Pendidikan Perspektif KH. Hasyim Asy ari
Pendidikan Perspektif KH. Hasyim Asy ari

nuprobolinggo.or.id - Pendidikan yang ditekankan oleh KH Hasyim Asy’ari adalah mengutamakan terhadap etika, adab dan moral terhadap pendidikan tanpa harus menafikan aspek lainnya. Ini sejalan yang dipengaruhi dari bidang hadits, tasawwuf dan fiqhiyah yang sejalan dengan pemikiran al-Asy’ari dan al-Maturidi.

Etika yang ditekankan tidak sekedar terhadap kesesama manusia, namun dari semua aspek cerminan etika. Baik etika belajar mengajar, etika kepada buku/kitab, antara peserta didik terhadap tenaga pendidik dan sebaliknya, etika terhadap pelajaran, etika tenaga pendidik, termasuk etika tenaga pendidik ke peserta didik itu sendiri (Baca : Mu’allim fima Yahtaj Ilaa al-Muta’allim fi Ahu al-Muta’allim wa Yataqoff al-Mu’allim fi Maqomat Ta’limah) .

Dari situ juga, KH Hasyim Asya’ri juga meperioritaskan bahwa Keutamaan  ilmu  dan  keutamaan belajar  mengajar sangat penting. Tentu Bagi peserta didik dan tenaga pendidik dibekali dengan niat suci  untuk  menuntut  ilmu karena Allah swt. 

Ini juga searah dengan pemikiran al-Ghazali yang menekankan terhadap pendidikan rohani perspektif sufisme. Hal itu berupa tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri terhadap Allah swt. dan kesempurnaan insani yang bermuara terhadap kebahagiaan dunia akhirat. Sebagai simpulan bahwa keduanya bersumber pada Ilmu.

Sedangkan kurikulum yang dibidik dari pemikiran KH. Hasyim Asy’ari bagi pemula setidaknya mempelajari empat ilmu yaitu tentang Dzatullah, sifat-sifat Allah, Fiqhiyah, dan ilmu prilaku diri. Sebelum seseorang terserbut belajar tentang al-Qur’an, Tafsir dan al-Hadits sebagai pematangan keimanan dari seseorang. Disamping menghidari terhadap ilmu-ilmu pertentangan (Khilafiyah) di kalangan para ulama demi menghidari  pembingungan (Baca: Adabul Alim wa al-Muata’alim).

Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari terkait pendidikan lebih kepada memperlihatkan perpaduan antara Teoritis dan praktisi yang memiliki gagasan yang didasari oleh kebutuhan masyarakat dan situasi kulutural di zamannya. Tentu masih dalam koredor ahlusunnah wal Jama’ah an-nahdhiyyin. (*)

*Dari Berbagai Sumber

Oleh : Moch Mahsun