Mengukir Sejarah;Tutur Tinular dan Tutur Tinulis
Mengukir Sejarah;Tutur Tinular dan Tutur Tinulis

Insinyur soekarno pernah mengatakan 'jasmerah' -kependekan dari 'jangan sekali kali meninggalkan sejarah". Pidato proklamator itu disampaikan pada HUT 17 Agustus 1966. Hal itu selaras dengan pendapat Moh. Mahfud MD, bahwa jasmerah Bungkarno ini sudah sejalan dengan kandungan al-Quran bahwa Allah menyuruh kita untuk melihat sejarah manusia masa lalu sebagai pelajaran untuk langkah ke depan(https://nasional.sindonews.com/read/1024946/149/). Sejarah seperti apakah yg perlu di ingat? Bagaimana kita mengisi kemerdekaan?                      

Setiap kita memiliki sejarah hidup. Setidaknya dalam sehari semalam kita telah melakukan aktivitas harian yang menjadi sejarah bagi diri pribadi. Untuk kemudian sejarah itu bisa di-tutur tinular-kan kepada anak cucu cicit secara berkelanjutan, sebagaimana tutur tinular tentang kehidupan para pahlawan bangsa yang telah gugur mendahului kita. Pada HUT ke-72 tahun usia bangsa ini -pertengahan Agustus 2017 nanti- kita mengenang jasa para pahlawan. Sejarah panjang pengorbanan pahlawan dengan segenap jiwa-raga. Jiwa sang pemberani nan suci yang tergambar dalam warna MERAH PUTIH yang selalu berkibar mengiringi langkah kaki gagah perkasa. Tiada lain untuk memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hingga kini NKRI adalah harga mati.Sebagai contoh lihat http://www.islam-institute.com/gus-dur-dan-asal-muasal-semboyan-nkri-harga-mati/.                 

Lantas, penulis ingin membawa ‘jasmerah’ ini sebagai modal dasar bagi kita, generasi penerus yang bertugas mengisi kemerdekaan secara optimis dan optimal. Bentuk konkritnya adalah 'semangat belajar, belajar dan belajar'.  Mencintai , memahami, dan mengembangkan ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan yang sudah tersedia. Sehingga, kita bisa mengukur kompetensi dan kapabilitas setiap anak cucu cicit pahlawan pembela tanah air ini secara proporsional.                       

Atau generasi muda saat ini bisa saja meneriakkan kata 'merdeka,merdeka,merdeka!' kapanpun mau. Akan tetapi, hal itu hemat penulis belum cukup. Tapi lebih dari itu, misalnya generasi muda saat ini berani membudayakan tutur tinular diiringi dengan tutur tinulis. Dimana kebiasaan ini harus diteladankan pula oleh generasi tua. Menuliskan profil setiap ‘pahlawan masa kini’ yang mengurai jiwa penuh tanggungjawab dan keikhlasan dalam bekerja. Baik itu petani, guru, dosen, nelayan, pedagang, tokoh agama dan lainnya, bila jiwa kepahlawanan yang didasari dengan ikhlasan mengabdikan diri maka layak untuk tulis sebagai pelaku sejarah. Karena tulisan itu, akan dikenang oleh generasi masa depan.           

Membiasakan menulis bagi penuntut ilmu merupakan keniscayaan. Keterampilan bertuturkata dan menulis sebaiknya diseimbangkan. Bila ada 20 orang pelajar di sebuah lembaga pendidikan yang setengahnya menekuni dunia menulis, mak berarti ada 10 karya tulis siswa yang bisa di apresiasi.   

Nah, disinilah penulis sangat setuju dengan istilah ‘One day one Story’, sebagaimana ‘One Day One Hadith’. Satu hari satu cerita yang di tutur lalu di tulis. Bila tradisi tutur tinular dilanjutkan dengan tradisi tinulis dilakukan sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah dan disimpan rapi di perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, perpustakaan masjid, dan seterusnya. Maka akan tercipta  generasi-generasi yang cinta ‘GeLi’ (Gerakan Literasi).

Usia muda jangan foya-foya, agar kita tidak menyesal di masa tua. Mari, kita -para pemuda- perkokoh cinta tanah air dengan mempelajari sejarah lalu menulisnya dengan baik. Tutur tinulis sepemahaman  penulis merupakan pengejewantahan dari 'Hubbulwathon minal iman'. Pemuda pilihan yang selalu cinta tanah air, selalu Belajar, Berjuang dan Bertakwa.