Santri harus menyayangi sesama umat manusia
Santri harus menyayangi sesama umat manusia

Probolinggo (IslamNu) Giat pertemuan Ngaji bersama Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton sudah memasuki putaran kelima sejak dilandingkannya program unggulan P4NJ tersebut beberapa tahun silam. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut untuk menumbuhkan kembali semangat juang para alumni dan santri dalam mengaplikasikan pengetahuannya di tengah-tengah masyarakat luas, selain itu para alumni masih berkesempatan mengasah ilmu yang pernah dikenyam di pesantren untuk terus hidup dalam sanubari dan jiwa kita bersama. (18/12/2017).

Dalam sambutannya, Ketua Takmir Masjid Besar Baitur Rohman Maron H. Aang Masyhuri mengappresiasi pelaksanaan kegiatan temu alumni dan ngaji bersama pengasuh, semoga akan mampu memapu membangun sinergi dalam meningkatkan etos kerja pengurus dalam kontribusinya memajukan pesantren serta membawa perubahan mendasar pada kemajuan pesantren tersebut harapnya.

Rasa syukur dan ucapan terima kasih juga disampaikan Ketua Pengurus Pembantu Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) H. M. Sa’dun, M.PdI  sehingga kegiatan putaran lima ini bisa terlaksana. Sa’dun menyampaikan bahwa yang namanya santri hendaknya bisa menjaga identitas kesantriannya sampai kapanpun. Perbedaan santri terdahulu dengan Santri sekarang (Zaman now), ibarat sebatang hp (handphone) model kuno dengan aplikasi yang sangat terbatas walaupun dengan segala keterbatasan tetap memiliki arti peting dalam fungsinya sebagai alat komonikasi. Sementara yang sekarang, terbaru saking banyaknya aplikasi membuat handphone tersebut mampu memenuhi segala kebutuhan namun segi negatifnya juga tidak bisa dipungkiri bahkan ke mana mana perlu adanya bantuan power bank.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, KH. Moh. Zuhri Zaini merupakan sosok yang low profil, sosok yang dapat dijadikan panutan dalam keilmuan, kesederhanaan dan ketawadu’annya. Dalam kesempatan tersebut beliau memberikan pembinaan khusus kepada para alumni dan pengurus pembantu pondok pesantren nurul jadid agar bisa meneladani Rasulullah SAW dalam segala tindakan. Beliau juga menghimbau para santri untuk memperbanyak membaca sholawat kepada Nab SAW.

“Membaca sholawat itu penting, di dalam sholatpun terdapat bacaan sholawat, sholat tanpa membaca sholawat maka sholatnya kita tidak sah”, dawuh beliau.

Selain meneladani Rasulullah SAW beliau juga menghimbau agar para santri selalu mengenang dan meneladani jasa-jasa ulama, pendahulu yang turut berkontribusi dalam penyebaran ajaran islam yang pada akhirnya sampai kepada kita untuk bisa kita amalkan dalam sendi-sendi kehidupan.

Diluar sana banyak juga orang-orang yang tidak pernah mondok namun amaliyahnya santri, jadi santri yang sebenarnya siapapun yang mampu melaksanakan amaliyah santri adalah santri, jelasnya.

“Secanggih dan secerdas apapun akal manusia namun tidak akan pernah menembus hal-hal yang ghoib”. Maka untuk itu hendaknya kita terus mawas diri meningkatkan pengetahuan kita.

Teruslah untuk melakukan dakwah, untuk menyampaikan amar ma'ruf wan nahyu anil munkar sekalipun kita bukan seorang kiai dan Pengasuh dan pendiri pesantren pertama mendirikan pesantren Nurul Jadid tidak harus mencetak santri untuk menjadi seorang kiai, akan tetapi mau jadi apapun yang terpenting tetap berjiwa santri, tetap menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya. Jelas Kiai Zuhri.

Santri harus menyayangi antar sesama dan mampu membangun kerjasama dalam kebajikan karena tegak dan kuatnya islam di Indonesia tergantung para penganutnya. Karenanya tetaplah bangun kebersamaan dengan mengenyampingkan perbedaan demi persatuan dan kesatuan.

Perbedaan jangan dijadikan perpecahan justru dengan perbedaan akan terwujud kesadaran saling membutuhkan. Al-Qur'an telah menjelaskan bahwa dari perbedaan akan mampu membangun ta’aruf untuk saling mengenal. Kepada non muslim sekalipun, kita harus berbuat baik dengan saling menghargai sebagaimana ajaran yang dibawa Rasulullah SAW sebagai rohmat semesta.

Kecerdasan fikir harus dibarengi dengan kecerdasan dzikir secara berimbang, karena kebenaran mau dilakukan oleh siapapun akan tetap menjadi kebenaran.

Patutnya kita teladani Rasulullah SAW selalu mampu menahan marah dalam setiap keadaan, umat islam harus mengedepankan sifat tawadu’ dan sabar karena Islam bukanlah agama teroris namun agama madani yang mengasihi sesuai dengan keimanan kita. (Mp).