Peringati Harlah NU
Peringati Harlah NU

Keterangan Gambar : https://www.nu.or.id/post/read/117756/soal-harlah-nu-yang-diperingati-dua-kali-dalam-setahun

nuprobolinggo.or.id -

Memperingati hari lahir (harlah), hari ulang tahun (ultah) dan happy birthday atau apapun namanya merupakan tradisi yang umum dilakukan oleh siapa pun yang terlahir di dunia ini. Apa sebenarnya makna dari harlah?, apa urgensi dalam melaksanakan harlah, khususnya peringatan harlah NU?

Keberuntungan tersendiri bagi warga NU yang ditakdirkan lahir pada tanggal 31 Januari. Pada tanggal dan bulan itulah, semua warga NU melakukan berbagai aktivitas dalam rangka memperingati harlah NU.

Peringatan istighosah dan doa bersama dan seterusnya secara berjamaah dimeriahkan oleh warga NU baik yang ada di pesantren-pesantren, di masjid/musholla dan lain sebagainya.

Secara sederhana peringatan harlah NU ditujukan untuk mengenang dengan jelas bagaimana cikal-bakal pendirian Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada Ahad, 31 Januari 1926 M dan atau 16 Rajab 1344 H.

Harlah hukan hanya sebatas mengisi waktu atau sekedar silaturrahmi biasa antar pengurus NU dan atau pertemuan para kader, melainkan juga untuk menyaksikan betapa berarti semangat pendirian NU sebagai akumulasi dari semangat para muassis sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus pendakwah dalam membumisasikan nilai-nilai Islam di bumi nusantara.

Dakwah Islam yang diiringi dengan keyakinan kuat dan keikhlasan total menggapai ridlo Allah Swt., sehingga segala pengorbanan jiwa dan raga para pendahulu tidaklah sia-sia. Justru menjadi pemicu bagi para penerus pendakwah masa-masa berikutnya dalam mendakwahkan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) secara lebih terorganisir dan dinamis seiring dengan tantangan dan peluang pada setiap perubahan zaman.

Pelaksanaan Harlah NU ke-95 tahun Masehi dan Harlah ke-98 pada 16 Rajab 1442 Hijriyah bisa menjadi tolok ukur bagi generasi muda NU dalam mengevaluasi personal dan komunal secara lebih mendetail tentang bagaimana menjadi diri yang selalu berpedoman kepada al-Qur’an, Hadith, Ijma’ dan Qiyas dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menerapkan prinsip dasar Aswaja; Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), Tasamuh (toleran) dan I’tidal (adil).