Syaikhona Khalil: Nyambi Jadi Buruh Batik Hingga Sering Makan Kulit SemangkaKisah Muassis NU Belajar di Pesantren (1)
Syaikhona Khalil: Nyambi Jadi Buruh Batik Hingga Sering Makan Kulit Semangka

Keterangan Gambar : Santri sedang melakukan upacara di halaman pesantren (foto: nu.or.id)

nuprobolinggo.or.id - ADA banyak kisah inspiratif lahir dari pondok pesantren. Tentang kesungguhan dan perjuangan mencari ilmu, beserta adab-adabnya. Para muassis Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari tempaan pesantren.

Syaikhona Muhammad Khalil atau yang lebih Syaikhona Khalil Bangkalan, dikenal ahli tirakat. Baik dalam masalah makanannya maupun dalam membaca amalan-amalan yang menjadi lantaran seorang hamba bisa semakin dekat dengan tuhannya.

Kisah dari guru pendiri NU ini dalam menuntut ilmu, diwarnai dengan keprihatinan. Sering sekali, Syaikhona Khalil memakan kulit semangka sebab minimnya ongkos yang dimiliki.

Pernah nyambi menjadi buruh batik untuk menopang perekonomiannya selama mondok. Juga menjadi buruh pemetik kelapa agar bisa berangkat ke Haramain untuk belajar.

Padahal, Syaikhona Khalil merupakan keturunan wali. Yaitu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Orang tuanya juga bukan dari kalangan ekonomi rendah.

Belajar dari Pesantren ke Pesantren

Dikutip dari buku Muassis NU yang ditulis Amirul Ulum, sekitar tahun 1850-an, Kiai Khalil nyantri di Pesantren Langitan yang diasuh oleh Kiai Muhammad Nur.

Syaikhona Khalil melanjutkan studinya menuju Pesantren Cangaan, Bangil Tuban yang dkasuh oleh Kiai Asyik Seguta. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Keboncandi.

Ketika belajar di Pesantren Keboncandi, Syaikhona Khalil menyempatkan dirinya untuk belajar di Pesantren Sidogiri yang diasuh oleh Kiai Noer Hasan yang tidak lain masih mempunyai hubungan kerabat dengannya.

Ketika belajar di Pesantren Sidogiri, status Syaikhona Khalil adalah santri yang mondok di Keboncandi. Jarak antara Keboncandi dengan Sidogiri yang panjangnya sekitar 7 kilometer
dijalaninya dengan berjalan kaki. Setiap perjalanannya ini, Syaikhona Khalil selalu menghatamkan surat Yasin berkali-kali.

Ahli Tirakat

Selama prosesi nyantri, Syaikhona Khalil dikenal dengan ahli tirakat, baik dalam masalah makanannya maupun dalam membaca amalan-amalan yang menjadi lantaran seorang hamba bisa semakin dekat dengan tuhannya.

Karena keprihatinan dalam masalah ekonomi, beliau tidak mau merepotkan orang tuanya meskipun sosok Kiai Abdul Lathif adalah salah seorang yang perekonomiannya mapan. Syaikhona Khalil nyambi menjadi buruh batik untuk menopang perekonomiannya selama mondok.

Dan ketika beliau berkeinginan melanjutkan studinya menuju Haramain beliau juga tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Untuk merealisasikan niatnya ini, beliau rela untuk menjadi buruh pemetik kelapa milik kiainya yang ada di Banyuwangi.

Dari hasil kerjanya ini, beliau tabung sehingga dapat meluluskan cita-citanya untuk bisa belajar menuju Haramain. Syaikhona Khalil berangkat menuju Haramain, ketika usia beliau sudah 24 tahun dan sudah menikah dengan gadis yang bernama Nyai Asyik, putri dari Londro Putih.

Dengan tekadnya yang bulat dan keyakinannya bahwa Allah akan meluluskan niatnya, Syaikhona Khalil dapat menuju Hijaz dengan selamat. Karena bekalnya yang pas-pasan, maka Syaikhona Khalil menggunakan waktu selanya selama belajar di Haramain untuk bekerja.

Seperti menjadi tukang khath yang nantinya akan dijual. Sering sekali, Syaikhona Khalil memakan kulit semangka sebab minimnya ongkos yang dimiliki. Sebab beliau sama sekali tidak pernah mengandalkan kirim dari orang tuanya selama belajar di Haramain.

Selama di Hijaz, Syaikhona Khalil belajar kepada berbagai ulama Haramain yang dalam masalah keimuannya tidak diragukan lagi. Baik yang mengajar di Masjidil Haram maupun yang ada di Kampung al-Jawi. Di antara guru Syaikhona Khalil adalah Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Syaikh Abdul Adzim al-Maduri, dan Syaikh Nawawi al-Bantani.

Dengan penuh kesemangatan dan riyadhah yang sangat mendalam, akhirnya sosok Syaikhona Khalil dapat mengumpulkan dua ilmu. Yaitu, ilmu lahir dan batin, sehingga mengantarkannya menjadi seorang yang waskita dan mempunyai banyak karomah. Selain itu, beliau juga seorang hafidz, faqih dan sufi. (*)