Nailah Hasyim: Mufassiroh Pertama dari Tanah Suci Al-Quds
Nailah Hasyim: Mufassiroh Pertama dari Tanah Suci Al-Quds

Keterangan Gambar : ilustrasi foto brsumber dari :adararelief.com/

nuprobolinggo.or.id -
Selama ini kita ketahui yang menjadi tokoh mufassir pastilah kebanyakan berasal dari kaum adam saja. Sebut saja Ibnu Katsir yang masyhur dengan Tafsir Al-Quran Al-Adzim atau lumrah dengan Tafsir Ibnu Katsirnya, Muhammad bin Jarir At-Thabari, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtuby. Bahkan di Indonesia sendiri juga memiliki ulama-ulama yang turut menafsirkan Al-Quran seperti Syaikh Abdurrauf As-Sinkili, KH. Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani, Buya HAMKA, Muhammad Quraish Shihab, KH. Bisri Mustofa dan masih banyak lainnya.
Memang untuk mencari seorang pentafsir Al-Quran dari kalangan perempuan sangatlah jarang ditemukan. Namun, argumen ini mulai terbantahkan semenjak mulai diketahui satu sosok wanita yang telah berhasil menjadi salah satu mufassiroh pertama. Dialah Nailah Hasyim Shabri, seorang wanita kelahiran tahun 1944. Terlahir di kawasan konflik membuatnya menjadi wanita tangguh hingga berhasil menjadikannya Mufassiroh masyhur dengan karyanya “Almubashir Li Nur Al Quran” yang berjumlah 16 jilid. Tafsir ini menggabungkan tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ijtihad, dengan menitikberatkan pada permasalahan-permasalahan sosial dan pencarian solusinya dari ayat Alquran.

Selain berhasil menelurkan karya fenomenalnya, Nailah Hasyim juga seorang mujahidah, dai’yah dan penulis produktif yang telah menelurkan banyak karangan di samping tafsirnya tersebut. Bahkan, di tanah suci kaum muslimin Al-Quds Palestina ia juga merupakan salah seorang murabithah yang terkenal.

Suaminya bernama Syekh Dr. Ikrimah Shabri, Khatib Masjidil Aqsha, mantan Mufti Al Quds dan Kepala “Al Hai’ah Al Islamiyyah Al ‘Ulya” (Lembaga Tinggi Islam) di Al Quds. Dalam ceramahnya dari masjid ke masjid yang selalu menjunjung dan membela Islam, banyak orang yang masuk Islam setelah mendengarkan ceramahnya. Banyak orang terinspirasi pada sosok Nailah Hasyim sebab kecintaannya pada Al-Quran. Pencapaian yang Nailah perjuangkan menaruh harap pada umat Islam atas kesadaran agama yang kini semakin menipis.

Meski dengan kondisi Palestina yang masih terus jauh dari kata aman, namun semangat mufassiroh ini lantas tak padam begitu saja. Dia selalu berpesan pada seluruh perempuan Palestina agar menjadi muslimah yang tangguh dan berperan penting untuk kemajuan umat islam. “Perempuan harus terus mengikuti perkembangan zaman untuk membimbing anak-anak mereka, mengawasi apa yang mereka tonton dan program apa yang mereka ikuti. Mereka juga harus menanamkan biografi Nabi SAW dan biografi para sahabat, dan mengikuti kemajuan para pembaru untuk anak-anak mereka.” Pesannya. 
.
Tak perlu disangkal lagi bagaimana kejamnya tentara Zionis menggempur tanah kelahirannya. Tentu saja tekanan berat selalu Nailah dan perempuan Palestina lainnya rasakan. Akan tetapi dalam kajiannya dia mengungkapkan bahwa penjajahan Israel ke atas tanah bumi kelahirannya yaitu Palestina dan Baitulmaqdis disebabkan jauhnya umat Islam dengan al Quran.(*) 

*Dinukil dari berbagai sumber 

Nada Fitria
Santriwati dan Mahasiswi Tingkat Akhir Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Nurul Jadid Asal Situbondo