Definisi Ulama; Tafsir Surat Fathir Ayat 28
Definisi Ulama; Tafsir Surat Fathir Ayat 28

Keterangan Gambar : https://www.elfagr.com

nuprobolinggo.or.id - Nahdlatul Ulama terdiri dari 2 kata ; Nahdlah dan Ulama’. Nahdlah artinya kebangkitan sedangkan Ulama’ artinya orang-orang alim. Jam’iyah ini didirikan oleh ulama’-ulama yang tidak diragukan lagi kesalehannya. Pemilihan nama dan proses pendirian jam’iyah ini tidak melalui searching di google atau ngobrol di warung kopi melainkan melalui olah bathin yang dilakukan ulama-ulama yang sekaligus wali.

Tulisan kali ini akan membahas tentang definisi ulama’ bedasarkan tafsir al-Qur’an. Ini sebagai urun usaha menjelaskan definisi ulama mengingat kata ulama menjadi identitas dan komoditas. Banyak ulama yang terbentuk dan disebut sebagai ulama karena memang layak serta memenuhi syarat menjadi ulama’. Banyak pula orang yang mengaku ulama dengan kapabilitas yang sangat minim untuk disebut ulama’. Ada pula penyematan ulama kepada orang tertentu untuk menarik simpati dan mendulang suara dalam kontestasi politik serta banyak lagi motif penyematan status ulama baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain.

Kata Ulama disebutkan dalam Al-Quran pada Surat Fathir ayat 28

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ

Artinya : Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.


Dalam kitab Al Tafsir Al Munir Syekh Wahbah Zuhaili menyebutkan beberapa pendapat tentang ‘Alim sebagai bentuk singular dari kata Ulama’.

 والمراد به العالم بعلوم الطبيعة والحياة وأسرار الكون

Artinya : Yang dimaksud dengan Alim adalah orang yang mengerti tentang ilmu-ilmu alam dan kehidupan serta rahasia-rahasia alam semesta.

Ini pendapat Syekh Wahbah Zuhaili sendiri. Kemudian beliau melanjutkan pembahasan kata ‘Alim dengan mengutip pendapat ulama seperti berikut ini.

 

قال ابن عباس: العالم بالرحمن: من لم يشرك به شيئا، وأحلّ حلاله، وحرّم حرامه، وحفظ وصيته، وأيقن أنه ملاقيه، ومحاسب بعمله.

Artinya : Ibn Abbas berkata : orang yang tahu Allah yang Maha Pengasih adalah orang yang tidak menyekutukan Allah, memandang halal apa yang dihalalkan Allah memandang haram apa yang diharamkan Allah, menjaga wasiat Allah SWT, yakin bahwa akan berteme Allah SWT dan Allah SWT akan menghisab semua amal perbuatannya.

 

وقال الحسن البصري: العالم: من خشي الرحمن بالغيب، ورغب فيما رغّب الله فيه، وزهد فيما سخط الله فيه

Imam Hasan Al Bashri berkata : orang Alim adalah orang yang takut kepada Allah SWT yang Maha Pengasih. Senang dengan apa yang disenangi Allah, meninggalkan apa yang dibenci Allah SWT

 

Dari tiga penjelasan di atas kita bisa memahami bahwa ulama yang dalam bentuk tunggalnya berupa kata ‘alim adalah orang--sekali lagi orang, bukan hewan atau tumbuhan--yang berilmu dan dengan ilmunya tersebut dia takut kepada Allah, melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta tidak menyekutukan Allah SWT dengan apapun.

 

Dalam penjelasannya Syekh Wahbah Zuhaili tidak menyebutkan bahwa orang Alim adalah orang yang sangat faham tentang fiqih, hadits, tafsir, tajwid, Nahwu, Shorof ataupun pintar pidato. Beliau menjelaskan kata ulama sebagai orang yang mengerti ilmu-ilmu alam dan kehidupan serta rahasia-rahasia alam. Pendapat ini selaras dengan pendapat Prof. Quraish Shihab ketika menjelaskan surat Fathir ayat 28 tersebut sebagaimana banyak kita temukan dalam buku-buku beliau seperti Membumikan Al-Qur’an, Wawasan Al-Qur’an, dan Tafsir Al-Misbah. Prof. Quraish Shihab mengungkapkan bahwa Ulama adalah orang yang memiliki ilmu yang mengantarkannya takut kepada Allah SWT walaupun ilmu-ilmu alam, sosial dan lain sebagainya.

 

Demikian penjelasan tentang kata Ulama dari berbagai pendapat berdasarkan surat Fathir ayat 28.

 

والله أعلم بالصواب