MENGURAI TIGA J ; JAPRI, JAGRUP DAN JAJAL
MENGURAI TIGA J ; JAPRI, JAGRUP DAN JAJAL

Inilah zaman media siber dengan berbagai istilah online yang mengirinya. Kita dapati istilah dengan kata baru yang diciptakan tanpa dibayangkan sebelumnya. Tiba-tiba lahir dan berkembang lalu meluas hingga ke pelosok terjauh dari batas lokasi jaringan online. Menurut Rulli, jenis-jenis media siber meliputi; situs (web site), E-mail, Bulletin Boards, Blog, Wiki, Aplikasi Pesan, Internet ‘Broadcasting’, Peer-to-peer, The RSS, MUDS –Multi User Dimensions, dan Media Sosial (Rulli Nasrullah, Teori dan Riset Media Siber, Jakarta: Prenadamedia Group, 2014: 25-37).

Seperti kata ‘Meme-Viral-Hoax’. Ketiga ‘makhluk ciptaan’ ini pada mulanya asing, namun lambat laun mengikuti arus ruang maya di media sosial akhirnya menjadi terkenal. Kalaupun ada diantara user yang belum tahu, bisa dengan mudah bertanya kepada ‘mbah Google!’ lalu pengetahuan itu bisa di tularkan pada teman melalui jaringan pribadi ‘japri’ dan ataupun jaringan grup ‘jagrup’. Pesan itupun akan mendapat komentar beragam secara personal dan komunal. Japri dan jagrup ini, hemat penulis merupakan bentuk komunikasi antarindividu sekaligus kelompok, yang berkaitan deengan isi atau informasi dalam media siber yang kita pergunakan sehari-hari.  

Lain halnya dengan kata ‘Jajal’, istilah ini dimaksudkan penulis sebagai kependekan dari  ‘jangan berjalan’. Artinya, bila sedang menjalin komunikasi online melalui japri ataupun jagrup, hendaknya dilakukan tidak dengan sambil berjalan. Karena dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Jadi, lebih baik bila dilakukan sambil duduk ataupun cukup berdiri sejenak agar  tidak terjadi gagal fokus memahami isi pesan.

Amatilah keadaan disekitar kita, agar proses komunikasi online bisa terjalin dengan nyaman dan aman. Sehingga apapun isi pesan yang di unggah, di upload, atau di update segera rampung. Tapi perlu kita ingat, setiap kita menulis isi pesan di media siber ini, aktivitas ’tangan’ para malaikat pun sedang menulis semua hal tentang pengirim pesan, mereka menulis tak terkecuali perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan.

Nama-nama grup yang kita miliki di media sosial ini bisa dijadikan objek penelitian sederhana setiap kali online. Berapa banyak istilah baru yang muncul perminggu atau perbulan? Apa saja istilah kata baru yang asing itu? Agar kita tertantang membuat istilah baru pula yang bisa kita kenalkan sendiri.

Usahakan setiap user media sosial menjadi ‘pencipta’ –dengan awalan huruf p kecil dan tanpa awalan kata ‘Maha’- istilah baru di ruang maya. Kita sebaiknya tidak hanya sekedar penikmat dan pengamat isi pesan di media sosial, hanya sekedar mengikuti arus ‘ruang hampa’ ini. Khususnya generasi muda yang memang harus produktif, kreatif berkarya. Sebagaimana sejarah masa lalu generasi ‘ahlussunnah’ masa  kejayaan islam, dengan karya-karya klasiknya. Seperti Syeikh Imam Ghozali dalam bidang logika karya Al-Ma’arif al-aqliyah (pengetahuan yang nasional).  Ayo menulis!, Mengukir sejarah; dari tutur tinular ke tutur tinulis”. Aku menunggumu di sini, di www.islamnu.id

Mahasiswa yang Haus.