Jejak Dr. Khoiriyah, M.Pd.I: Srikandi Probolinggo, Akademisi dan Santripreneur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PROBOLINGGO, nuprobolinggo.or.id — Di era abad ke-21 yang bergerak serbacepat, narasi klasik tentang peran santri—khususnya santri perempuan—telah melampaui sekat-sekat tradisi lama.
Perempuan tak lagi sekadar berkutat pada ranah domestik, melainkan mampu tampil di garis depan peradaban: memimpin lembaga pendidikan tinggi, menggerakkan organisasi keumatan di kancah regional hingga nasional, memperluas jaringan riset internasional, sekaligus membangun kemandirian ekonomi umat.
Cerminan utuh dari transformasi itu melekat kuat pada sosok Dr. Khoiriyah, M.Pd.I. Perempuan kelahiran Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada 20 Maret 1988 ini merupakan representasi srikandi santri multitalenta.
Di usianya yang terbilang matang dan produktif, ia diamanahi posisi strategis sebagai Direktur Pascasarjana IAD Probolinggo (sejak 2024), dipercaya menakhodai Ketua PTNU PCNU Kabupaten Probolinggo periode 2026–2030, serta aktif di Pengurus Fatayat NU Kabupaten Probolinggo Bidang Pendidikan.
Namun, di balik deretan jabatan akademik, kiprah organisasi, dan rekam jejak internasionalnya, Dr. Khoiriyah adalah seorang santripreneur tangguh yang memadukan ketajaman riset ilmiah dengan bisnis olahan pangan lokal melalui CV Hijau Nusantara, Koperasi Nusantara, serta produk unggulannya, Bawang Goreng Sultan.
Akar Pesantren Salafiyah Bangil dan Linieritas Akademik
Perjalanan intelektual Khoiriyah ditempa secara mendalam di Pondok Pesantren Salafiyah Bangil, Pasuruan, selama delapan tahun (2000–2008). Di pesantren salaf inilah ia mengasah kedisiplinan mental, kedewasaan diri, sekaligus menguasai kompetensi klasik seperti membaca kitab kuning dan berbahasa Arab dengan baik.
Bekas gemblengan pesantren tersebut menjadi fondasi kokoh saat ia melanjutkan studi formal secara linier di bidang Pendidikan Agama Islam (PAI). Ia merampungkan jenjang Sarjana (S1) pada 2008–2012 dan Magister (S2) pada 2012–2014 di UIN Malang.
Konsistensinya berbuah manis ketika ia sukses meraih gelar Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada rentang 2019–2023.
Meski telah berdiri di puncak kualifikasi akademik formal, Khoiriyah menegaskan bahwa ruh kesantrian tidak pernah luntur dari dirinya.
“Prinsip al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah tetap saya implementasikan dalam kehidupan modern. Sebagai dosen maupun ketika membedah hukum Islam kontemporer, kita harus ber-ikhtiyat—hati-hati,” tutur Khoiriyah.
Bagi Khoiriyah, menghadapi pemikiran dan fikih kontemporer membutuhkan fleksibilitas kontekstual, namun tetap wajib berlandaskan pada sumber hukum Al-Qur’an, Sunnah, serta panduan para ulama salafus shalih.
Meniti Tangga Akademik dan Rekam Jejak Organisasi yang Matang
Karier profesional Dr. Khoiriyah di dunia pendidikan tinggi melonjak secara konsisten. Sejak tahun 2015, ia mendedikasikan diri sebagai Dosen IAD Probolinggo.
Jiwa kepemimpinannya di kampus teruji tatkala ia dipercaya memegang berbagai posisi penting, mulai dari Kepala Lembaga Unit PMB (2017, 2020–2024), Kepala LPBA (Lembaga Pengembangan Bahasa Asing) IAD Probolinggo (2018), Tutor Universitas Terbuka (sejak 2022), hingga puncaknya diamanahi sebagai Direktur Pascasarjana IAD Probolinggo sejak tahun 2024.
Tidak hanya di kampus, rekam jejak keorganisasiannya telah terpupuk sejak masa mahasiswa. Ia pernah aktif di PMII Condro Dimuko Malang, dipercaya sebagai Muharrik (Ketua) Asrama UIN Malang, serta menjadi Bendahara BEM UIN Malang (2010–2012).
Khidmah nyatanya di tengah masyarakat dan Nahdlatul Ulama terus berlanjut melalui posisi Sekretaris Alumni Pesantren Salafiyah Bangil Korda Probolinggo Raya, Bendahara TPQ El Muna Sumberasih, pengurus Fatayat NU Kabupaten Probolinggo Bidang Pendidikan, hingga memimpin PTNU Kabupaten Probolinggo.
Wawasan Global: Menjelajah Kampus Asia Tenggara
Kapasitas keilmuan Dr. Khoiriyah juga terbentang melintasi batas negara. Tercatat, ia aktif mengikuti berbagai program short course internasional yang memperkaya wawasan akademis dan manajerialnya.
Antara lain di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM); University of Malaya, Malaysia; Institut Aminuddin Baki, Malaysia; dan Alhidayah Foundation, Thailand.
Pengalaman global ini memberikannya perspektif luas dalam mengelola tata kelola pendidikan tinggi, riset interdisipliner, serta memperkuat jejaring kerja sama internasional bagi pengembangan institusi yang dipimpinnya.
Formula Santri Adaptif
Menanggapi tuntutan zaman, Dr. Khoiriyah menekankan pentingnya melahirkan generasi santri yang adaptif di abad ke-21. Menurutnya, kecerdasan akademik semata tidak cukup untuk menebar kemanfaatan luas jika tidak ditopang oleh soft skill yang kuat.
“Pintar akademik saja kalau tidak punya resiliensi yang kuat, kurang tahan banting, sulit untuk sukses. Knowledge bisa dipelajari hari ini, tetapi resiliensi—ketahanan diri—serta jiwa leadership dan entrepreneurship itulah yang harus dimiliki santri,” paparnya teguh.
Ia melihat bahwa kemampuan komunikasi, pemasaran, pengoperasian teknologi, serta jiwa kepemimpinan dan wirausaha merupakan kunci utama bagi santri untuk membangun jejaring (networking) yang sehat tanpa harus terjebak pada sikap pragmatis.
Dari Dapur Pengabdian ke Pasar Luar Jawa
Sisi paling membumi dari Dr. Khoiriyah terletak pada prinsip hidupnya dalam memandang dunia kerja dan bisnis.
Di samping kepiawaiannya meneliti (researcher), ia memegang teguh prinsip bahwa mengajar adalah ladang pengabdian, sementara kemandirian finansial dibangun melalui jalur wirausaha.
“Rasulullah menganjurkan dan memberikan contoh langsung bagaimana bermuamalah dan berdagang. Jadi santri harus keluar dari zona nyaman,” ungkapnya.
Perjalanan bisnisnya mengolah dan memasarkan bawang merah khas Probolinggo telah berjalan selama hampir 11 tahun.
Namun, jalan sukses tidak diraih tanpa rintangan. Ia mengaku pernah mengalami berbagai kegagalan pahit, termasuk ditipu orang hingga merugi Rp200 juta yang baru berhasil diselesaikannya pada tahun 2025.
“Dalam bisnis, gagal dan sukses itu biasa. Yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit lagi. Dari musibah itu saya belajar manajemen, karakter jujur, kepuasan pelayanan, hingga membaca peta risiko,” kenangnya.
Memasuki tahun 2026, bisnisnya melalui CV Hijau Nusantara dan pengelolaan Koperasi Nusantara kian stabil.
Menyadari bahwa pasar lokal Probolinggo telah jenuh dengan komoditas bawang merah, ia memanfaatkan naluri risetnya untuk merambah pasar luar Jawa, seperti mengirim suplai bawang merah dan Bawang Goreng Sultan hingga ke Sorong (Papua) dan Kalimantan, di samping memasok swalayan lokal serta jaringan toko Basmalah di Pasuruan.
Melalui unit usahanya, ia tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat luas.
Keseimbangan Hidup dan Refleksi Hari Santri
Di balik kesibukan yang luar biasa padat—menakhodai Pascasarjana, mengurus bisnis, memimpin PTNU, hingga aktif di berbagai jaringan sosial—Dr. Khoiriyah tetap merawat keseimbangan hidup melalui hobi yang menyegarkan jiwa.
Di sela-sela waktu luangnya, ia gemar mengaji, membaca, traveling, hingga menyalurkan hobi menyanyi.
Menutup perbincangan dalam momentum Hari Santri Nasional 2026, Dr. Khoiriyah memberikan refleksi mendalam bagi kaum perempuan dan generasi muda Nahdliyin di seluruh Probolinggo: “Hari Santri Nasional menjadi pengingat untuk terus tumbuh sebagai santri perempuan yang berkarakter, berdaya, dan bermanfaat. Berkarakter berarti menjaga kejujuran dan akhlak. Berdaya berarti memiliki ilmu, keterampilan, serta keberanian menentukan langkah. Bagi kami santri perempuan, keberanian meraih cita-cita harus tumbuh bersama kepedulian untuk menguatkan sesama.” (*)
- Penulis: Muhammad Malik, Moch. Sulaiman
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar