MIMPIKU KESANA
MIMPIKU KESANA

Keterangan Gambar : https://i.ytimg.com/vi/MZUU8dcgDFM/maxresdefault.jpg

Pada hari itu, kakiku tidak tahu harus melangkah kemana lagi. Mata kepala terasa berat menoleh ke kanan atau ke kiri. Tiada jalan yang nyaman bagi kedua kaki. Namun, saat itu juga, tangan ini yang sedang memegang sebuah ‘barang ciptaan makhluk’ yang sama jenisnya; ku genggang erat karena aku menyanyanginya, aku menjaganya.

Padahal barang itu juga ciptaan ‘Manusia’. Iya, barang ciptaan sesama kami, berasal dari suatu tempat nan jauh di sana. Pembuat yang juga diberi kelebihan dan kekurangan. Dengan akal, kami harus mampu memikirkan segala hal yang telah Engkau ciptakan. Termasuk memikirkan barang itu, agar kami tidak menjauh, melainkan mendekat. Iya, semakin dekat, ‘ingin’ mendekat, mendekat, dan mendekati-Mu.

Saat itu, gerakan jemari tangan ku yang indah ini, sambil memanfaatkan barang, sekaligus jemari ini menuntun hati dan pikiran ku, agar tak berhenti menyebut, memuji dan mensucikan nama-Mu. Iya nama-Mu yang Indah, nama-Mu yang Agung. Nama-Mu lah yang setia menemani ku. Aku adalah hamba-Mu, yang Engkau ciptakan dengan kesempurnaan ini. Semestinya selalu bersyukur. Namun, apalah daya. Dikala aku bersalah, namun tak berasa, itu salah, tapi tidak aku sengaja. Aku lupa. Karena aku masih manusia. Berbeda dengan mereka ‘para malaikat’ yang selalu siap dan sigap menjalankan segala perintah-Mu. Ampunilah aku Ya Allah, Astagfirullah.

Aku terkadang merasa ‘selalu kurang’ dan ‘penuh kekurangan’. Padahal Engkau telah mencukupkanku. Mencukupiku dengan kesehatan, dengan  ‘rasa cinta’, dengan ‘rasa suka-cita’, dengan ‘rasa rindu’ dan dengan ‘rasa bahagia’ dan ‘rasa lainnya’. Yang terkadang, aku pun merasa bingung karena keterbatasan akal ku, Yaaa Allah, Yaaa Robbi.

Untaian Takbir, Takbir, dan Takbir . yang aku kumandangkan malam ini, dan malam-malam berikutnya, sebenarnya tidak cukup sebagai ucapakan syukur dan ‘terimakasih’ ku kepada-Mu. Sebagaimana aku menyampaikan ucapan ‘terima kasih’ kepada saudaraku . Yang terkadang di balas dengan ucapan ‘terima kasih’ pula, namun dengan ‘rasa’ berbeda. Jadikanlah aku, sebagai manusia yang bisa me-RASA, yang selalu bisa menyambung RASA diantara orang-orang yang saling merasakan RASA itu.

Jangan biarkan aku, termasuk kedalam orang-orang yang tidak mensyukuri RASA, yang telah Engkau anugerahkan kepada ku.  Karena dengan RASA itu, aku meyakini, bahwa aku, masih siap hidup dan menjalani kehidupan hari ini, besok dan lusa.

Bahkan, kalau perlu, sebagaimana Chairil Anwar katakan dalam sajak berjudul AKU pada Maret 1943, dibagian akhir dituliskan ‘Aku Ingin Hidup Seribu Tahun lagi”. Agar aku bisa selalu mensyukuri nikmat-Mu terkhusus nikmat beribadah di Tanah Suci Makkah al-Mukarromah. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar, Laa Ilaaha illalloohu wallohu Akbar, Allohu Akbar Walillaahilham.

*Mahasiswa yang setia, kader muda www.islamnu.id, dan peneliti pemula di www.purisdiki.id