Mendidik Generasi, Merawat Kebudayaan, Menyiapkan Masa Depan
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Muhammad Hilman Mufidi
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan bukan sekadar kesalehan individual, tetapi juga kesanggupan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sosial: melalui ilmu, pendidikan, kebudayaan, keteladanan, dan kontribusi kepada masyarakat.
Pada hari ini, marilah kita merenungkan satu persoalan yang sangat menentukan masa depan umat dan bangsa:
Bagaimana kita mendidik generasi muda agar tidak hanya menjadi generasi yang cerdas, tetapi juga berkarakter dan berbudaya?
Jamaah rahimakumullah,
Kita hidup dalam zaman yang unik. Belum pernah dalam sejarah manusia pengetahuan tersedia sedemikian luas. Dengan sebuah telepon genggam, seorang anak muda dapat mengakses perpustakaan dunia, mengikuti kuliah dari berbagai universitas, mempelajari bahasa asing, bahkan membangun bisnis lintas negara.
Tetapi pada saat yang sama, kita menghadapi paradoks: akses terhadap pengetahuan semakin mudah, sementara kedalaman berpikir belum tentu semakin kuat. Informasi bertambah cepat, tetapi kebijaksanaan belum tentu bertambah. Teknologi berkembang pesat, tetapi karakter manusia tetap membutuhkan proses panjang untuk dibentuk.
Karena itu, pendidikan tidak boleh direduksi menjadi sekadar persoalan nilai ujian, ijazah, gelar akademik, atau keterampilan mendapatkan pekerjaan.
Pendidikan pada hakikatnya adalah proses membentuk manusia. Manusia yang mampu berpikir benar, bersikap benar, dan bertindak benar. Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Perhatikan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ilmu, tetapi menempatkan iman dan ilmu dalam satu kerangka.
Ini memberikan pelajaran penting: kecerdasan tanpa moral dapat menjadi kekuatan yang berbahaya, sementara moral tanpa ilmu dapat kehilangan daya untuk menyelesaikan persoalan.
Karena itu, generasi ideal bukan sekadar knowledgeable, tetapi juga responsible. Bukan hanya pintar berbicara, tetapi mampu mempertanggungjawabkan perkataannya. Bukan hanya menguasai teknologi, tetapi memahami etika penggunaannya. Bukan hanya mampu bersaing, tetapi juga memiliki kepedulian.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di sinilah kebudayaan memiliki posisi yang sangat penting. Kebudayaan bukan sekadar pakaian tradisional, kesenian, bahasa daerah, atau upacara adat.
Kebudayaan jauh lebih dalam. Kebudayaan adalah cara sebuah masyarakat memahami kehidupan, membangun hubungan, menentukan yang baik dan buruk, serta mewariskan nilai dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, ketika sebuah generasi kehilangan budayanya, yang hilang bukan hanya simbol-simbol masa lalu. Yang hilang adalah orientasi dan identitas.
Kita tentu tidak ingin generasi muda menjadi generasi yang anti terhadap perubahan. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menolak kemajuan.
Sebaliknya, Islam mendorong umat untuk membaca, berpikir, belajar, dan melakukan perubahan.
Tetapi kemajuan tanpa identitas dapat membuat manusia kehilangan arah. Kita boleh menjadi modern tanpa menjadi tercerabut. Kita boleh menguasai teknologi tanpa menjadi budak teknologi. Kita boleh mengenal dunia tanpa kehilangan akar.
Dan kita boleh mengambil sesuatu yang baik dari luar tanpa merasa malu terhadap warisan kebaikan yang berasal dari bangsa dan masyarakat kita sendiri.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Rasulullah SAW memberikan perhatian besar kepada kaum muda.
Dalam sejarah Islam, banyak tanggung jawab besar dipercayakan kepada generasi muda. Mereka tidak hanya diposisikan sebagai objek yang harus dibimbing, tetapi juga sebagai subjek yang diberi kepercayaan.
Inilah pelajaran penting bagi kita. Sering kali kita berbicara tentang pemuda hanya sebagai “masa depan”. Padahal pemuda bukan hanya masa depan.
Pemuda adalah bagian dari masa kini.
Mereka harus diberi ruang untuk belajar, berdiskusi, berorganisasi, berkarya, mengambil tanggung jawab, dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Jangan hanya bertanya: “Pemuda mau menjadi apa?” Tetapi kita juga harus bertanya: “Masyarakat seperti apa yang sedang kita wariskan kepada pemuda?”
Sebab tidak adil apabila kita menuntut generasi muda berkarakter, tetapi mereka tumbuh dalam lingkungan yang miskin keteladanan.
Kita menuntut mereka jujur, tetapi mereka melihat kebohongan dianggap biasa. Kita meminta mereka menghormati orang lain, tetapi mereka menyaksikan penghinaan menjadi budaya komunikasi. Kita meminta mereka mencintai ilmu, tetapi kita justru mengagungkan popularitas tanpa kompetensi.
Maka pendidikan yang paling efektif sesungguhnya bukan hanya apa yang diajarkan melalui kata-kata. Pendidikan yang paling kuat adalah apa yang dicontohkan melalui kehidupan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Hari ini kita juga menghadapi tantangan baru: krisis literasi di tengah banjir informasi. Di ruang digital, setiap orang dapat berbicara. Tetapi tidak setiap orang terbiasa berpikir sebelum berbicara. Setiap orang dapat menyebarkan informasi. Tetapi tidak setiap orang memeriksa kebenarannya. Setiap orang dapat memberikan penilaian. Tetapi tidak setiap orang memahami persoalan secara utuh.
Karena itu, pendidikan kaum muda hari ini harus melampaui kemampuan membaca dan menulis. Kita membutuhkan literasi intelektual, literasi digital, literasi budaya, dan terutama literasi moral.
Pemuda harus diajarkan bukan hanya bagaimana menemukan informasi, tetapi bagaimana menilai informasi. Bukan hanya bagaimana menjadi viral, tetapi bagaimana menjadi bernilai. Bukan hanya bagaimana mendapatkan perhatian, tetapi bagaimana memberikan manfaat. Sebab ukuran kemajuan manusia bukanlah seberapa banyak orang mengenalnya, tetapi seberapa besar kebaikan yang lahir dari kehadirannya.
Allah SWT berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)
Ayat ini mengajarkan kepada kita sebuah etos intelektual yang sangat mendalam: seorang mukmin tidak pernah selesai belajar. Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati dirinya. Semakin tinggi pendidikannya, seharusnya semakin besar tanggung jawab sosialnya. Semakin tinggi kedudukannya, seharusnya semakin besar manfaat yang diberikan kepada sesama.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Karena itu, membangun pemuda bukan hanya pekerjaan sekolah. Bukan hanya tugas universitas. Bukan hanya tanggung jawab orang tua. Dan bukan hanya urusan pemerintah.
Mendidik generasi adalah proyek peradaban yang menjadi tanggung jawab bersama. Orang tua memberikan keteladanan. Guru memberikan ilmu. Masyarakat menyediakan lingkungan. Negara menciptakan ekosistem yang adil bagi pendidikan dan pengembangan pemuda. Dan para pemuda sendiri harus memiliki keberanian untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Jika pendidikan berhasil, kita tidak sekadar mencetak tenaga kerja. Kita mencetak manusia. Jika kebudayaan dijaga, kita tidak sekadar mempertahankan masa lalu. Kita menjaga identitas untuk menghadapi masa depan. Dan jika pemuda diberi ruang untuk berkembang, kita tidak sekadar menyiapkan generasi penerus. Kita sedang menyiapkan arah peradaban.
Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan generasi muda kita sebagai generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, luhur akhlaknya, kokoh identitas budayanya, serta besar kontribusinya bagi umat dan bangsa.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada sebuah kesadaran yang perlu kita tanamkan bersama: masa depan tidak pernah datang dengan sendirinya. Masa depan dibentuk oleh keputusan yang kita ambil hari ini.
Jika hari ini kita menanam ilmu, insyaAllah kita akan memanen kecerdasan. Jika kita menanam akhlak, insyaAllah kita akan memanen keteladanan. Jika kita menanam budaya yang baik, insyaAllah kita akan memanen masyarakat yang memiliki identitas. Dan jika kita memberikan kepercayaan kepada kaum muda, insyaAllah kita akan melahirkan generasi yang mampu memikul tanggung jawab zamannya.
Maka marilah kita mulai dari lingkungan yang paling dekat. Ajarkan anak-anak kita untuk mencintai ilmu. Ajarkan mereka menghormati guru dan orang tua. Ajarkan mereka menggunakan teknologi dengan bijaksana. Ajarkan mereka menghargai perbedaan. Ajarkan mereka mencintai budaya dan lingkungan tempat mereka tumbuh. Dan yang paling penting: jadilah teladan sebelum menuntut mereka menjadi teladan.
Semoga Allah SWT membimbing generasi muda kita menjadi generasi ulul albab: generasi yang menggunakan akal untuk berpikir, hati untuk merasakan, dan iman untuk menentukan arah.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَأَصْلِحْ أَوْلَادَنَا، وَبَارِكْ فِي عِلْمِهِمْ وَأَخْلَاقِهِمْ
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُمْ جِيْلًا صَالِحًا، مُتَعَلِّمًا، مُثَقَّفًا، وَنَافِعًا لِلدِّيْنِ وَالْمُجْتَمَعِ وَالْوَطَنِ
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا، وَاحْفَظْ شَبَابَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالضَّلَالِ، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ
*) Muhammad Hilman Mufidi (Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB)
- Penulis: Muhammad Hilman Mufidi
- Editor: Muhammad Iqbal

Saat ini belum ada komentar