Dedikasi Tanpa Batas Kiai Maksar, Tokoh NU Tertua di Lereng Gunung Bromo
Dedikasi Tanpa Batas Kiai Maksar, Tokoh NU Tertua di Lereng Gunung Bromo

nuprobolinggo.or.id- Menyebarnya ajaran Islam Ahlussunah Wal Jama’ah di lereng Gunung Bromo, tepatnya Kecamatan Sukapura Ptobolinggo tidak lepas dari perjuangan Kiai Maksar. Dari tokoh yang memang teruji oleh zaman tersebut, ajaran Aswaja an-Nahdliyah dapat tersebar dan diterima warga sekitar.


Kiai Maksar merupakan tokoh NU tertua di Kabupaten Probolinggo. Saat ada acara yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat, dibacakan tokoh NU tertua. Dan, dialah sosoknya.


Dalam banyak hal, pegiat NU khususnya generasi muda hendaknya belajar kepadanya. Terlahir tahun 1938 memberikan pesan yang jelas bahwa Kiai Maksar lahir sebelum Indonesia merdeka. Namun kendati usianya sudah menginjak 84 tahun, soal pengabdian dan dedikasi layak dijadikan rujukan.


Saya memulai perjuangan di NU sejak 1962,” katanya kepada tim media, Jumat (24/06/2022).



Diceritakan bahwa sudah lebih 60 tahun, dirinya berjuang di NU. Warga yang disapa tidak hanya aktivis NU, termasuk warga sekitar yang belum berikrar sebagai Muslim. 


“Dulu saya sering mengayuh sepeda ontel ke mana-mana, termasuk ke kantor PCNU yang ada di perbatasan Kota Probolinggo,” kenang dia.


Mengayuh sepeda angin memang menjadi pilihan utama. Lantaran saat itu belum banyak yang memiliki motor, apalagi mobil. Termasuk dirinya yang semata mengandalkan sepeda onthel untuk menunjang mobilitas.


“Jadi kala itu, kalau saya tidak naik sepeda ontel ya harus mencari boncengan ke teman-teman,” ungkap dia.


Dijelaskannya bahwa awal bergabung adalah sejak NU menjadi bagian dari partai politik yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP).


“Dan saya semakin aktif di NU ketika dipilih menjadi Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama atau MWCNU Sukapura sejak tahun 1997 hingga tahun 2007,” jelasnya.


Berkah dari totalitas tersebut, mengantarkannya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat II Kabupaten Probolinggo. Sebuah pencapaian yang tidak banyak dapat diikuti kalangan lain dari NU.  


Hal lain yang diceritakan adalah keberadaan dirinya yang berada di komunitas kaum minoritas Islam. Namun Kiai Maksar bersyukur lantaran aneka perbedaan termasuk dalam hal keyakinan tidak menjadikan warga terkotak-kotak. Semua menyadari akan pilihan tersebut dan memilih untuk hidup rukun dengan tidak mempertajam perbedaan.


"Bagi saya sebenarnya tidak ada tantangan. Karena di wilayah Sukapura khususnya warga Tengger sendiri toleransinya sangat tinggi antara umat beragama," katanya sembari mengizinkan foto bersama.