NU Apresiasi Kebijakan Layanan Rapid Test Antigen Gratis Bagi Santri
NU Apresiasi Kebijakan Layanan Rapid Test Antigen Gratis Bagi Santri

Keterangan Gambar : Santri di Probolinggo menjalani rapid test (foto: nu.or.id))

nuprobolinggo.or.id - Libur lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah telah usai. Santri pondok pesantren di Probolinggo, Jatim, mulai kembali ke pesantren di tengah pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah untuk mengendalikan pandemi Covid 19.


Untuk mencegah penularan Covid 19, ponpes mewajibkan santri membawa hasil rapid test antigen dengan hasil non reaktif atau negatif. Hasil rapid diserahkan ke pengurus pesantren.

Berkaitan dengan ini, Pemkab dan Pemkot Probolinggo menggratiskan biaya layanan rapid test antigen bagi santri yang akan kembali ke pesantren. Caranya dengan mendatangi puskesmas terdekat dengan menunjukkan KTP atau kartu identitas santri.

Kebijakan pemerintah ini mendapat apresiasi dari Katib PWNU Jatim, KH. Syafruddin Syarif. Menurutnya, santri merupakan kader masa depan bagi daerah masing-masing.

Karenanya, daerah selayaknya memberi pelayanan agar santri tidak dibebani dengan biaya rapid test antigen untuk kembali ke pesantren.

"Kami mengapresiasi yang tinggi kepada kepala daerah yang memberikan layanan rapid test gratis. Bagi yang belum, kami harap bisa bekerjasama," katanya.

Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo mencatat, sedikitnya terdapat 89 pesantren di Probolinggo, yang tersebar di 24 kecamatan.

Santri pesantren tersebut, dijadwalkan kembali ke pondok dalam periode 21 Mei hingga 7 Juni 2021. Santri Ponpes Zainul Hasan Genggong dijadwalkan kembali 21-22 Mei oleh pengurus.

Yang paling akhir adalah santri Ponpes Hidayatul Falah. Santri ponpes yang berada di Desa Wringin Anom, Kecamatan Tongas ini, dijadwalkan kembali ke pondok pada 7 Juni 2021.

"Kembalian santri sudah terjadwal oleh masing-masing pesantren, dan hampir semuanya ada SOP-nya," kata Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo, Akhmad Sruji Bahtiar.

Ponpes Nurul Jadid, mengatur jadwal kembalian santri secara bertahap untuk menghindari kerumunan. Yakni 22-27 Mei 2021. Kedatangan santri dikoordinir oleh Pembantu Pengurus Ponpes Nurul Jadid (P4NJ) yang ada di setiap daerah.

Santri diwajibkan isolasi mandiri selama 7 hari sebelum kembali ke pesantren. Juga memperhatikan 5 M. Yakni memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjauhi kerumunan, menjaga jarak dan membaca doa.

Santri juga diwajiban menunjukkan hasil tes swab PCR atau rapid test antigen dengan hasil negatif atau non reaktif saat kembali. Bagi yang tak bisa menunjukkan, akan dilakukan tes G-Nose di ponpes.

"Kembalian santri dilakukan bertahap. Setiap hari sekitar seribu santri dengan membawa hasil rapid test antigen," kata Sekretaris Pesantren Nurul Jadid, Faizin Syamwil.

Jadwal kembalian santri secara bertahap juga dilakukan Ponpes Zainul Hasan Genggong. Yakni 21 Mei untuk santri putri, dan 22 Mei untuk santri putra. Santri juga diwajiban menunjukkan hasil tes swab PCR atau rapid test antigen dengan hasil negatif atau non reaktif saat kembali.

"Ada alat G-Nose, hanya belum bisa mengcover semua santri. Beberapa kriteria disampaikan langsung kepada wali santri," kata Kepala Biro Kepesantrenan Ponpes Zainul Hasan Genggong, Gus Moh. Haris Damanhuri.

Pengurus Ponpes Zainul Hasan Genggong melarang pengantar santri memasuki area pesantren. Ketika memasuki area pesantren, santri wajib mengikuti protokol kesehatan yang telah disediakan oleh pesantren.

Di Ponpes Nurul Qodim, santri diminta menjaga kesehatan dan menjalani isolasi mandiri selama 3 hari sebelum kembali ke pesantren.

Berdasarkan data Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo, santri pesantren tidak diperkenankan menggunakan kendaraan umum saat kembali ke pondok. Untuk mencegah penularan Covid 19. (*)