Merindukan Bulan Spesial
Merindukan Bulan Spesial

Keterangan Gambar : https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fislam.nu.or.id

nuprobolinggo.or.id -

Membicarakan bulan ramadhan, bagi penganut Islam diseluruh belahan bumi manapun tentu sangat merindukan kehadirannya. Tidak lama lagi (lebih dari sebulan), kita akan memasuki bulan yang spesial, bulan Ramadhan (antara pertengahan April s.d Mei 2021). Bulan yang di dalamnya ada peristiwa penting seperti nuzulul qur’an dan lailatul qodar.

Karenanya, berbagai kegiatan religius diamalkan dan dihayati, guna mencapai dan merasakan kenikmatan sesungguhnya dari ibadah puasa wajib ini. Dan saya yakin semua umat Islam akan melaksanakan puasa wajib. Kecuali, diantara kita yang sedang sakit, dan atau sedang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan dan dalam perjalanan (musafir) dengan menggantinya di hari lain.

Puasa yang akan kita jalani tahun ini, diperkirakan masih berada dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini (di tengah pandemi covid-19). Namun, tentunya tidak sama dengan suasana tahun lau. Puasa kita akan berjalan seiring dengan kebijakan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, penggunaan masker dan seterusnya.

Umat muslim tentu akan terus melaksanakan kegiatan rutinitas, seperti tadarus al-Qur’an, tarawih, aneka macam pengajian keagamaan (kultum), dan amalan-amalan lainnya. Semuanya dimaksudkan untuk menuju pada satu titik, yaitu mendapatkan ridlo dari Allah Swt., atas ibadah yang dilaksanakan.

Pada kenyataannya, tidak semua muslim memanfaatkan momen penting ini dengan sebaik-baiknya. Bukan berarti saya berburuk sangka -terkadang dengan dalih kesibukan kerja, atau sedang menyiapkan kegiatan yang sudah terprogram- bagi yang berpuasa, kesempatan menjalani amalan-amalan sunnah yang telah diteladankan oleh Rosulullah Saw., semisal I’tikaf, tentu saja tidak akan berjalan optimalkan, atau bahkan hanya bisa dilakukan seminggu sekali; dalam pelaksanaan shalat Jum’at. Kita baca hadits berikut:

"Dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rosulullah SAW. biasa beri'tikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah beri'tikaf selama dua puluh hari. (Hadist Riwayat Bukhori).

 

Walaupun tidak terasa asing ditelinga, namun i’tikaf ini memang terasa amat berat, karena harus menyiapkan waktu yang cukup di dalam masjid. Sehingga tidak mudah dilakukan oleh setiap muslim. Namun, bila terwujud, maka seluruh masjid menjadi lebih ramai dan nyata pemakmurannya. Namun, kita sedang berada dalam situasi yang tidak menentu, maka perlu menyesuaikan dengan protokol kesehatan dalam melakukan i’tikaf, tarawih dan lain sebagainya.

Bila generasi tua terus berupaya memberikan teladan yang baik kepada generasi muda (milenial), dengan melaksanakan i’tikaf. Niscaya, generasi muda juga akan mendapatkan kenikmatan spesial menggapai ‘malam seribu bulan’. Bi idznillah. Amin. Aku merindumu 'wahai bulan penuh berkah'. Bismillah. (Dfn)