Keseimbangan Berkomunikasi Online Offline
Keseimbangan Berkomunikasi Online Offline

Inti perkembangan alat komunikasi seperti handphone adalah untuk memudahkan kebutuhan sehari-hari antarsesama manusia. Ironisnya alat komunikasi tidak melulu mendatangkan kebaikan (dampak positif), namun terdapat pula beberapa dampak yang jelek (negatif). Antara lain, jalinan komunikasi antarpersonal banyak ‘digantikan’ dengan cara tidak perlu secara fisik (face to face), yang bisa saling meraba atau menyentuh kulit tangan saat bersalaman jika bersua. Bagaimana kita harus menyikapi alat komunikasi yang semakin canggih saat ini?

Seperti fenomena yang penulis anggap dilematis, sikap dikalangan para perempuan muda yang sudah menikah dan dikarunia bayi dibawah lima tahun (balita). Mereka cenderung ‘terlena’ dalam mempergunakan media online pada saat yang semestinya berinteraksi secara ‘produktif’ mengisi waktu bersama sang balita. Begitu pun para Lelaki yang sudah berstatus ayah dari anak-anak kandungnya. Mereka yang tidak mau disebut ‘PONA’ dan atau setiap orang yang tidak ingin disebut tertinggal mempergunakan alat komunikasi canggih (gaptek,red), lebih ‘membela’ handphone canggihnya dari pada berlama-lama bermain dengan sang buah hati.

Lain halnya bagi mereka yang tidak terpengaruh dengan alat komunikasi canggih. Banyak waktu dan ruang berinteraksi dan berkomukasi dengan sanak famili dan tetangga dekat/jauh, melalui pertemuan fisik sebagaimana tradisi manusia tradisional pra-gadget.

Adalah tantangan berat bagi para orang tua masakini yang memiliki anak dengan kecenderungan terhadap media handphone canggih dengan fasilitas/menu aneka macam yang memanjakan penggunanya. Bila tidak memahami dunia anak yang serba imajinatif teknologis dengan kebutuhan alat komunikasi ini, maka kemungkinan besar sang anak mengalami ‘ketidakpercayaan diri yang akut’. Karena fakta menunjukkan bahwa generasi remaja masakini harus dan terus menerus menjalin komunikasi dan interaksi sosialnya melalui dunia maya ‘cyberspace’, sebagaimana telah diprediksikan oleh William Gibson sejak tahun 1980an, terlebih setelah jaringan internet semakin mendunia sejak 1990an.

Masing-masing remaja berlomba mempergunakan waktu sehari-harinya untuk online, update status, game, dan seterusnya sebagai tradisi yang berbeda dengan tradisi kedua orangtuanya di masa lalu. Sangat disayangkan kalau selama 24 jam waktunya hanyalah untuk melayani cyberspace. Tanpa mampu mengoptimalkan alat komunikasi tersebut dan mengendalikan waktu produktifnya.

Nah, solusi yang harus diberikan kepada para remaja yang ‘gitek’ gila teknologi ini, hemat penulis tiada lain ‘memaksa’ mereka untuk menyeimbangkan komunikasi online vs offline. Hal itu bisa dilakukan dengan mencuci otak mereka dengan wawasan adat ketimuran sebagai filter dalam upaya penyeimbangan.

Untuk itu, keteladanan pimpinan dan stakeholder lainnya di lingkungan pemerintah maupun non pemerintah, khususnya para tokoh agama menjadi tolok ukur keberhasilan dalam penyeimbangan interaksi dan komunikasi online-offline. Agar tetap berkibar ‘menjaga tradisi lama yang baik dan mengurai tradisi baru yang ‘lebih baik’.

 

*Mahasiswa Program Doktoral dan pemerhati pondok pesantren pulau Jawa