Hadiri Halal Bihalal P4NJ Probolinggo Barat, Ini Pesan KH. Moh. Zuhri Zaini
Hadiri Halal Bihalal P4NJ Probolinggo Barat, Ini Pesan KH. Moh. Zuhri Zaini

nuprobolinggo.or.id - WONOMERTO– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini menyatakan, Nahdlatul Ulama atau NU merupakan wadah yang pas bagi santri. Sebab, NU merupakan pesantren besar, dan pesantren merupakan NU kecil.


Pesan itu disampaikan Kiai Zuhri di acara Halal Bihalal dan Khotmil Quran Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid atau P4NJ Probolinggo Barat, Sabtu (14/5/2022).

"Mon bede (santri) benni ning NU, kelero bedde (Kalau ada santri bukan di NU, berarti keliru wadah, Red)," dawuhnya dalam Bahasa Madura di acara yang berlangsung di Desa Tunggak Cerme, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo tersebut.

Ia meminta, alumni dan simpatisan tak sampai kita meninggalkan NU, apalagi membuang jam'iyyah yang didirikan para wali dan ulama nusantara tersebut.

Kiai Zuhri menyatakan, sampai sekarang NU tetap eksis dan tetap berjalan. Tidak hanya berkembang di dalam negeri, tapi sampai merambah ke luar negeri, bahkan di negara komunis.

Santri dan alumni hendaknya mampu berinteraksi dengan masyarakat karena hakekatnya menjadi milik masyarakat dan tentunya NU. Karenanya, tak perlu ada sekat dan batas.

Menurutnya, hidup berkelompok di masyarakat boleh selama bukan untuk perpecahan. Namun sekedar untuk memudahkan berhimpun.

Hidup berkelompok juga merupakan sunnatullah. Baik dalam entitas kesukuan, etnis, agama maupun lainnya. Tapi keragaman itu sebaiknya tidak mencegah untuk berinteraksi (taaruf) dengan entitas yang lain.

Sesama santri, sesama muslim dan tentu sesama bangsa dan negara Indonesia temukan persamaan. Jangan pernah memunculkan perbedaan dan sadarilah bahwa keragaman merupakan sunnatullah.

Karena itu ulama salaf jika ada perbedaan pandangan dengan pemerintah mereka mendahulukan kepentingan negara kepentingan umat, kepentingan yang lebih besar seraya menyitir Qaul Ulama “Hukmul hakim yarfaul ikhtilaf.”



Perihal P4NJ, pengasuh ponpes di ujung timur Probolinggo ini menyebut bukan sebagai wadah dari para santri dan alumni pesantren Nurul Jadid.

Dalam kasus di daerah tertentu, ada pengurus yang berasal dari luar alumni tapi memiliki komitmen berjuang bersama.

Dan kalau secara umum wadah santri adalah Nahdlatul ulama, maka santri harus mendukungnya baik di tingkat ranting, MWC maupun PC, sebagai jama’ah maupun jam’iyah.

Melalui momen Halal Bihalal ini, hendaknya mampu membangkitkan keistiqomahan kita sebagai santri (Istiqamah kesantrian). Sekaligus jadi lem perekat kebangsaan dan tentu dengan menjaga aqidah dan penerapan syari’ah secara baik.

Halal Bihalal juga ihwal penyempurna ibadah ramadhan dengan saling memaafkan. Tuhan kita Allah alkarim adalah dzat yang maha pemurah, maha memberi bahkan sebelum kita memintanya.

Kita adalah makhluk yang membutuhkan-Nya. Janganlah menunggu bangkrut, sakit, dan berdoa ketika membutuhkan-Nya sebagaimana yang dilakukan Firaun saat sakratul maut menghampirinya.

Dunia, jelas kiai Zuhri, sesuatu yang rendah dan dicintai nafsu, sesuai dengan namanya. Kualitas moral dan keimannya kian lama kian menurun.

Untuk ini, Kiai Zuhri mengibaratkan dengan aliran air di sungai. Ia jernih di hulu, di dekat sumber mata air. Tapi makin ke hilir, kualitas air kian turun.

"Air yang di hadapan kita mulia dan terhormat karena terjaga oleh kemasannya. Endingnya santri harus mampu mengemas dirinya dan menjaga kehormatannya," dawuhnya.

Terakhir kiai yang masyhur dengan keteladanan dan ketawaduannya ini mengingatkan agar santri terus menjaga ukhuwah kebangsaan, ukhuwah islamiyah, ukhuwah insaniyah dan ukhuwah basyariyah.

Selain KH. Moh. Zauhri Zaini, halal bihalal turut dihadiri Habib Qushay As-Segaf, KH. Fahmi AHZ, Kiai Imdadud Rabbani, Kepala Kemenag Kota Probolinggo H. Samsur yang sekaligus Ketua PCNU Kota Probolinggo.

Kemudian Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo Kiai Abdul Hamid yang hadir bersama sejumlah pengurus, beberapa Ketua MWCNU di bawah PCNU Kabupaten Probolinggo, dan tokoh agama dan masyarakat setempat. (Ansori)