Mendamba Masjid Masa Depan
Mendamba Masjid Masa Depan

Untuk memahami maksud judul diatas, penulis ingin memulai dengan sebuah pertanyaan “Seperti apakah masjid yang dirindukan itu?

Nikmat atau pahala memakmurkan masjid ini telah banyak disebutkan dalam al-Qur’an. Karena masjid adalah simbol keagamaan umat Islam yang paling sakral dan profan apapun kondisi dan keadaannya. 

Masjid yang memiliki ruangan ber-AC, tentu saja sejuk dan membuat nyaman para jamaahnya. Baik jamah ‘tetap’ yang berdomisili disekitanya ataupun jamaah ‘kalong’ yang singgah sekedar untuk singgah dan atau  menunaikan kewajiban sholat lima waktu.   

Adapun ruang dengan fasilitias Air Conditioning akan banyak didatangi mayoritas jamaah, khususnya pada suasana musim kemarau panjang. Asumsi ini didasarkan pada kenyataan bahwa mayoritas diantara kita lebih senang berlama-lama didalam ruang pendingin disaat cuaca gerah.

Lokasi masjid didukung tempat parkir yang luas bagi kendaraan roda dua sampa roda empat dan terjamin keamanaannya, tentu lebih menenangkan pikiran jamaah. Dengan begitu, menjalankan ibadah akan lebih fokus dan kondusif.

Setiap jamaah pun akan lebih krasan bila di serambi masjid ada fasilitas jaringan wifi gratis. Bisa jadi, jamaah akan berlama-lama disekitas masjid sambil lalu melakukan komunikasi online dengan sanak keluarga dan para sahabatnya di media sosial. tempat ibadah umat islam zaman modern dengan fasilitas wifi ‘gratis’ ini tentu masih bisa dihitung dengan jari. Misalnya, apabila sejumlah masjid di Kota/Kabupaten Probolinggo Jawa Timur baik tipologi masjid besar, masjid di tempat publik dengan jumlah 1385 catatan Bimas kemenag 2014, semua diberi fasilitas wifi, bisa kita bayangkan betapa banyak jamaah ‘tetap dan kalong’ yang akan memenuhi lingkungan masjid. Bisa dipastikan, tidak perlu menunggu hari jumat, bagi para remaja menuju ke masjid. Dengan password ‘ayo sholat/jamaah dulu’, jaringan wifi tesebut bisa jadi memotivasi ‘user’ untuk berniat memakmurkan masjid. Bahkan dinikmati oleh umat non muslim sekalipun.

Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam dengan karakteristik penganutnya. Islam adalah agama universal tanpa batas kewarganegaraan tertentu. Menurut Gusdur dalam judul bukunya (2007) ‘Islam Kosmopolitan; Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan’ di halaman kesembilan, Gusdur menyatakan kosmopolitanisme peradaban Islam, bagi Gus Dur, digambarkan seperti hilangnya batasan etnis, kuatnya pluralitas budaya, heteroginitas politik dan kehidupan beragama yang eklektik selama berada-abad. Inilah yang menurut Rumadi (peminat pemikiran Gus Dur), watak kosmopitanisme dan universalisme ini digunakan Gus Dur untuk melakukan pengembangan terhadap teologi ahl al-sunnah wa al-jamaah (Aswaja) dalam mengahadapi berbagai perubahan dan tantangan masyarakat (lebih lengkap lihat http://wahidinstitute.org/v1/Resensi