jenaka—tetap menjadi obat paling mujarab bagi berkumpulnya kebahagiaan dan kehangatan persaudaraan sesama jemaah. (*)

  • Penulis: H. Ahmad Zaini
  • Editor: Muhamamd Iqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMG 20260418 WA0034

    Ketua PCNU Probolinggo: Halal Bihalal Ini ‘Kick Off’ Khidmah Kita

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle M Iqbal
    • 0Komentar

    Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo, Kiai Teguh Mahameru Zainul Hasan, menegaskan bahwa momentum halal bihalal tahun ini bukan sekadar ajang silaturahmi biasa. Ia menyebut pertemuan ini sebagai kick off atau titik mula pengabdian total bagi seluruh jajaran pengurus dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama. “Halal bihalal ini harus menjadi kick off untuk kita […]

  • SAPA FATAYAT

    Fatayat NU Probolinggo Hadir di Tiktok dengan “Sapa Fatayat” Selama Bulan Ramadhan

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Probolinggo – Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Probolinggo menghadirkan program bertajuk “Sapa Fatayat” (Santai Penuh Pahala Bersama Fatayat) selama bulan suci Ramadhan melalui platform TikTok dengan live streaming. Program ini menjadi langkah inovatif dalam memperluas dakwah dan mempererat silaturahmi dengan masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Sofia, Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo menyampaikan bahwa kehadiran […]

  • IMG 20250418 WA0019

    Harjakapro, Berikut Harapan Fatayat NU Kabupaten Probolinggo

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Siti Nurhaliza
    • 0Komentar

    Dibawah Kepemimpinan Gus Haris dan Ra Fahmi sebagai Bupati dan Wakil Bupati telah membuka berbagai peluang besar bagi Probolinggo untuk berkembang lebih pesat. Visi Probolinggo SAE (Sejahtera, Amanah, Religius, Eksis, dan Berdaya Saing) yang digagas oleh pemerintah daerah merupakan sebuah peta jalan yang komprehensif, tidak hanya dalam hal pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia yang […]

  • Suasana Proses Pelantikan Pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo.

    Anggota DPRD Probolinggo Junaedi, Dilantik Jadi Pengurus ASWAJA NU Center PCNU

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Saifullah
    • 0Komentar

    TEGALSIWALAN– Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Junaedi dari Fraksi PPP, resmi dilantik sebagai Bendahara ASWAJA NU Center dalam pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo periode 2026–2031. Pelantikan pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo digelar di Halaman Pondok Pesantren Darul Mukhlashin, Kecamatan Tegalsiwalan, pada Minggu, 7 Juni 2026. Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, dan […]

  • Keutuhan

    Ketua PCNU Ingatkan Kandidat Utamakan Keutuhan Ansor Pasca Konfercab

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Moch. Sulaiman
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO – Menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) V PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo di Kantor PCNU setempat, Ahad (20/9/2026), Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo, KH Teguh Mahameru Zainul Hasan, M.Pd.I., mengingatkan agar dinamika pencalonan tidak menggeser substansi forum tersebut. Konfercab yang mengusung tema “Ansor Navigator Masa Depan: Transformasi Kader Adaptif, Inovatif, dan Berdaya” itu diharapkan tidak […]

  • IMG

    Resmi Dilantik, Ansor Leces Siap Perkuat Ekonomi dan Gerakan Sosial

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Agus Sholeh
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Leces resmi dilantik untuk masa khidmat 2025–2028 pada Jumat, 17 April 2026. Acara berlangsung khidmat dan menjadi momentum penguatan peran organisasi di tengah masyarakat. Muhammad Hafid, M.Pd resmi menjabat sebagai Ketua PAC GP Ansor Leces. Pelantikan tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi VIII […]

expand_less