BAGAIMANA CARA MENJADI PROFESOR ?
BAGAIMANA CARA MENJADI PROFESOR ?

Inilah pertanyaan yang diajukan seorang pendidik berinisial MT usia 34 tahun. Dia mengajar di salah satu SMK di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Kota Probolinggo. Dia bersama 10 orang guru telah memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2016 di Salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Sidoarjo Jawa Timur. Pertanyaan saudara MT saya jawab sesederhana mungkin. Bahwa sepengetahuan saya menjadi Profesor itu saat ini dan kedepan memang tidak semudah ‘membalikkan kedua telapak tangan’, bisa di bilang ‘sulit’ ataupun ‘tidak sulit’.

Setelah kita menyelesaikan studi strata dua, lalu melanjutkan strata tiga, proses selanjutnya tentu saja tahapan paling tinggi dalam jenjang akademik, yaitu menempuh gelar Profesor (Guru Besar). Gelar ini bisa di bilang prestasi yang ‘prestisius’ dan terkesan ‘menakutkan’. Karena itu, tidak semua Doktor mampu menggapai gelar tersebut.

Lihatlah ‘masa lalu’ perjuangan para Profesor saat ini. Sebagaimana disampaikan Prof. Dr. Bunyamin Maftuh, M.pd M.A, bahwa jumlah dosen di Indonesia 196.000 orang, tapi yang bergelar Profesor hanya 5ooo Orang. Ini sangat kurang ini, sangat sedikit. Memprihatinkan’. (www.infokampus.news/19-12-2016). Tentunya sebelum menjadi Profesor, mereka telah mengalami masa pahit-manis mengenyam pendidikan. ‘berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian’

Anugerah ilmu pengetahuan bagi sebagian orang menempati posisi yang prioritas disamping pemenuhan kebutuhan lainnya. Prioritas utama sebaiknya memang ‘pendidikan’ baik kalangan menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Terlebih saat ini pemerintah telah menggalakkan pendidikan ‘gratis’ melalui program beasiswa baik  S1, S2,S3 sampai beasiswa Post Doktoral. Kecuali, orang-orang yang memang memiliki motivasi besar untuk mengejar impian menjadi Profesor di masa mendatang, -mau mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, dana dan ‘bahkan perasaan’- tidak akan merasa berat menempuh perjenjang pendidikan walaupun bukan program beasiswa.

Masih teringat dengan jelas, kali pertama penulis merasakan kebahagian di Wisuda pada 25 Oktober 2008 lalu mendapatkan gelar sarjana. Demikian pula kebahagian wisuda kali kedua pada 10 Maret 2012. Betapa spesial kebagiaan yang dirasakan seorang pendidik yang dikukuhkan sebagai ‘Guru Besar’. Tentu keluarga besar akan ikut merasakan haru dan penuh suka cita. Kendatipun, kebahagiaan di rasakan bukan hanya di peroleh dari seberapa tinggi jenjang pendidikan yang telah dan sedang di tempuh.

“Nama kita akan terus mendapatkan tambahan gelar, bila kita menyelesaikan perjenjang pendidikan di perguruan tinggi yang ada baik negeri ataupun swasta. Tambahan gelar Ini merupakan konsekuensi dari jenjang pendidikan yang diselesaikan, walaupun kita tidak perlu berbangga diri dengan gelar yang dimiliki”. Demikian jawaban saya. Tentu, jawaban ini tidak cukup memuaskan menjawab pertanyaan teman penulis. Karena penulis sendiri masih berproses menempuh jenjang pendidikan strata tiga di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Untuk mengakhiri bacaan singkat ini, penulis mengacungi dua jempol pada seorang siswa bernama Lukman Hakim. siswa kelas 10 di Madrasah Aliyah ‘Al-Barokah’ Tunggakcerme Wonomerto Probolinggo. Pada 29 Juli 2017, penulis membaca tulisan tangannya tentang cita-citanya di masa depan. Diantara satu kelas teman-temannya dia menuliskan namanya dengan gelar lengkap pada secarik kertas dengan jelas, yaitu “Prof. Dr. Lukman Hakim, M.Sos”. penulis pun memberi semangat, “Semoga cita-citamu terwujud nak, tahun 2035, insyaAllah, anda bisa mewujudkan cita-cita itu. Semangat!.Teruslah sekolah sampai akhir hayat”. (Amiiin. “Man Jadda wa Jada, Pak” demikian salah satu temen sekelasnya merespon, sambil berucap ‘itu pesan kepala KUA Wonomerto Probolinggo pak’). lihat : https://kemenagprobolinggo.wordpress.com/2017/07/21/%E2%80%8Btidak-terbatas-pada-tugas-rutinitas-kepala-kua-wonomerto-rangsang-generasi-muda-untuk-terus-belajar/ Penulis menambahkan ‘Alhamdulillah’!.