Iktisar Biografi Empat Imam Mazhab
Iktisar Biografi Empat Imam Mazhab

Iktisar Biografi Empat Imam Mazhab

 

Di antara tanda-tanda kesempurnaan syari’ah Islam adalah terbukanya pintu ijtihad sepanjang masa. Syari’ah Islam diakui berdiri di atas fondasi ijtihad. Hal ini berangkat dari keterbatasan teks-teks Al-Quran dan Al-Sunnah yang sampai kepada kita, sementara sekian banyak peristiwa yang terjadi dari masa ke masa dan perlu mendapat respon dari hukum Islam tidaklah terbatas. Sehingga eksistensi terbukanya pintu ijtihad ini, menjadikan syari’ah Islam dapat beradaptasi dengan dinamika kehidupan kaum Muslimin di mana pun dan kapan pun mereka berada.

Dari sini, kaum Muslimin tidak pernah merasakan keterbatasan dan ketidakmampuan syari’ah Islam dalam setiap lini kehidupan yang mereka jalani dan setiap persoalan yang mereka hadapi. Mereka belum pernah membutuhkan peraturan dari luar syari’ah mereka atau dewan legislatif dari selain fuqaha mereka. Bahkan kaum Muslimin-lah yang menjadi dewan legislatif bagi diri mereka dan bagi umat lain, sebagaimana diakui oleh Wells dalam bukunya A Short History of the World yang mengatakan: “Sesungguhnya Eropa ibarat sebuah kota bagi Islam, karena unsur terbesar dari undang-undang pemerintahan dan perdagangannya mengambil dari fiqih Islam.”[1]

Dalam dinamika perkembangan fiqih Islam melalui aktifitas ijtihad, ada empat Imam mazhab fiqih yang populer dalam dunia Islam hingga kini. Dan dalam tataran riil, dalam perjalanan sejarah umat Islam, mazhab fiqih yang dibangun oleh keempat Imam mazhab tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Keempat Imam mazhab tersebut adalah:

 

1. Imam Abu Hanifah

Nama lengkapnya Abu Hanifah Al-Nu’man ibn Tsabit ibn Zutha Al-Kufi. Ia lahir pada tahun 80 H/699 M di Anbar,kotayang termasuk bagian dari propinsi Kufah. Ayahnya berasal dari keturunanPersia. Kakeknya, Zutha berasal dariKabul, Afganistan yang sebelumnya masuk bagian wilayahPersia. Ketika Tsabit masih dalam kandungan, ia dibawa ke Kufah dan menetap di sini hingga Abu Hanifah lahir. Konon ketika Zutha bersama anaknya Tsabit berkunjung kepada Ali ibn Abi Thalib, dengan serta merta kedua orang ini didoakan agar mendapat keturunan yang luhur dan mulia.

Abu Hanifah tumbuh di kotaKufah. Di kotaini ia mulai belajar dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Selain pernah melakukan pengembaraan ke Basrah, Makkah dan Madinah dalam rangka mengembangkan wawasan dan memperluas ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya. Di antara guru-guru yang ditemuinya adalah Hammad ibn Abu Sulaiman Al-Asy’ari (w. 120 H/738 M) faqih kota Kufah, ‘Atha’ ibn Abi Rabah (w. 114 H/732 M) faqih kota Makkah, ‘Ikrimah (w. 104 H/723 M) maula dan pewaris ilmu Abdullah ibn Abbas, Nafi’ (w. 117 H/735 M) maula dan pewaris ilmu Abdullah ibn Umar dan lain-lain. Ia juga belajar kepada ulama Ahlul-Bait seperti Zaid ibn Ali Zainal ‘Abidin (79-122 H/698-740 M), Muhammad Al-Baqir (57-114 H/676-732 M), Ja’far ibn Muhammad Al-Shadiq (80-148 H/699-765 M) dan Abdullah ibn Al-Hasan. Ia juga pernah bertemu dengan beberapa orang sahabat seperti Anas ibn Malik (10 SH-93 H/612-712 M), Abdullah ibn Abi Aufa (w. 85 H/704 M) di Kufah, Sahal ibn Sa’ad Al-Sa’idi (8 SH-88 H/614-697 M) di Madinah dan Abu Al-Thufail Amir ibn Watsilah (w. 110 H/729 M) di Makkah.

Akan tetapi dari sekian banyak guru yang paling berpengaruh dalam pembentukan karakter intelektual dan corak mazhab Abu Hanifah adalah Hammad ibn Abi Sulaiman. Ia belajar kepada Hammad selama 18 tahun sampai Hammad wafat. Dan setelah itu ia mengganti kedudukan Hammad mengajar di majlis ilmu fiqih di Kufah dengan gelar imam ahl al-ra’y (Pemimpin ulama ahlu al-ra’y). Dalam hal ini ia berkata: “Aku tidak menunaikan shalat kecuali mendoakan guruku Hammad dan setiap orang yang pernah mengajariku atau belajar kepadaku.”

Karya-karya Abu Hanifah yang sampai kepada kita adalah Kitab Al-Fiqh Al-Akbar, Kitab Al-Fiqh Al-Absath, Kitab Al-Risalah, Kitab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim dan Kitab Al-Washiyyah. Dalam bidang fiqih, Abu Hanifah tidak menulis karangan. Akan tetapi, murid-muridnya telah merekam semua pandangan dan hasil ijtihad Abu Hanifah secara lengkap sehingga menjadi mazhab yang diikuti oleh kaum Muslimin. Di antara murid-muridnya adalah Abu Yusuf Ya’qub ibn Muhammad Al-Anshari (113-182 H/731-797 M), Muhammad ibn Al-Hasan Al-Syaibani (132-189 H/750-805 M), Zufar ibn Al-Hudzail (110-157 H/729-774 M) dan Hasan ibn Ziyad Al-Lu’lu`i (w. 204 H/819 M).

Abu Hanifah diakui sebagai ulama besar dengan keluasan ilmu pengetahuannya dalam segala bidang studi keislaman sehingga ia merupakan imam mujtahid besar (al-imam al-a’zham) yang menjadi panutan kaum Muslimin sepanjang masa. Muhammad ibn Maslamah berkata: “Ilmu agama diturunkan oleh Allah kepada Nabi saw. Kemudian diturunkan kepada para sahabat. Kemudian diturunkan kepada tabi’in. Kemudian diturunkan kepada Abu Hanifah dan murid-muridnya.”[2]

Imam Al-Syafi’i berkata: “Barangsiapa hendak mengetahui ilmu fiqih, maka belajarlah kepada Abu Hanifah dan murid-muridnya. Karena manusia dalam bidang fiqih membutuhkan Abu Hanifah.”

Sufyan ibn ‘Uyainah, salah satu fuqaha Kufah berkata: “Adadua perkara yang tidak aku sangka akan melampaui jembatan Kufah, qira’ah-nya Hamzah dan pandangan fiqih Abu Hanifah.”

Muthi’ ibn Al-Hakam berkata: “Aku belum pernah melihat seorang ahli hadits yang lebih faqih daripada Sufyan Al-Tsauri. Tetapi Abu Hanifah lebih faqih daripada Sufyan.”

Imam Yazid ibn Harun pernah ditanya: “Siapa menurut Anda yang lebih faqih, Abu Hanifah atau Sufyan?” Ia menjawab: “Sufyan lebih hafal terhadap hadits. Tetapi Abu Hanifah lebih faqih.”[3]

Suatu ketika Al-Syafi’i bertanya kepada gurunya Imam Malik tentang Abu Hanifah, maka ia menjawab: “Menurutku, andaikan ia berbicara kepadamu bahwa tiang ini terbuat dari emas, niscaya ia akan dapat menyampaikan argumentasinya.”

Al-Nazhar ibn Syumail berkata: “Manusia pada mulanya tidur dari ilmu fiqih sehingga Abu Hanifah yang membangunkan mereka.”[4]

Sufyan Al-Tsauri dan Abdullah ibn Al-Mubarak berkata: “Abu Hanifah adalah faqih terbesar di dunia pada masanya.”

Abu Hanifah membangun mazhabnya di atas fondasi Al-Kitab, Al-Sunnah, ijma’, qiyas dan istihsan. Dewasa ini mazhab Hanafi diikuti oleh penduduk Turki dan negara-negara sekitarnya, negera-negara Asia Tengah bekas jajahan Rusia, Pakistan, Afganistan, India, Bangladesh dan sebagian penduduk Afrika dan Timur Tengah.

Abu Hanifah wafat pada tahun 150 H/767 M.

2. Imam Malik Ibn Anas

Nama lengkapnya Abu Abdillah Malik ibn Anas ibn Abi ‘Amir Al-Ashbahi Al-‘Arabi. Lahir di kota Madinah pada tahun 95 H/713 M dan dibesarkan di daerah ini sampai meninggal pada tahun 179 H/795 M.

Kakeknya berasal dari Yaman kemudian pindah dan menetap di Madinah dan termasuk jajaran sahabat Rasulullah saw.

Ia termasuk ulama yang amat mencintai Madinah, sehingga seumur-umurnya belum pernah meninggalkan kotaMadinah. Karenanya ia mempelajari ilmu-ilmu keislaman pada ulama-ulama yang berada di Madinah. Ia telah mengumpulkan ilmunya dari lebih 900 guru, 300 di antaranya berasal dari tabi’in. Akan tetapi dari sekian banyak guru yang ada, yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter dan corak keilmuan Imam Malik adalah Rabi’ah ibn Abi Abdirrahman Al-Ra`y (w. 136 H/754 M) dalam bidang fiqih, Nafi’ maula Ibn Umar, Ibn Syihab Al-Zuhri (w. 124 H/742 M), Abu Al-Zanad (w. 131 H/749 M) dan Yahya ibn Sa’id Al-Anshari (w. 144 H/761 M) dalam bidang hadits.

Dalam menuntut ilmu, Imam Malik tergolong seorang yang sangat rajin, disamping kecerdasannya yang luar biasa, serta daya ingatnya yang sangat hebat, sehingga mengantarnya menjadi mujtahid besar dan pendiri mazhab Maliki. Dalam usianya yang masih belasan tahun, tujuh puluh ulama Madinah telah bersaksi bahwa Malik telah layak mengeluarkan fatwa. Dalam hal ini, Malik berkata: “Aku tidaklah mengeluarkan fatwa, sehingga tujuh puluh ulama bersaksi bahwa aku memang pantas untuk mengeluarkan fatwa.”

Keilmuan Imam Malik dalam bidang hadits mencapai puncak. Kitabnya Al-Muwaththa’ dinilai sebagai kodifikasi hadits sahih yang pertama kali. Sementara dalam ilmu fiqih, ia juga mencapai posisi yang menempatkannya sebagai satu-satunya faqih terhebat di Hijaz. Berbagai pujian dan penghargaan kepadanya mengalir dari ulama berbagai kalangan. Para fuqaha ahlu al-ra’y memujinya. Demikian pula para ulama ahli hadits memujinya. Malik dianggap sebagai tokoh utama oleh kedua golongan.

Abu Yusuf, murid Abu Hanifah dan rekan Imam Malik berkata: “Aku tidak melihat seorang yang lebih alim daripada tiga orang: Malik ibn Anas, Ibn Abi Laila dan Abu Hanifah.”

Abdurrahman ibn Mahdi berkata: “Al-Tsauri adalah seorang panutan dalam bidang hadits, tetapi bukan panutan dalam bidang Al-Sunnah. Al-Awza’i panutan dalam bidang Al-Sunnah, tetapi bukan panutan dalam bidang hadits. Sedangkan Malik adalah panutan dalam kedua-duanya.”

Al-Syafi’i berkata: “Apabila hadits datang kepadamu dari Malik, maka peganglah kuat-kuat. Apabila hadits datang, maka Malik bintangnya. Apabila para ulama disebutkan, maka Malik bintangnya. Belum pernah seseorang mencapai kehebatan ilmu Malik.”

Ahmad ibn Hanbal berkata: “Malik termasuk salah satu penghulu ahli ilmu. Ia penghulu dalam fiqih dan hadits. Adakah orang seperti dia, mengikuti Al-Sunnah generasi terdahulu dengan akal yang sempurna dan adab yang bagus.”

Imam Malik membangun mazhabnya di atas fondasi Al-Kitab, Al-Sunnah, ijma’, qiyas, mashalih mursalah dan pengamalan penduduk Madinah. Dewasa ini mazhab Maliki diikuti oleh sebagian masyarakat Timur Tengah dan mayoritas penduduk Afrika Utara.

Paraulama menganggap bahwa munculnya Imam Malik ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadits: “Hampir datang suatu masa, orang-orang bepergian dengan cepat dari negeri-negeri yang jauh untuk mencari ilmu, lalu mereka tidak menemukan seorang yang lebih alim daripada seorang alim di Madinah.”[5] Sufyan ibn ‘Uyainah berkata, bahwa maksud seorang alim di Madinah dalam hadits tersebut adalah Malik ibn Anas.

 

3. Imam Al-Syafi’i

Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Utsman ibn Syafi’ ibn Al-Sa`ib ibn ‘Ubaid ibn ‘Abdi Yazid ibn Hasyim ibn Al-Muththalib ibn ‘Abdi Manaf ibn Qushay ibn Kilab Al-Qurasyi Al-Muththalibi Al-Syafi’i Al-Makki. Ia dilahirkan pada tahun 150 H/767 M di Gaza Palestina. Kakeknya yang keempat, Al-Sa`ib ibn ‘Ubaid termasuk jajaran sahabat Nabi saw. yang masuk Islam pada waktu peperangan Badar. Sedangkan anaknya Syafi’ ibn Al-Sa`ib termasuk jajaran sahabat generasi yunior.

Al-Syafi’i hidup dalam keadaan yatim. Ayahnya wafat sebelum Al-Syafi’i berusia dua tahun. Setelah ia berusia dua tahun, ibunya membawanya ke Makkah. Sehingga pendidikan Al-Syafi’i dimulainya dikotaini.

Ia memiliki kecerdasan dan daya hafal yang luar biasa. Sehingga ia telah hafal Al-Quran ketika berusia tujuh tahun dan hafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik ketika berusia sepuluh tahun. Setelah berusialima belas tahun, ia telah mengeluarkan fatwa berdasarkan mandat dari gurunya Sufyan ibn ‘Uyainah (w. 198 H/813 M) dan Muslim ibn Khalid Al-Zanji (w. 179 H/795 M).

Setelah mencapai derajat mufti dalam bidang fiqih, Al-Syafi’i memperdalam bahasa dan sastra Arab ke pedalaman daerah suku Hudzail. Ia tinggal bersama mereka selama beberapa tahun. Kemudian setelah itu ia berangkat ke Madinah untuk melanjutkan pendidikannya dan berguru kepada Imam Malik pengarang kitab Al-Muwaththa’. Di Madinah, selain berguru dan menjadi asisten tetap Imam Malik, Al-Syafi’i juga menimba ilmu dari para ulama Madinah yang lain seperti Ibrahim ibn Sa’ad Al-Anshari (w. 183 H/798 M), Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Darawardi (w. 186 H/802 M) dan lain-lain.

Setelah Imam Malik wafat, selanjutnya Al-Syafi’i pergi ke Yaman dan menjadi kepala pemerintahan di Najran. Selanjutnya beberapa tahun kemudian, ia pergi ke Iraq. Kemudian setelah sebentar di Iraq, iapergi ke Makkah dengan menjalani aktifitas mengajar di Masjid Al-Haram selama sepuluh tahun. Di Makkah ia memperoleh gelar Al-Mufti Al-Makki dan Al-‘Alim Al-Makki, seorang mufti dan alim dari Makkah. Dalam sebagian riwayat diceritakan bahwa Al-Syafi’i menulis kitabnya Al-Risalah ketika mengajar di Makkah tersebut atas permintaan dari seorang ulama Iraq Imam Abdurrahman ibn Mahdi (135-198 H/752-813 M).

Setelah sepuluh tahun tinggal di Makkah, sekitar tahun 195 H akhirnya ia pergi ke Iraq yang kedua kalinya. Di sini, ia mulai membangun mazhabnya. Selama di Iraq, Al-Syafi’i banyak melakukan diskusi dan tukar pikiran dengan kalangan fuqaha ahlu al-ra’y yang mayoritas mereka adalah murid-murid Abu Hanifah. Dari berbagai diskusi ini, ia mendapat gelar nashir al-sunnah (pembela Al-Sunnah), karena dapat mengangkat derajat ahlu al-hadits di mata masyarakat yang sebelumnya selalu menjadi bulan-bulanan ahlu al-ra’y. Di Iraq ia menulis bukunya, Al-Hujjah yang menjadi sumber rujukan qaul qadim dalam mazhab Al-Syafi’i.

Beberapa saat kemudian tepatnya pada tahun 200 H, Al-Syafi’i memutuskan untuk meninggalkan Iraq dan berpindah ke Mesir. Di Mesir ia melakukan kaji ulang terhadap pendapat-pendapatnya ketika di Iraq, sehingga lahirlah pendapat-pendapat beliau yang baru yang disebut dengan qaul jadid. Al-Syafi’i wafat pada malam Kamis akhir bulan Rajab tahun 204 H/819 M dalam usia 55 tahun.

Al-Syafi’i adalah sosok mujtahid yang tiada tandingannya. Ia disepakati sebagai pendiri ilmu ushul fiqih yang dijadikan metode kajian dalam penggalian hukum Islam oleh berbagai mazhab fiqih. Mazhabnya diikuti oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia. Dan ia telah merekonsiliasikan antara mazhab ahlu al-hadits dengan mazhab ahlu al-ra’y sehingga melahirkan mazhab fiqih yang lebih moderat.

Kepakaran Al-Syafi’i diakui oleh semua ulama terkemuka baik oleh guru-gurunya maupun oleh murid-muridnya. Bahkan menurut Imam Ahmad ibn Hanbal, Al-Syafi’i-lah yang dimaksud dengan hadits Rasulullah saw.: “Seorang alim dari suku Quraisy, ilmunya akan menyebar ke berbagai tempat di bumi.” Menurut para ulama seperti Imam Ahmad ibn Hanbal, Al-Hafizh Al-Baihaqi (384-458 H/994-1066 M), Al-Hafizh Al-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dan lain-lain: “Maksud seorang alim dari suku Quraisy dalam hadits tersebut adalah Al-Syafi’i. Karena belum pernah seorang alim dari suku Quraisy memiliki popularitas melebihi Al-Syafi’i. Sehingga hadits tersebut hanya tepat bagi Al-Syafi’i.”

 

4. Imam Ahmad Ibn Hanbal

Nama lengkapnya Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal Al-Syaibani. Orang tuanya berasal dari Marwa, bagian dari propinsi Khurasan. Dan ketika Ahmad masih dalam kandungan, orang tuanya pindah ke kota Baghdad, sehingga Ahmad lahir di sana pada Rabi’ul Awal tahun 164 H/781 M.

Ahmad ibn Hanbal adalah ulama yang berdiri di persimpangan jalan. Ia dianggap sebagai imam dalam berbagai ilmu keislaman seperti ilmu hadits, fiqih, Al-Sunnah, wara’, zuhud, tashawuf, ilmu kalam dan lain-lain. Ia mulai belajar ilmu-ilmu keislaman seperti Al-Quran, hadits, sejarah, bahasa Arab dan sebagaimanya melalui ulama-ulama yang ada di Baghdad.

Setelah berusia 16 tahun, ia mulai melakukan pengembaraan dalam rangka mencari ilmu ke pusat-pusat ilmu keislaman di Kufah, Basrah, Syria, Yaman, Makkah dan Madinah. Kajian yang menjadi perhatiannya adalah hadits dan fiqih tanpa mengabaikan ilmu-ilmu lainnya seperti kalam, tashawuf dan ilmu-ilmu Al-Quran.

Sumber-sumber ilmu yang ia dapatkan antara lain berasal dari Husyaim ibn Basyir ibn Abi Khazim (104-183 H/723-799 M), Sufyan ibn ‘Uyainah, Ibrahim ibn Sa’ad, Yahya Al-Qaththan, Mu’tamar ibn Sulaiman, Isma’il ibn ‘Ulayyah, Waki’ ibn Al-Jarrah (127-197 H/745-812 M), Abdurrahman ibn Mahdi, ‘Abdurrazzaq ibn Hammam, Yahya ibn Adam, Walid ibn Hisyam Al-Thayalisi, Abu Yusuf, Al-Syafi’i dan lain-lain. Akan tetapi dari sekian banyak guru yang pernah ditemuinya, ada dua orang yang sangat berpengaruh dalam membentuk karakter intelektual Imam Ahmad ibn Hanbal. Yaitu Husyaim ibn Basyir yang pertama kali mengarahkan orientasi Ahmad untuk menekuni Al-Sunnah sehingga menjadi pakar hadits terkemuka pada masanya. Dan kedua adalah Imam Al-Syafi’i yang mengarahkan orientasinya kepada fiqih sehingga menjadi mujtahid dan pendiri mazhab fiqih Hanbali yang diikuti oleh umat Islam hingga kini.

Imam Ahmad ibn Hanbal adalah ulama hadits terkemuka, juga seorang faqih panutan umat. Kepakarannya dalam bidang fiqih telah disaksikan oleh para ulama terkemuka, baik oleh guru-gurunya maupun rekan sejawatnya. Imam Al-Syafi’i berkata: “Aku keluar dari Baghdad, dan aku tidak meninggalkan di sana seorang yang lebih faqih, lebih zuhud dan lebih wara’ daripada Ahmad ibn Hanbal.”

Al-Hafizh Abdurrazzaq Al-Shan’ani berkata: “Aku tidak melihat seorang yang lebih faqih dan lebih wara’ daripada Ahmad ibn Hanbal.”

Al-Hafizh Al-Khalili berkata: “Di antara rekan sejawatnya, Ahmad ibn Hanbal adalah yang paling faqih, paling wara’ dan paling menahan diri dari berbicara kecuali dalam keadaan terpaksa.”

Al-Hafizh Ibn Hibban berkata: “Ahmad seorang hafizh yang sempurna, faqih dan menetapi kewara’an yang disembunyikannya.”

Imam Muhammad ibn Ibrahim Al-Busyanji berkata: “Aku tidak melihat seorang yang lebih memiliki segalanya dan lebih berakal daripada Ahmad. Menurutku ia lebih utama dan lebih faqih daripada Sufyan Al-Tsauri.”

Al-Hafizh Abu Zur’ah Al-Razi (w. 281 H/912 M) berkata: “Aku tidak melihat di antara rekan sejawatku pemuda yang lebih faqih daripada Ahmad.”

Sementara dalam bidang hadits, Ahmad diakui sebagai muhaddits dan faqih yang paling banyak hafalan haditsnya. Ia telah hafal satu juta hadits. Abbas ibn Al-Walid ibn Mazid berkata: “Aku bertanya kepada Imam Abu Mishar: “Tahukah Anda seorang yang menghafal seluruh hadits umat ini? Abu Mishar menjawab: “Aku tidak tahu. Kecuali seorang pemuda di daerah Timur, Ahmad ibn Hanbal.”

Ibrahim ibn Syammas berkata: “Para ulama berdiskusi, apabila terjadi sesuatu di kalangan umat Muhammad saw., maka siapa yang layak menjadi hujjah bagi mereka. Akhirnya mereka sepakat, Ahmad ibn Hanbal.”

Imam Ahmad ibn Hanbal wafat pada awal Rabi’ul Awal tahun 241 H/855 M.

 

 

Posted by : Mp.

[1]   Muhammad ibn ‘Alwi Al-Maliki, Muhammad SAW. Al-Insan Al-Kamil, hal. 303-305.

[2]   Al-Hafizh Al-Khathib Al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, juz XIII, hal. 336.

[3]   Abdul Mun’im Al-Hasyimi, Al-Imam Abu Hanifah, hal. 68.

[4]   Sayid Dawud ibn Sulaiman Al-Baghdadi, Asyadd Al-Jihad fi Ibthal Da’wa Al-IJtihad, hal. 3.

[5]   Sunan Al-Tirmidzi, hadits nomor 2604 dan Musnad Ahmad ibn Hanbal, hadits nomor 7639.