MENULISLAH ONE DAY ONE HADITH
MENULISLAH

Keterangan Gambar : Ulama menulis kitab (foto: nuonline)

nuprobolinggo.or.id -
Diriwayatkan dari Abdillah bin Amr RA, Rasul ﷺ bersabda : 
اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ
Tulislah ! Demi Allah tidaklah keluar dari mulut ini kecuali kebenaran. [HR Ahmad]

Catatan Alvers

Manusia itu bertabiat lupa “mahallul khata’ wan nisyan”. Al-Munawi berkata : Orang yang pertama kali lupa adalah Nabi Adam maka anak cucunya pun menjadi pelupa... Maka menulis ilmu itu hukumnya sunnah bahkan ada yang berpendapat hukum menulis itu adalah wajib. [At-Taysir Bi Syarhil Jami’ As-Shagir] Maka dari itu Sayyidina Umar RA memerintahkan untuk mencatat ilmu. Beliau berkata :
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah ilmu dengan tulisan” [Mushannaf Ibni Abi Syaibah]

Segeralah mencatat ilmu di media apa saja yang ada dan jangan pernah menundanya sampai kita lupa dan terlupakan sehingga ilmu itu hilang melayang. Asy-Sya’bi Rahimahullah berkata : 
إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ
“Apabila engkau mendengar satu ilmu, maka (segera) tulislah meskipun pada dinding”. [Umdatul Qari]

Jika seorang penuntut ilmu tidak menulis ilmu yang ia terima niscaya ia tidak akan mendapatkan ilmu kecuali sedikit dari apa yang ia dapatkan pada hari-hari terakhir saja meskipun ia telah menuntut ilmu belasan tahun lamanya. Imam Malik Rahimahullah berkata : 
الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ :: قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَ الِ الْوَاثِقَهْ
فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً :: وَتَفُكَّهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ
Ilmu bagaikan binatang buruan dan tulisan adalah pengikatnya :: Ikatlah hasil buruanmu dengan tali yang kuat. Karena termasuk kebodohan jika engkau memburu kijang :: Namun setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. [I’anatut Thalibin]

Jangankan urusan ilmu, orang bisa lupa. Urusan hutang saja banyak yang lupa sehingga seringkali orang yang berhutang tidak membayar hutangnya ketika jatuh tempo bahkan mengingkarinya ketika ditagih. Itulah mengapa Allah memerintahkan untuk menulis hutang piutang. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” [QS Al-Baqarah : 282]

Apa jadinya jika kita tidak mau menulis?. Apa jadinya jika Zaid bin tsabit tidak menulis Al-Quran dalam mushaf al-Qur’an, Apa jadinya jika Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak menulis kitab-kitab hadits, Apa jadinya jika Al-Fairuzabadi tidak menulis riwayat-riwayat dari Ibnu Abbas dalam Tafsir Al-Miqbas, Apa jadinya jika Al-Buwaithi tidak menuliskan ilmu-ilmu fiqih yang disampaikan oleh Imam Syafii dalam kitab Al-Umm, begitu pula para ulama lainnya. Betapa sulitnya mendapatkan ilmu agama yang menjadi “way of life” dan mempelajari ajaran agama Islam secara lengkap dan utuh tanpa adanya jasa para ulama yang menulisnya untuk kita, generasi setelahnya. 

Itu pula yang menjadi kekhawatiran Sayyidina Umar pasca banyaknya penghafal al-quran dari kalangan sahabat yang tewas berguguran dalam perang yamamah (melawan Nabi Palsu Musailamah, di Yaman pada tahun 11 H). Ia akhirnya usul kepada Abu Bakar yang saat itu menjadi Khalifah agar mengadakan proyek pengumpulan al-quran yang saat itu tulisannya berserakan ada yang ditulis di pelepah kurma, kulit, tembikar bahkan tulang belulang agar selanjutnya ditulis ulang dan dijadikan satu berupa mushaf.

Setelah Umar berhasilkan meyakinkan Abu bakar mengenai proyek penulisan tersebut maka Abu bakar meminta kepada Zaid bin tsabit untuk mengerjakan proyek tersebut. Abu Bakar berkata : “Sungguh engkau adalah laki-laki yang masih muda, cerdas, dan kami sama sekali tidak menyangsikan kemampuanmu, sebab engkau sudah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah. Maka telitilah al-qur’an (yang masih terpencar-pencar) dan kumpulkanlah (menjadi satu mushaf). Maka Zaid mengisahkan keberatannya atas tugas yang diperintahkan oleh Abu Bakar, Ia berkata :
فَوَاللَّهِ لَوْ كَلَّفَنِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنْ الْجِبَالِ مَا كَانَ أَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا أَمَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْعِ الْقُرْآنِ
"Demi Allah, sekiranya Abu bakar menugasiku untuk memindahkan sebuah gunung, itu tidaklah lebih berat bagiku daripada menugasiku untuk menghimpun al-qur’an. 

Keberatannya dikarenakan pekerjaan tersebut tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW namun Abu Bakar meyakinkannya dengan menjawab : 
هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ
Demi Alllah, pekerjaan ini adalah baik.

Akhirnya, Zaid bin tsabit pun setuju dan mulai mengerjakannya sehingga alhamdulillah mushaf tersebut disalin dari generasi ke generasi dan akhirnya mushaf al-Qur’an sampai kepada kita secara utuh dan original.  [Lihat HR Bukhari]

Begitu pula hadits nabi dimana pada awalnya Abdullah bin Amr menulis semua yang dikatakan Nabi SAW namun kemudian terhenti karena orang qurays melarangnya dengan alasan dikhawatirkan perkataan Nabi diucapkan dalam kondisi marah sehingga ucapan beliau tidak layak ditulis. Abdullah akhirnya melaporkan hal ini lalu beliau SAW bersabda sebagaimana hadits utama di atas : Tulis saja, demi Allah tidaklah keluar dari mulut ini kecuali kebenaran. [HR Ahmad]

Namun demikian, menulis itu bukan tujuan akhir melainkan ia menjadi sarana kita dalam memelihara ilmu dan menjaga hafalan karena ilmu itu “Fis Shudur la Fis Sutur”. Abu Hatim Ar-Razi berkata :
اُكْتُبْ أَحْسَنَ مَا تَسْمَعُ وَاحْفَظْ أَحْسَنَ مَا تَكْتُبُ وَذَاكِرْ بِأَحْسَنِ مَا تَحْفَظُ
Catatlah sebaik-baik apa yang kau dengar, hapalkan sebaik-baik yang kau tulis dan lakukan muraja’ah terhadap sebaik-baik apa yang kau hafal. [Tahdzibul Kamal]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk turut serta menjaga ilmu dan ajaran agama yang menjadi “way of life” dengan menulisnya atau ikut menyebarkannya. 

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag 

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim